Home » jajan » Mencicipi Rasa di Megaria

Mencicipi Rasa di Megaria

Dengan berpegang pada informasi bahwa jam buka rumah makan Pondol di Megaria, maka kami berangkat dari rumah sekitar jam 10 pagi. Kendaraan kami parkir di stasiun Lenteng Agung dan kami melanjutkan perjalanan dengan kereta commuter line. Tak lama setelah membeli tiket, kereta pun datang. Kami turun di stasiun Cikini dan berjalan menuju Megaria (Metropole).

Suasananya sungguh jauh berbeda dibandingkan ketika saya datang terakhir. Terakhir saya ke sana (sekitar tahun 1999), jalan-jalan dan lapangan parkir masih berupa tanah dan batu-batu. Kini, Jalan-jalan dan lapangan parkirnya rapi dengan conblock.

Jam 11 kurang, kami sudah tiba di Megaria. Sambil menunggu jam 11, kami duduk-duduk di depan Bioskop yang belum buka sambil melihat lalu lalang kereta dari kejauhan. Sambil sesekali kami “thawaf” di kompleks Megaria.

Menanti

Menanti

Sudah jam 11 lewat, belum ada tanda-tanda rumah makan buka. Akhirnya saya tanya ke Pak Sekuriti yang bertugas. “Pak, Pondol buka gak ya hari ini?”, tanya saya. “Buka, tapi nanti jam 12. Ibu datengnya kepagian”, jawab Pak Sekuriti. Wakwaw… Ayah langsung deh berkomentar, “tuh kan udah dibilangin…”. “Ya maaf Ayah, kan gak mau kesiangan ceritanya”.

Setelah dapat informasi kalau Pondol baru buka jam 12, kami harus segera ambil keputusan. Tetap menunggu atau mencari tempat lain. Akhirnya kami sepakat untuk menunggu Pondol buka sambil makan di rumah makan Ayam Bakar. Menu yang kami cicipi adalah ayam bakar, siomay dan es teller. Konon katanya dan tertulis juga di spanduk rumah makan tersebut bahwa es teller di situ adalah pertama di Indonesia. Es teller nya lumayan. Ayam bakar & siomay nya tidak terlalu istimewa.

Selesai makan di Ayam Bakar, adzan Dzuhur berkumandang. Biar lebih nikmat, mampir dulu kami ke mushola.

Setelah dari mushola, akhirnya rumah makan Pondol itu buka juga. Langsung kami menyerbu ke sana. Pesanan kami es cendol, es gempol Plered, es roti tape, jus strawberry, the Botol, sate Ambal, sate Wates, dan tahu pong Semarang. Oiya, pasukan kami adalah dewasa 3 orang dengan batita 1 orang.

Rasa es cendolnya mantap, cendolnya terasa ringan di lidah dan rasa gula merahnya pas. Rasanya memang beda dengan es cendol yang pernah saya beli. Minuman yang lain pun enak. Tapi es cendol tetap meninggalkan rasa yang paling enak di lidah.

Es Cendol

Es Cendol

Yang khas dari sate Ambal adalah bumbu kacangnya dari kedelai alias tempe. Bumbu sate ambal di Pondol ini juga terasa ringan, tapi tetap enak.

Sate Ambal

Sate Ambal

Yang membedakan sate Ambal dan sate Wates adalah bumbunya saya rasa. Sedangkan ayam yang dibakar sama saja. Sate Wates ternyata adalah sate ayam dengan kuah santan kuning, ditambah tahu dan lontong.

Sate Wates

Sate Wates

Salah satu menu yang selain dari sate-satean adalah tahu pong Semarang. Tadinya di bayangan saya adalah tahu goreng kosong di dalam, sehingga renyah rasanya. Tetapi yang datang adalah tahu goreng, gimbal udang, dan telur rebus goreng plus bumbu kecap yang rasanya aneh di lidah saya. Seperti rasa terasi mentah yang mampir di lidah saya.

Tahu Pong

Tahu Pong Semarang

Setelah selesai makan di rumah makan Pondol, maksud hati ingin beli mpek-mpek. Namun apa daya, uang di dompet sudah hampir bersih. Semoga ada lain kali untuk menyicipi mpek-mpek yang katanya paling enak se-Jakarta.

Jakarta, 13 April 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s