Home » buku » Jejak Langkah

Jejak Langkah

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Buku bagian ketiga Tetralogi Pulau Buru.Minke yang memasuki sekolah kedokteran dihadapkan pada pilihan untuk menjadi dokter atau idealismenya. Minke yang menjadi manusia modern, yang telah membebaskan semua dekorasi dari tubuh, dari pandangan.Dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim piatu, dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya.

Minke teringat kata Bunda, dan orang harus punya sahabat. Persahabatan lebih kuat daripada panasnya permusuhan. Ter Haar telah membuktikan diri sebagai sebagai seorang liberal yang tidak mengabdi pada gula, hanya pada kemanusiaan.

Bersama dengan Ang San Mei, Minke menemui Gadis Jepara. Ang San Mei dan Gadis Jepara berbicara dan berbicara. Minke menterjemahkan dan menterjemahkan.
“Bagaimanakah permulaan dari permulaan kalau bukan dari pendidikan dan pengajaran? Jadi guru dan murid sekaligus. Mengasihi dan dikasihi. Dikasihi dan mengasihi. Bahwa semua adalah hasil pergulatan. Dan tidak selamanya sebentar. Bahasa kasih sayang tradisional yang tidak diarahkan pada masa datang yang lebih pelik dan beragam adalah juga kekeliruan yang harus dibetulkan. Untuk membetulkan kasih sayang pun dibutuhkan pergulatan, keberanian, dan ketepatan tindak. Di mana pun ada kasih-sayang, juga di antara hewan. Tanpa kasih-sayang, apakah orang dapat menanggungkan hidup?”

Minke yang tergugah perjuangan di jaman modern membutuhkan cara yang modern pula: berorganisasi. Dalam keterbatasannya dia bertekad akan memulai.

Minke berseru-seru dan memperingatkan diri sendiri. Jangan kehilangan keseimbangan! Di balik setiap kehormatan mengintip kebinasaan. Dibalik hidup adalah maut. Dibalik kebesaran adalah kehancuran. Dibalik persatuan adalah perpecahan. Di balik sembah adalah umpat. Maka jalan keselamatan adalah jalan tengah. Jangan terima kehormatan atau kebinasaan sepenuhnya. Jalan tengah-jalan kea rah kelestarian.
Dan organisasi ini harus dapat menciptakan landasan baru buat perkembangan selanjutnya. Bukan tujuan, hanya sekedar alat. Dia bukan titik akhir. Dia titik mula.

Babak baru ini dengan jelas ditandai oleh peranan koran yang memimpin pikiran masyarakat pembacanya. Organisasi itu sendiri dapat tidak kelihatan oleh umum. Bila koran harus terdesak dan lenyap dari muka bumi, kepemimpinan organisasinya juga akan lenyap.
‘Medan’ harus hidup dan tinggal hidup. Belum ada koran lain yang mampu memimpin pribumi.

Akhir dari satu keraguan, orang akan menjadi kurban daripadanya. Kalau orang toh jadi kurban, jadilah setelah menaklukkan keraguan sendiri.

“pindahan dari mp 31 Desember 2007”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s