Buku-buku tentang Kehamilan

Ada beberapa buku yang saya baca sebelum dan selama kehamilan, antara lain:

Judul : Cara Baru Mendidik Anak sejak dalam Kandungan (Republish, Hard cover)
Penulis : F. Rene Van de Carr, M.D. dan Marc Lehrer, Ph.D.
Penerbit : Kaifa (Mizan Grup)

Judul : 9 Bulan yang Menakjubkan
Penulis : Tim Ayahbunda
Penerbit : PT. Aspirasi Pemuda

Judul : Panduan Pintar Kehamilan untuk Muslimah
Penulis : Yazid Subakti, S.Si. & Deri Rizki Anggarani, S.Gz.
Penerbit : Qultum Media

Judul : Buku Pintar Kehamilan & Persalinan
Penulis : dr. Suriinah
Penerbit : Gramedia

Judul : Menjaring Pahala Saat Hamil dan Menyusui
Penulis : Irfan Supandi
Penerbit : Pro-U Media

Judul : 100 Info Penting Kehamilan
Penulis : dr. Sintha Utami, SpOG
Penerbit : Dian Rakyat

Buku-buku yang paling sering saya buka dan baca adalah 9 Bulan yang Menakjubkan dan 100 Info Penting Kehamilan. Sebenarnya semua buku tersebut bagus. Namun berhubung kondisi akibat kemalasan dan mudah lelah saat hamil, alhasil hanya kedua buku tersebut yang paling sering saya buka.

9 Bulan yang Menakjubkan
Tampilannya yang menarik, full color, dan tulisannya yang tidak panjang-panjang membuat saya betah buka lagi buka lagi. Dan yang paling penting, isinya sangat informatif.
Layak untuk dimiliki oleh Ibu-ibu yang berencana atau sedang hamil.

100 Info Penting Kehamilan
Walaupun tidak setebal dan seberwarna 9 Bulan yang Menakjubkan, buku ini cukup informatif, singkat dan padat. Kebetulan penulis buku tersebut adalah dokter yang selalu saya kunjungi selama kontrol kehamilan. Disebutkan bahwa pertanyaan-pertanyaan dalam buku itu adalah pertanyaan yang paling sering diungkapkan oleh pasiennya. Sehingga sebagai pasiennya, ketika ada keluhan saya langsung merujuk ke buku itu.

 
“pindahan dari mp 5 Januari 2011”
Advertisements

Arus Balik

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

“Sebuah epos pasca kejayaan Nusantara di awal abad 16”

Untuk menyelesaikan buku setebal 760 halaman dengan 2 halaman hilang tidak tercetak (hal.479 dan 502), dibutuhkan energi ekstra setelah sebelumnya terhenti di halaman 496 dan terlupakan. Alhasil saya harus memulai dari awal lagi. Tapi tak mengapa karena kepuasan yang didapat sebanding dengan usaha.

Setiap kalimat sarat makna. Saya ingin meresapinya.

Pada abad ke enambelas Masehi Galeng dan Idayu adalah sepasang kekasih yang berasal dari desa Awis Krambil, tahun itu harus mewakili desanya untuk mengikuti Pesta Lomba Seni dan Olah Raga. Berbagai macam pikiran berkelebat dalam dada dan pikiran mereka, apa yang akan terjadi setelah perlombaan ini. Bahkan seluruh rakyat Tuban pun turut berempati.

Galeng dinobatkan menjadi juara gulat untuk tahun itu. Setelah dua puluh tahun, muncul juara tari tiga kali berturut-turut yaitu Idayu. Dan atas “kemurahan” Sang Adipati Tuban, maka dikawinkanlah Idayu dan Galeng. Sorak sorai membahana di bumi Tuban.

Pesta pernikahan digelar. Tandu berjalan perlahan turun ke jalanan alun-alun. Sejoli pengantin duduk di atas tandu tersebut dalam sikap resmi, seperti sepasang arca batu. Busana yang dikenakan layaknya pasangan pengantin kerajaan. Gadis-gadis dan pemuda-pemuda bersesakkan untuk dapat menghampiri pengantin, mereka tak dapat menahan godaan untuk menyentuh Sang Kamaratih dan Kamajaya untuk mendapat berkahnya.

Sorak sorai semakin gegap-gempita. Gamelan terus bertalu. Dan para penari terus melengggak-lenggok sepanjang jalan.

Suasana pesta berubah menjadi menakutkan setelah setelah pengantin kekasih Kamajaya dan Kamaratih terguling dari kedudukannya. Galeng dan Idayu menolak untuk kembali ke tandu. Pengantin itu berjalan bergandengan.

Kehidupan Galeng dan Idayu yang sesungguhnya dimulai. Cerita tentang anak desa yang mengemban cita-cita menahan arus balik dimulai. Pasangan ini sangat terpengaruh oleh wejangan-wejangan Rama Cluring yang dianggap sebagai guru spiritualnya.

Galeng harus mengorbankan kehidupan pribadi demi menahan arus dari utara dengan Idayu yang selalu setia menunggui suaminya untuk kembali ke rumah.

“Telah aku baktikan masa mudaku dan tenagaku dan kesetiaanku. Biarpun hanya secauk pasir untuk ikut membendung arus balik dari utara…”
(hal. 748)

Banyak adegan-adegan pertempuran dideskripsikan dalam buku ini, terasa aroma sadisme. Tetapi mungkin memang demikian adanya peperangan pada jamannya.

Dalam buku ini juga diceritakan situasi awal-awal Islam masuk ke tanah Jawa. Islam berasimilasi dengan budaya Jawa. Bagaimana masyarakat Jawa juga harus beradaptasi dengan masuknya Islam dan dengan agama-agama yang telah ada sebelumnya. Nuansa Jawa sangat kental dalam cerita ini dengan berbagai perwatakannya.

Dan Arus balik merupakan sebuah cerita masa pasca kejayaan Majapahit.

“…Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini. Kapal-kapalnya, muatannya, manusianya, amal dan perbuatannya, cita-citanya – semua, itulah arus selatan ke utara. Segala- galanya datang dari selatan. Majapahit jatuh. Sekarang orang tidak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal kita makin lama makin kecil seperti kerajaannya. Karena, ya, kapal besar hanya bisa dibikin oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan kerajaan kecil menyebabkan arus tidak tidak bergerak ke utara, sebaliknya, dari utara sekarang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, membawa segala-galanya ke Jawa, termasuk penghancuran, penindasan dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita akan semakin kecil untuk kemudian tidak mempunyai sama sekali.”

 
“pindahan dari mp 23 Desember 2008”

Tanah Air Bahasa

Penulis : Taufik Rahzan, et. al

Seratus Jejak Pers Indonesia

Dipersembahkan
Secara khusus untuk memperingati hari ulang tahun
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke 62
(9 Februari 1946 – 9 Februari 2008)

Buku ini yang menggambarkan secara umum sepak terjang perjuangan 100 tokoh jurnalistik nasional. Bagaimana merintis sebuah koran, tabloid, atau majalah dengan segala resiko yang harus ditanggung dan dengan daya upaya sepenuh jiwa dan raga.

Dalam buku ini juga diceritakan sekelumit perseteruan antar 100 tokoh tersebut yang masing-masing memperjuangkan idealismenya.

Ternyata banyak juga tokoh yang sebelumnya tidak saya kenal. Walau demikian semangat dan perjuangan para tokoh tersebut bisa menjadi stimulan buat saya lebih bersemangat untuk berusaha menggapai target-target saya. Bukan target-target yang luar biasa memang, hanya hal-hal kecil yang menurut saya cukup penting.

Buku ini diawali oleh sosok Tirto Adhi Soerjo yang sangat termasyhur dengan Medan Prijaji. Tirto Adhi Soerjo disebut-sebut sebagai, “seorang journalist Jawa paling tua” oleh Marco Kartodikromo, “pelopor kaum wartawan Indonesia” oleh Soebagijo IN, dan berbagai julukan lain yang disematkan kepada beliau. Beliau lah seorang sosok yang sangat menginspirasi jurnalis-jurnalis nusantara.

Saya terkesan dengan tokoh Bambang Ismawan dengan Trubusnya. Tapi sekaligus timbul pertanyaan di benak saya, “Apakah Indonesia masih merupakan Negara agraris…??”
Saya masih belum paham. Walaupun hamparan sawah yang luas masih sering saya temui di nusantara terutama di pulau Jawa, tetapi saya masih sering mendengar berita Indonesia import beras, gula, kedelai, dsb.

Tapi yang pasti saya sangat salut dengan peran-peran tokoh-tokoh tersebut, dengan pemikiran dan daya juang yang luar biasa memberikan kontribusinya kepada tanah air kita

Kontribusi apa yang telah saya berikan kepada tanah air?
Jawabnya, Belum ada.

 
“pindahan dari mp 13 Oktober 2008:

100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta

Oleh : Benny & Mice

Buku ini sudah pernah dibahas di acara KickAndy dan kebetulan saya tidak menyaksikan acara tersebut… !! 😦

Saya baru saja menyelesaikan membaca atau mencoba mencermati gambar-gambar yang ada dalam buku tersebut. Banyak tokoh yang dengan mudah kita temui di sekitar kita. Namun ada sisi lain dari si Tokoh tersebut yang sebelumnya tidak terpikir oleh saya tetapi dinyatakan di buku tersebut.

100 Tokoh tersebut tidaklah cukup untuk menggambarkan keseluruhan orang-orang Jakarta.

Dan saya adalah salah satu tipikal orang yang tidak ada dalam buku tersebut.
Apakah saya tidak cukup mewarnai Jakarta…?? Hehe

Dengan membaca buku ini membuat saya mencoba menganalisis orang sekitar saya, kira-kira mana yang ada dalam buku tersebut dan mana yang tidak ada dalam buku tersebut. 😀

 
“pindahan dari mp  13 Juli 2008”

Nyai Dasima

Dalam buku ini ada dua versi Dasima yaitu dalam Nyai Dasima oleh S.M. Ardan dan Tjerita Njai Dasima oleh G. Francis. Dari judul sudah dapat terlihat perbedaan penggunaan ejaan yang digunakan dalam kedua cerita Dasima.

Hampir semua tokoh yang ada pada kedua cerita tersebut sama, namun karakter masing-masing tokoh ada yang agak berbeda dan ada yang sangat berbeda atau bertolak belakang.

Dengan setting yang sama namun jalan cerita berbeda. Bagaimana kisah Dasima yang telah menjadi Nyai atau gundik seorang Tuan W (Toean W) dan berputri seorang Nancy (Nanci) sehingga menjadi istri kedua Samiun (Samioen) yang telah beristri Hayati (Hajati).

Dan dalang pembunuhan Dasima pun berbeda…!!

Tanpa mencoba untuk berpihak, saya lebih menikmati cerita Nyai Dasima oleh S.M. Ardan. Ceritanya terasa lebih hidup.

 
 
“pindahan dari mp 23 Januari 2008”

Di Batas Angin

Penulis : Yanusa Nugroho

Kisah kakak-beradik Sumantri dan Sokrasana dipaparkan dengan sangat menarik dalam buku ini. Sumantri adalah pemuda yang sangat menggemari olah kanuragan. Lengan-lengannya perkasa, dadanya bidang dan sangat pantas merentangkan busur panah. Tombak, pedang, gada besi, keris dan terutama panah, tunduk di bawah kekuasaan tangannya. Sokrasana berperawakan kecil, kerdil, bagai kanak-kanak yang baru belajar menapak tanah, seakan tak sanggup menyangga kepalanya yang nyaris dua kali besar dari tubuhnya.

Sokrasana begitu mencintai kakaknya. Dia tahu apa yang membuat kakaknya bahagia atau duka. Sumantri menyayangi adiknya. Kemana pun dia pergi, Sokrasana sering kali muncul dalam benaknya.

Sumantri pergi ke Kerajaan Maespati tanpa sepatah kata perpisahan kepada adikknya. Menurut Sumantri hanya dengan mengabdi kepada raja Maespati, hidupnya akan jauh lebih berarti dan akan mengenal semesta raya. Dan persawahan yang membentang luas, persahabatan dengan orang-orang desa di sekitar rumahnya tidak memberi arti apa-apa baginya.

“… Bukankah semesta raya ini ada dalam diri kita, Kakang Mantri?…”, Sokrasana berkata.

 
“pindahan dari mp 19 Januari 2008”

Membunuh Orang Gila

Penulis : Sapardi Djoko Damono
 
Kumpulan Cerpen Sapardi Djoko Damono yang terdiri dari :1. Dongeng Kancil
2. Batu di Pekarangan Rumah
3. Bingkisan Lebaran
4. Dalam Lift
5. Ditunggu Dogot
6. Hikayat Ken Arok
7. Jalan Lurus
8. Ketika Gerimis Jatuh
9. Membaca Konsultasi Psikologi
10. Membimbing Anak Buta
11. Membunuh Orang Gila
12. Ratapan Anak Tiri
13. Rumah-rumah
14. Sarang Angin
15. Sepasang Sepatu Tua
16. Suatu Hari di Bulan Desember 2002
17. Tembang Zaman
18. Testamen
 
Membaca cerpen-cerpen tersebut membuat saya menerawang, mengkhayal, dan mencoba meresapi setiap kisah. Terkadang saya benar-benar berhenti membaca dan mencoba masuk ke dalam cerita tersebut, mencoba menjadi lakonnya.Membaca cerpen-cerpen tersebut seperti membaca puisi yang panjang. Kata-kata yang digunakan puitis dan sarat dengan analogi membuat saya harus berpikir mencoba menyelami setiap kata.Mmm… Saya begitu suka dengan puisi-puisi beliau.
Ini salah satunya… :-)hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin ku pandang, yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi

 
“pindahan dari mp 19 Januari 2008”