Home » coretan » Pertamax versus Premium

Pertamax versus Premium

Terpengaruh dengan berita di sini , dan kami pun mencoba mengisi kendaraan kami dengan premium. Biasanya kami merasa “sok kaya”, selalu mengisi kendaraan kami dengan pertamax kecuali kondisi sangat kepepet.

Pertama kami mencoba membeli premium sejumlah 50 ribu rupiah. Di awal memang terasa agak berat (mesinnya) tapi setelah jalan, walau terasa sedikit perbedaan tetapi seperti hampir tidak terasa. “Wah, lumayan juga kalau emang bener premium isinya pertamax. Bisa lebih hemat niy”, pikir kami saat itu.

Dilanjutkan lah pengisian premium kedua dengan membeli 100 ribu rupiah. Dan perbedaan-perbedaan itu mulai terasa. Saat nanjak terasa lebih berat, suara mesin terasa lebih bising, dan saat penggantian transmisi terkadang “nyendal-nyendal” (apa ya bahasa Indonesianya, saya belum menemukan kata yang pas).

Dan akhirnya saya kembali ke pertamax lagi. Mungkin juga itu karena saya belum menemukan SPBU yang menjual premium isi pertamax. Mungkin lain kali bisa dicoba di SPBU lain. Tapi jujur terkadang saya “gregegetan” dengan adanya BBM subsidi dan non subsidi. Kenapa gak dibuat sederhana saja, tidak ada BBM subsidi. Bisa beli kendaraan bemotor berarti bisa beli bahan bakarnya. Tapi ini hanya pendapat dangkal saya saja.

Bicara tentang premium yang sebelumnya sempat digembor-gemborkan akan naik, nyatanya sampai detik ini harga premium belum naik juga. Padahal biaya untuk pembuatan spanduk untuk sosialisasi tidak sedikit. Saya bingung hidup di negeri bingung…!!

Jakarta, 10 Mei 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s