Home » buku » Rumah Kaca

Rumah Kaca

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Buku bagian keempat Tetralogi Pulau Buru.Penceritaan beralih dari Minke kepada seorang akhivaris atau juru arsip bernama Jacques Pangemanann, dengan dua n. Minke menjadi guru sekaligus musuh bagi Pangemanann.

Pekerjaan Pangemanann tak lain terus mengawasi ketat sebangsa demi keselamatan dan kelangsungan hidup Gubermen. Semua Pribumi-terutama Pitung-Pitung Modern yang mengusik kenyamanan Gubermen-semua telah dan akan ditempatkan dalam sebuah rumah kaca dan diletakkan di meja kerjanya. Segalanya menjadi jelas terlihat. Itulah pekerjaan Pangemanann: mengawasi semua gerak-gerik seisi rumah kaca itu.

Berikut adalah pengamatan dan penelitian Pangemanann dengan dua n.

Seorang terpelajar Pribumi, bukan saja dipengaruhi, malah jadi pengagum revolusi Tiongkok, seorang Raden Mas, Siswa STOVIA, sekolah dokter Jawa. Dia membentuk organisasi dengan cara-cara bukan Eropa dan kelihatannya menggunakan acuan kaum nasionalis Tionghoa. Dia gandrung menggunakan senjata ampuh golongan lemah terhadap golongan kuat yang bernama boycott. Ia berkhayal mempersatukan bangsa-bangsa Hindia di Hindia dan di perantauan, di kawasan selatan Asia dan Afrika, sebagaimana Sun Yat Sen telah melakukan dengan bangsanya. Ia bercita-cita membangun nasionalisme Hindia dengan cara-cara yang oleh bangsa-bangsa Pribumi Hindia dapat dimengerti. Semua itu dapat dipelajari dari tajuk-tajuknya dalam Medan, suratkabar yang dipimpinnya sendiri, sekalipun jarang sekali dia secara langsung menyebut-nyebut Tionghoa dan Tiongkok.

Koran dan majalah-majalah telah melahirkan semangat demokratis tanpa semau Gubermen. Memang Gubermen bisa berdiam diri dan pura-pura tidak tahu, tetapi dengan diam-diam pula tetap merasa dirongrong oleh segala apa yang dilontarkan melalui tulisan tercetak itu. Wajah Hindia memang mulai berubah dengan makin banyaknya percetakan dan Pribumi yang bisa baca-tulis. Dan dalam hal ini , nama yang satu punya saham tidak kecil, malahan saham prioritas. Ya, dia! Memang itu orangnya: Minke.

Dari semua kegiatan Pribumi itu, ternyata yang dianggap mahkota kegiatan adalah jurnalistik. Dan barang tentu bukan seperti jurnalistik sebagaimana dikenal oleh Eropa, tapi menulis di Koran atau majalah dengan nama terpampang, baik nama benar, nama pena atau inisial. Gejala baru ini langsung berasal dari Raden Mas Minke. Ia pernah mengatakan pada salah seorang temannya: orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Ucapan lain dari si Gadis Jepara: menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan jurnalistik gaya Hindia merupakan perpaduan alamiah dari gerakan Pribumi untuk kepemimpinan dan keabadian.

Betapa dahsyat kekuatan tulisan…!!

 
 
“pindahan dari mp 31 Desember 2007”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s