Membuat “Play Doh” di Rumah

Sebelumnya saya sudah wara wiri googling cari cara membuat “play doh” yang katanya mudah itu. Tapi saya masih enggan mencoba, karena masih terasa ribet menurut saya. Nah pada tanggal 27 April 2013, ada acara Family Day @Ciao Bimbi Day Care dan saya sempat main-main “play doh” di sana. Saya cium “play doh” tersebut, ternyata bau tepung…!! Saya tanya ke Ms. Dyah (salah satu teacher di Ciao Bimbi, red), “ini Ms. Dyah yang bikin ya?”. “Iya”, kata Ms. Dyah. Langsung semangat saya tanya “how to” nya. “Gampang”, katanya. “Setengah kilo terigu ditambah 1 sendok makan garam dan 2 sendok makan minyak goreng. Dan untuk pewarnanya bisa pake pewarna makanan. Terigu dan garam dicampur dulu trus ditambah minyak trus diuleni sampe kalis deh”.

Waahhh… ternyata mudah yaa…

Sampai di rumah, kami langsung beli tepung terigu dan pewarna makanan. Berhubung di warung dekat rumah hanya ada warna hijau dan merah, jadilah kami bereksperimen dengan kedua warna tersebut. Faiz pun bisa ikut bergabung membuat “play doh”, bahan-bahannya aman semua.

Dan inilah hasil “play doh” karya kami. Ada sedikit catatan, berhubung dengan 2 sendok makan minyak goreng belum bisa kalis jadi minyak goreng kami tambahkan lagi antara 1-2 sendok lagi. Dan jangan lupa untuk selalu menyimpan “play doh” nya di dalam tempat kedap udara agar tidak kaku dan keras.

Kapan-kapan mau coba lagi dengan warna lain…!!

Play Doh

“play doh” hasil karya kami

Advertisements

Mencicipi Rasa di Megaria

Dengan berpegang pada informasi bahwa jam buka rumah makan Pondol di Megaria, maka kami berangkat dari rumah sekitar jam 10 pagi. Kendaraan kami parkir di stasiun Lenteng Agung dan kami melanjutkan perjalanan dengan kereta commuter line. Tak lama setelah membeli tiket, kereta pun datang. Kami turun di stasiun Cikini dan berjalan menuju Megaria (Metropole).

Suasananya sungguh jauh berbeda dibandingkan ketika saya datang terakhir. Terakhir saya ke sana (sekitar tahun 1999), jalan-jalan dan lapangan parkir masih berupa tanah dan batu-batu. Kini, Jalan-jalan dan lapangan parkirnya rapi dengan conblock.

Jam 11 kurang, kami sudah tiba di Megaria. Sambil menunggu jam 11, kami duduk-duduk di depan Bioskop yang belum buka sambil melihat lalu lalang kereta dari kejauhan. Sambil sesekali kami “thawaf” di kompleks Megaria.

Menanti

Menanti

Sudah jam 11 lewat, belum ada tanda-tanda rumah makan buka. Akhirnya saya tanya ke Pak Sekuriti yang bertugas. “Pak, Pondol buka gak ya hari ini?”, tanya saya. “Buka, tapi nanti jam 12. Ibu datengnya kepagian”, jawab Pak Sekuriti. Wakwaw… Ayah langsung deh berkomentar, “tuh kan udah dibilangin…”. “Ya maaf Ayah, kan gak mau kesiangan ceritanya”.

Setelah dapat informasi kalau Pondol baru buka jam 12, kami harus segera ambil keputusan. Tetap menunggu atau mencari tempat lain. Akhirnya kami sepakat untuk menunggu Pondol buka sambil makan di rumah makan Ayam Bakar. Menu yang kami cicipi adalah ayam bakar, siomay dan es teller. Konon katanya dan tertulis juga di spanduk rumah makan tersebut bahwa es teller di situ adalah pertama di Indonesia. Es teller nya lumayan. Ayam bakar & siomay nya tidak terlalu istimewa.

Selesai makan di Ayam Bakar, adzan Dzuhur berkumandang. Biar lebih nikmat, mampir dulu kami ke mushola.

Setelah dari mushola, akhirnya rumah makan Pondol itu buka juga. Langsung kami menyerbu ke sana. Pesanan kami es cendol, es gempol Plered, es roti tape, jus strawberry, the Botol, sate Ambal, sate Wates, dan tahu pong Semarang. Oiya, pasukan kami adalah dewasa 3 orang dengan batita 1 orang.

Rasa es cendolnya mantap, cendolnya terasa ringan di lidah dan rasa gula merahnya pas. Rasanya memang beda dengan es cendol yang pernah saya beli. Minuman yang lain pun enak. Tapi es cendol tetap meninggalkan rasa yang paling enak di lidah.

Es Cendol

Es Cendol

Yang khas dari sate Ambal adalah bumbu kacangnya dari kedelai alias tempe. Bumbu sate ambal di Pondol ini juga terasa ringan, tapi tetap enak.

Sate Ambal

Sate Ambal

Yang membedakan sate Ambal dan sate Wates adalah bumbunya saya rasa. Sedangkan ayam yang dibakar sama saja. Sate Wates ternyata adalah sate ayam dengan kuah santan kuning, ditambah tahu dan lontong.

Sate Wates

Sate Wates

Salah satu menu yang selain dari sate-satean adalah tahu pong Semarang. Tadinya di bayangan saya adalah tahu goreng kosong di dalam, sehingga renyah rasanya. Tetapi yang datang adalah tahu goreng, gimbal udang, dan telur rebus goreng plus bumbu kecap yang rasanya aneh di lidah saya. Seperti rasa terasi mentah yang mampir di lidah saya.

Tahu Pong

Tahu Pong Semarang

Setelah selesai makan di rumah makan Pondol, maksud hati ingin beli mpek-mpek. Namun apa daya, uang di dompet sudah hampir bersih. Semoga ada lain kali untuk menyicipi mpek-mpek yang katanya paling enak se-Jakarta.

Jakarta, 13 April 2013

Mengunjungi Pakde di Pagar Alam

Butuh waktu 24 jam untuk mencapai rumah Pakde dari terminal bus Kalideres, Jakarta Barat. Kami sengaja naik bus supaya praktis. Praktis di sini maksudnya, kami tidak perlu berganti-ganti angkutan. Perbandingannya begini: jika kami naik pesawat, kami harus ke Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta), dari Bandara Soekarno-Hatta terbang ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), dan dari Palembang kami masih harus menempuh pejalanan 7 jam lagi untuk sampai Pagar Alam. “Repot…”, begitu menurut Bapak saya. Saya nurut saja karena status saya saat itu sebagai pengawal Bapak, ups… menemani Bapak.

30 Juli 2008

Bus Lantra Jaya bergerak perlahan meninggalkan terminal Kalideres. Sampai di Merak, bus kami harus mengantri untuk mendapat giliran masuk kapal. Perjalalan di laut dimulai sampai kami tiba di Bakauheni, Lampung.

001. Menjauh dari Pulau Jawa

Menjauh dari pulau Jawa

003. Menuju Pulau Sumatera

Menuju pulau Sumatra

Perjalanan berlanjut dengan jalan darat. Setiap 8 jam, bis berhenti. Penumpang dapat turun dari bis untuk makan, sholat atau sekedar meluruskan kaki.

31 Juli 2008

Saya pikir ketika sudah sampai Lahat, berarti sebentar lagi sampai Pagar Alam. Ternyata masih butuh perjuangan bagi bis untuk menanjak, jalan berliku dan di kiri kanan adalah jurang. Ada satu tikungan menanjak ketika untuk melaluinya bis tersebut tidak bisa sekali belok. Wow..!!  

Akhirnya sampai juga saya di Pagar Alam, di rumah Pakde dengan disambut dengan hujan lokal yang turun hanya di seperti terlihat segaris putih.

004. Hujan Lokal

Hujan lokal

Setelah beristirahat saya diajak untuk mengunjungi rumah anak-anak Pakde yang lokasinya tak jauh dari rumah Pakde.

Bagaimana Pakde saya ini bisa sampai ke Pagar Alam, konon katanya Pakde saya ini berangkat sendiri (atau bersama teman-teman) ke sana sekitar tahun 1964. Tadinya saya pikir, Pakde ini ikut program transmigrasi. Ternyata bukan.

1 Agustus 2008

Hari ini saatnya “piknik” di Pagar Alam.

Pagi-pagi kami berangkat ke lokasi yang dekat-dekat rumah Pakde. Sawah dan banyak arca ditemui, juga pohon kopi.

008. Sawah

Sawah di kaki gunung Dempo

009. Sumur Batu

Sumur Batu

010. Arca Manusia Purba

Arca manusia purba

Menjelang siang, kami diajak Pakde mengunjungi kebun teh yang berlokasi di sekitar Vila ex-MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran).

017. Perkebunan Teh Gunung Dempo

Kebun Teh

019. Sekeluarga

Saudara-saudara plus Bapak

2 Agustus 2008

Saatnya kembali ke Jakarta dengan waktu tempuh sama dengan saat berangkat, 24 jam juga. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mengunjungi Pakde di Pagar Alam. Ini pertama kalinya buat saya dan Bapak. Entah kapan lagi kami bisa berkunjung ke sana.

(Pengen) Ke Jepang sebagai Turis

Hampir semua orang tahu bahwa Jepang adalah salah satu negara dengan biaya hidup tinggi. Jalan-jalan ke Jepang sebagai turis masih jadi cita-cita buat saya. Walau sudah pernah menjejakkan kaki di negeri Sakura, tapi seperti ada magnet yang menarik saya untuk datang ke sana lagi. Terlebih karena rasa penasaran saya yang besar terhadap Osaka & Kyoto.

Sekitar Maret 2009, saya hampir pergi ke Kyoto. Tiket (kereta) & penginapan sudah di tangan, itinerary pun sudah disiapkan dengan detil. Tapi apa daya, pada hari keberangkatan ke Kyoto, saya harus kembali ke Tanah Air. Masa tugas saya di Yokohama selesai dengan tiba-tiba dikarenakan ada krisis. Andai kepulangan saya ke Tanah Air bisa dimundurkan seminggu, saya sudah tidak penasaran lagi dengan Kyoto. Tapi mungkin saya akan penasaran dengan Hiroshima & Nagasaki. haha

006. JGC di Queens Tower A

Jakarta, 12 April 2013

Pesona Gajah Mungkur

Selepas sholat Ashar, kami melaju ke Waduk Gajah Mungkur dengan Yamaha L2 Super yang dipinjam dari mertua. Segarnya pemandangan kiri kanan sepanjang perjalanan.

IMG_0645

Kira-kira setengah perjalanan, kami mampir di warung untuk sekedar menikmati es kelapa muda, bakso, dan tentu saja pemandangan Gajah Mungkur dari atas. (note: perjalanan dimulai dari Nguter, Sukoharjo).

IMG_0650

Waduk Gajah Mungkur berlokasi di Wonogiri, Jawa Tengah. Waduk ini dibuat dengan membendung sungai Bengawan Solo. Senang rasanya berlama-lama di sini. Namun senja mulai menjelang dan kami harus kembali ke rumah (mertua).

IMG_0664

IMG_0672

September 2009

Bukan masa-masa yang mudah

Ternyata menyapih anak bukanlah perkara mudah. Sejak Faiz berumur 1.5tahun, kami mulai berusaha untuk menyapih. Bukan tidak ingin memberikan asi sampai usia 2 tahun tetapi lebih karena produksi asi itu sendiri sudah sangat sedikit. Pertama kali dicoba sisapih ketika saya harus dikuret. Dua malam Faiz pisah tidur dan selama dua malam tiga hari itu juga Faiz tidak nenen. Tetapi setelah malam ketiga, kami tidur bersama dan ternyata Faiz masih teringat dengan nenennya. Saya berusaha memberi pengertian, kalau saya sakit dan Faiz sudah gak perlu nenen lagi. Tapi rengekan dan tangisannya membuat saya tidak tega, akhirnya saya menyerah memberikan nenen ke Faiz. Usaha untuk menyapih terus dilancarkan. Kami selalu mensosialisaikan kalau Faiz udah gak usah nenen lagi, Faiz bukan bayi lagi. Tetap tidak sedikitpun Faiz berusaha untuk tidak nenen atau mengurangi frekuensinya.

Menjelang usia 2 tahun, saya terus membujuk Faiz untuk berhenti nenen. “Faiz, klo udah dibikinin nasi tumpeng berarti udah gak nenen lagi ya”. Saat itu Faiz hanya bilang, “iya”. Tapi nyatanya saya masih gagal menyapih Faiz.

Tadinya saya enggan untuk menyapih dengan cara mengoleskan sesuatu. Tapi akhirnya saya menyerah juga dan mencoba cara tersebut. Saya mencoba mengoleskan kunyit. Ternyata Faiz bilang enak…!! Berikutnya dicoba brotowali. Menurut Faiz asem…!! Dan nenen pun tetap berlanjut.

Ayah terus mengingatkan saya, Faiz sudah 2 tahun dan sudah harus disapih. Hempphh… Walaupun saya sudah selalu berusaha persuasif tetapi proses menyapih belum kunjung membuahkan hasil.

2 tahun 4 bulan usia Faiz. Tanpa kata-kata, kami sepakat untuk menyapih Faiz. Malam panjang mulai kami lalui. Faiz tidur tidak nyenyak, sebentar-sebentar merengek. Keteguhan hati saya diuji. Dengan dukungan Ayah, saya harus berusaha untuk tetap konsisten. Siang hari ketika Faiz teringat akan sesuatu yang “hilang”, badannya akan anget. Tetapi jika perhatiannya dialihkan dengan diajak bermain, seketika angetnya lenyap.

Sudah 4 hari 3 malam, semoga kami bisa melewati masa-masa tidak mudah dengan segera. “Kita sama-sama berjuang, Nak. Kita bisa…”

Jakarta, 9 April 2013

Sunyaragi yang terbengkalai

Terbesit ingin mengunjungi Taman Sari Gua Sunyaragi hanya karena ingin membandingkan Taman Sari di Cirebon dan Taman Sari di Jogjakarta. Dari pusat kota Cirebon, kami harus bertanya berkali-kali untuk mendapatkan informasi angkot mana yang melewati Sunyaragi. Terbukti bahwa Sunyaragi tidak cukup tersohor di bumi Cirebon.

Turun dari angkot kami mencari pintu masuk, karena tidak terlihat tanda-tanda pintu masuk gua dan tidak ada informasi petunjuk arah menuju pintu masuk. Di depan loket masuk, kami melihat petugas menghardik serombongan anak-anak dengan usia sekitar 9-10 tahun karena mereka lompat pagar kompleks gua Sunyaragi. Dengan harga tiket 8 ribu rupiah per orang, kami bisa mengelilingi kompleks gua Sunyaragi tanpa pemandu.

Beberapa anak dan sebagian masih mengenakan seragam sekolah sedang bermain-main di kolam sekitar gua Peteng. Konon katanya gua Peteng ini digunakan untuk menyepi alias semedi. Kompleks gua Sunyaragi tidak terlalu luas, tetapi tidak terlalu terurus. Selain kami ada 2 keluarga yang berkunjung, selain itu kami lihat kompleks gua Sunyaragi ini digunakan buat tempat pacaran. Dan yang lebih membuat saya prihatin, mereka masih berseragam sekolah.

Tempat favorit buat Faiz (2th, 3bln) adalah panggung budaya. Lapangan pertunjukan yang ramai ditumbuhi ilalang menjadi tempat berlari-lari dan tempat duduk penonton pun dijelajahi di barisan palin bawah hingga barisan paling atas.

Cirebon

Sunyaragi, 9 Maret 2013