Home » buku » The Class

The Class

Atas rekomendasi seorang teman, saya berusaha untuk mendapatkan The Class – Erich Seagal. Beberapa tahun yang lalu The Class tidak dapat terlihat di rak-rak toko buku di Jakarta. Dan saya pun berusaha untuk mencari di toko buku bekas. Namun tidak juga saya mendapatkannya. Syukurlah beberapa bulan yang lalu The Class dicetak ulang. Dengan diskon 15%, The Class berhasil saya bawa pulang.Buku ini menceritakan kisah perjalanan mahasiswa Universitas Harvard kelas 1958.
Dari mereka memulai kehidupan di Harvard sampai dengan setelah dua puluh lima tahun berlalu mereka bertemu dalam sebuah acara reuni.

Daniel Rossi, seorang yang memendam ambisi besar untuk menyenangkan hati ayahnya namun tidak pernah berhasil. Dia selalu diremehkan hingga suatu saat dia menjadi pemusik terkenal yang selalu dielu-elukan penonton.

Jason Gilbert, seorang yang tampan, pirang, dan jangkung menjadi daya tarik bagi kaum wanita dan dikagumi kaum pria. Terlahir sebagai Yahudi dianggap sebagai cacat memilukan yang merupakan warisan leluhur.

Ted Lambros, seorang pelaju yang juga harus membantu keluarganya untuk mengelola sebuah restoran. Dengan ambisinya akhirnya dia dapat mencapai cita-citanya untuk menjadi dekan.

George Keller, seorang yang harus melupakan dan mengubur masa lalunya sebagai bangsa Hongaria. Mencapai puncak karir sebagai kandidat menteri luar negeri.

Andrew Elliot, seorang yang merasa tidak mempunyai sesuatu yang bisa dibanggakan membuat dia merasa rendah diri. Dalam pengabdiannya menghimpun dana Universitas, dia belajar memahami hidup dan kehidupan.

Beberapa mahasiswa yang tidak sempat menyelesaikan kuliah di Harvard karena harus menjalani hidup di Rumah Sakit Jiwa akibat tidak cukup kuat menerima tekanan kehidupan di Harvard.

Betapa mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah keberhasilan. Dan untuk mencapainya dibutuhkan suatu pengorbanan yang sangat besar.

Buku ini memberikan gambaran sebagian perjalanan yang ditempuh oleh pemuda-pemuda pada masanya dalam bidang politik, kesenian, kehidupan intelektual, atau perjalanan-perjalanan pencarian diri.

Penuh dengan kisah-kisah menarik yang membuat saya dapat membayangkan kehidupan di dunia Harvard yang penuh dengan ambisi, tawa, gairah, dan tragedi. Dan membuat saya lebih tersadar akan konsekuensi sebuah kesuksesan.

Pada akhir kisah dipaparkan bahwa ada yang tidak diajarkan oleh Harvard yaitu bagaimana caranya merasa bahagia.

 
“pindahan mp 22 November 2007”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s