Home » buku » Bumi Manusia

Bumi Manusia

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Buku bagian pertama Tetralogi Pulau Buru.Pada buku ini saya mulai berkenalan dengan tokoh Minke. Minke sebagai tokoh utama digambarkan sebagai seorang yang masih belia. Terkadang saya gregetan dengan sikap Minke yang begitu banyak pertimbangan atau lambat dalam memutuskan sesuatu. Tetapi mungkin begitulah tipikal orang Jawa. Minke yang mudah mengobral rayuan. Minke yang terlalu mengagung-agungkan bangsa Eropa. Namun saya salut dengan karakter Minke yang siap menanggung segala resiko atas apa yang telah ia putuskan dan jalankan.

Orang-orang yang sangat mempengaruhi Minke adalah Annelies, Nyai Ontosoroh, Bunda, Jean Marais, Dokter Martinet.

Annelies Mallema, begitu rapuh dalam kecantikannya. Berayahkan seorang Belanda dan beribukan seorang pribumi. Namun ia merasa lebih pribumi.
Nyai Ontosoroh, seorang yang punya daya juang yang hebat. Dalam dirinya terdapat dendam yang memaksa dia untuk sanggup berdiri di kaki sendiri.
Bunda, dengan kata-kata lembutnya namun tajam yang selalu mengingatkan Minke atas kejawaannya.
Jean Marais, seorang pelukis Perancis yang kata-katanya selalu terngiang di telinga Minke., “harus adil sejak dalam pikiran”
Dokter Martinet, seorang dokter keluarga Mallema yang selalu membius Annelies dengan alasan agar Annelies tidak terguncang. Dokter Martinet seperti seorang peramal yang bisa menebak apa yang telah terjadi. Bisa menganalisis apa yang dirasakan oleh Minke.

Beberapa bagian yang ingin saya kenang dari buku ini adalah.

Perkataan Dokter Martinet
Dalam menghadapi suatu masalah, kita sebagai manusia harus berani dan belajar berani memandang diri sendiri sebagai orang ketiga. Di sini dijelaskan sebagai orang pertama, kita berpikir, merancang, memberikan komando. Sebagai orang kedua, kita sebagai penimbang, pembangkang, penolak dan sebaliknya bisa juga sebagai pembenar dan penyambut. Sedangkan orang ketiga adalah kita sebagai orang lain, sebagai soal.

Kalimat Dokter Martinet:
“ Sapi-sapi perah Nyai dalam mempersiapkan diri jadi sapi perah, sapi penuh, sapi dewasa, membutuhkan waktu hanya tiga sampai empat belas bulan. Bulan! Manusia membutuhkan waktu belasan, malah puluhan tahun, untuk jadi dewasa, manusia dalam puncak nilai dan kemampuannya. Ada yang tidak pernah dewasa memang, hidup hanya dari pemberian seseorang atau masyarakatnya: orang-orang gila dan kriminil. Mantap-tidaknya kedewasaan dan nilai tergantung pada besar-kecilnya dan banyak-sedikitnya ujian, cobaan-si kriminil dam si gila itu-tidak pernah dewasa. Dan sapi hanya tiga atau empat belas bulan persiapan-tanpa cobaan, tanpa ujian…”

Bunda yang mengingatkan akan lima syarat yang ada pada satria Jawa.
1. Wisma (rumah), bukan sekedar alamat, tetapi juga tempat kepercayaan sesama.
2. Wanita, tanpa wanita satria menyalahi kodrat sebagai laki-laki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan.
3. Turangga (kuda), alat yang membawa satria ke mana-mana: ilmu, pengetahuan, kemampuan, keterampilan kebisaan, keahlian, dan akhirnya-kemajuan.
4. Kukila (burung), lambang keindahan, kelangenan (hobby), segala yang tak punya hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin pribadi.
5. Curiga (keris), lambang kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan, alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya.

Seruan Nyai yang sangat populer:
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

 
 
“pindahan dari mp 31 Desember 2007”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s