Serunya Berburu Tiket Kereta Api untuk Lebaran

Tiket kereta api sudah mulai bisa dipesan 90 hari sebelum hari keberangkatan. Sebagai penumpang, kita punya banyak waktu untuk melakukan pemesanan. Tapi tidak untuk saat-saat peak season. Kita harus berpikir dan bergerak cepat untuk mendapatkan tiket yang dimaksud. Seperti untuk Lebaran, pasti banyak yang berburu.

Beruntung sekarang tiket kereta api bisa dipesan dengan banyak cara yang lebih memudahkan calon penumpang. Jadi kita tidak harus bersusah-susah antri di stasiun besar. Buat kami, pilihan jatuh pada pemesanaan lewat internet atau telpon ke 021-121. Mana yang lebih memungkinkan dan lebih cepat.

Target kami adalah tiket Yogya-Jakarta tanggal 13 Agustus 2013. Jadi paling cepat kami bisa mulai memesan tiket pada tanggal 15 Mei 2013 lewat tengah malam.

Sebelum hari pemesanan tiba, saya terus memantau pergerakan ketersediaan tiket dan harga selama kurang lebih seminggu. Ternyata harga tiket untuk Lebaran tahun ini tidak semahal tahun lalu. Alhamdulillah, jadi lebih hemat :-). Dan saya mulai memantau ketat 4 hari sebelum kami benar-benar membeli tiket, yaitu saat arus balik dimulai.

Berikut adalah hasil pengamatan saya melalui http://tiket.kereta-api.co.id/ sampai tanggal 14 Mei 2013. Kira-kira jam 1 sampai jam 2 dini hari, tiket habis. Semuanya habis. Tetapi sekitar jam 3 sampai menjelang subuh, biasanya tiket kembali tersedia. Sekitar jam 9 pagi, saya cek lagi dan tiket masih tersedia. Jam 11.30an, tiket habis semua. Sekitar jam 3 sampai jam 4 sore, biasanya tiket kembali tersedia. Tetapi hal yang disebutkan saya tidak berlaku untuk keberangkatan ke Jakarta tanggal 11 Agustus 2013 yang jatuh pada hari Minggu. Setiap saya cek, selalu habis dari mulai awal tiket tanggal tersebut tersedia. Sepertinya banyak yang mau langsung kerja di hari Senin.

15 Mei 2013 menjelang. Saatnya kami berburu. Sekitar jam 2 dini hari, kami terbangun dan langsung cek ketersediaan tiket. Ternyata habis semua. Tenang tenang… sambil mengingat tren yang terjadi di hari sebelumnya. Sekitar jam 3, kembali tiket tersedia. Kami langsung memesan via online booking. Kami dapat 2 kursi tetapi dengan tempat duduk berjauhan dan berbeda gerbong. Pindah tempat duduk pun kami coba tetapi tidak tersedia 2 kursi berdekatan. Tenang tenang… nanti bisa dicoba lagi. Menjelang jam 3.20, kursi tersedia menjadi lebih banyak. Kami harus bergerak cepat. Nama penumpang, nomer identitas, alamat, alamat email dan nomer telpon sudah terketik di ms.word siap untuk dikopi ke isian data di online booking. Dan akhirnya, kami dapat 2 kursi bersebelahan. Kami punya waktu 3 jam untuk membayar. Setelah membayar, kami mendapatkan imel bukti pembayaran kereta api . Tugas berikutnya adalah menukarkan bukti pembayaran dengan tiket sesungguhnya. “Yeay… one job accomplished…!!”

Bukti Pembayaran

Jakarta, 17 Mei 2013

Advertisements

Anakku kurus…!!

Orang tua mana yang kupingnya tidak panas saat dikomentari anaknya kurus. Faiz memang tidak bisa dikategorikan anak gemuk. Perawakannya mungil, seperti saya dulu. Dulu waktu masih balita, dulu waktu masih remaja, dulu sebelum menikah. Ya, saya memang lebih mungil dari teman-teman sebaya. Tapi itu dulu.

Faiz dengan usia 2th 5bln, panjang 86cm dan berat 11kg. Jika diplot di chat-nya WHO, baik tinggi dan berat badan masuk ke persentil paling bawah. Ini bukan berarti saya tidak kepikiran sama sekali. Saya selalu berusaha memberikan nutrisi yang baik untuk Faiz. Pernah juga saya ke dokter untuk konsultasi mengenai perkembangan Faiz. Setelah pemeriksaan dan konsultasi, dokter mengambil kesimpulan kalau perawakan Faiz ini adalah masalah genetik. Saya dengan tinggi badan 150cm, masih di bawah rata-rata tinggi badan perempuan Indonesia. Ayah dengan tinggi badan 165cm, sebenarnya tidak bisa dikategorikan di bawah rata-rata laki-laki Indonesia. Tapii… sampai dengan SMP, Ayah sering dipanggil si kecil karena perawakannya lebih kecil dibandingkan dengan teman-teman sebayanya saat itu.

Jadi… gak ada yang salah kan dengan Faiz atau orang tuanya…??

Di usia 2th 5bln, Faiz sudah lancar berbicara. Sudah bisa bercerita, sudah hafal doa mau makan dan doa mau tidur, menyanyi satu lagu full (baik lagu bahasa Inggris atau bahasa Indonesia), menyebut angka (baik lagu bahasa Inggris atau bahasa Indonesia), rajin membantu, sudah bisa naik sepeda roda 4, perkembangan motoriknya pun baik, Faiz sudah bisa membuat garis lurus tanpa bantuan dan juga membuat lingkaran yang bertemu ujung dengan ujung. Faiz juga bisa membuat mobil dan orang. Dan banyak lagi kebisaan-kebisaan Faiz lainnya. Saya bahagia menjadi orang tuanya.

Nanti Faiz bisa lebih tinggi daripada Ayah & Ibu. Dan yang lebih penting sehat & sholeh ya, Faiz… 🙂

My Boys

Asyik nonton video lagu-lagu anak

Jakarta, 14 Mei 2013

Berburu Pensil Warna

Faiz (2th 5bln) senang pada aktivitas mewarnai alias coret-coret. Dan kebetulan di rumah ada crayon sisa praktikum buleknya Faiz (bulek = tante). Sayang crayon yang ada mudah membuat tangan kotor. Sebenarnya saya bukan mempermasalahkan kotornya, tapi masalah keamanan si crayon tersebut. Namanya anak-anak terkadang tidak sengaja memasukkan tangan ke mulut atau setelah mewarnai tidak segera mencuci tangan dan langsung ambil makanan dan lain-lain belum lagi bau crayon yang cukup menyengat.

Crayon

Crayon tanpa baju

Saya punya bayangan sendiri mengenai pensil warna untuk balita, yaitu ujungnya tidak lancip sehingga tidak membahayakan anak. Perburuan di mulai dengan mendatangi toko buku Gramedia di Pejaten Village. Setelah mengelilingi bagian alat tulis dan pensil warna, saya tetap tidak menemukan pensil warna seperti bayangan saya. Ada satu merk terkenal yang mengeluarkan berbagai produk dengan cap “non-toxic”. Tapi pensil warnanya ujungnya sangat tajam dan butuh rautan, ada crayon setelah saya keluarkan dari bungkusnya ternyata baunya sangat menyengat.

Bergeser sedikit ke arah peralatan gambar teknik, mata saya langsung tertuju pada pensil dermatograh. Pensil ini biasanya digunakan untuk “mark-up” dokumen di kantor kami. Definisi dermatograph bisa diliat di sini.

Karena harga lumayan premium untuk kantong kami, jadilah kami hanya beli 5 warna. Lumayan cukup mewakili, pikir kami. Faiz senang, ibunya pun tenang.

Dematograph

Pensil Dermatograph

Ternyata kegembiraan itu hanya sesaat. Faiz terus mencari warna orange. “Haduh gimana ini…” Saya pun mulai gusar. “Iya ya, warnanya itu-itu aja. Kurang bervariasi.”

Berbekal info dari teman, ternyata ada crayon yang terbungkus seperti pensil mekanik. Tidak perlu rautan dan untuk mengeluarkan crayonnya, cukup di putar. Penasaran dengan crayon model seperti itu, ketika ada kesempatan kami langsung meluncur ke toko Gunung Agung yang berlokasi di Margo City. Ternyata ada crayon yang dimaksud teman saya itu. Tetapi saya lebih tertarik dengan yang di sebelahnya, crayon yang terbungkus dengan kertas dan tidak perlu rautan cukup ditarik saja kertasnya seperti pensil dermatograph. “Yeay… akhirnya kami menemukan pensil crayon idaman dengan harga lebih murah… !!” Dibandingkan dengan pensil dermatograph, tentunya.

Pensil Crayon

Pensil Crayon

Jakarta, 13 Mei 2013

Pertamax versus Premium

Terpengaruh dengan berita di sini , dan kami pun mencoba mengisi kendaraan kami dengan premium. Biasanya kami merasa “sok kaya”, selalu mengisi kendaraan kami dengan pertamax kecuali kondisi sangat kepepet.

Pertama kami mencoba membeli premium sejumlah 50 ribu rupiah. Di awal memang terasa agak berat (mesinnya) tapi setelah jalan, walau terasa sedikit perbedaan tetapi seperti hampir tidak terasa. “Wah, lumayan juga kalau emang bener premium isinya pertamax. Bisa lebih hemat niy”, pikir kami saat itu.

Dilanjutkan lah pengisian premium kedua dengan membeli 100 ribu rupiah. Dan perbedaan-perbedaan itu mulai terasa. Saat nanjak terasa lebih berat, suara mesin terasa lebih bising, dan saat penggantian transmisi terkadang “nyendal-nyendal” (apa ya bahasa Indonesianya, saya belum menemukan kata yang pas).

Dan akhirnya saya kembali ke pertamax lagi. Mungkin juga itu karena saya belum menemukan SPBU yang menjual premium isi pertamax. Mungkin lain kali bisa dicoba di SPBU lain. Tapi jujur terkadang saya “gregegetan” dengan adanya BBM subsidi dan non subsidi. Kenapa gak dibuat sederhana saja, tidak ada BBM subsidi. Bisa beli kendaraan bemotor berarti bisa beli bahan bakarnya. Tapi ini hanya pendapat dangkal saya saja.

Bicara tentang premium yang sebelumnya sempat digembor-gemborkan akan naik, nyatanya sampai detik ini harga premium belum naik juga. Padahal biaya untuk pembuatan spanduk untuk sosialisasi tidak sedikit. Saya bingung hidup di negeri bingung…!!

Jakarta, 10 Mei 2013