Home » Jalan » Berpetualang sambil Berlebaran Part 2

Berpetualang sambil Berlebaran Part 2

11 Agustus 2013

Rencana semula keluar rumah mbah Jo jam 6.00, Faiz gak perlu mandi dulu. Tapi melihat para member masih “utak atik”, jadilah Faiz saya guyur air hangat tanpa sabunan (udah masuk kategori mandi apa belum ya?). Akhirnya jam 6.30 baru berhasil keluar rumah. Sampai di Songgorunggi, bis ke Solo lewat begitu saja tanpa bisa kami stop. Terpaksa kami harus menunggu bis berikutnya. Dan sesampainya di stasiun Purwosari (Solo), kami hanya bisa dadah dadah dengan kereta Sriwedari yang hendak kami tumpangi. Saat itu waktu menunjukkan jam 7.15. Kami berharap bisa ikut kereta selanjutnya walaupun harus menunggu di stasiun selama 1 jam. Tetapi setelah sampai di loket, kereta berikutnya adalah Madiun Jaya dan kami harus beli tiket dengan tempat duduk dan tempat duduk yang tersisa hanya satu, padahal kami berempat (Ayah, Bubu, Faiz, & Bubul). Kereta berikutnya lagi baru ada sekitar jam 10an, owhh noo… Berarti bakalan sampai Jogja jam 11an. Harapan sampai di Jogja jam 8, sirna sudah.

Dengan sedikit mutung, akhirnya saya mengajak member untuk sarapan bubur ayam dulu. Setelah sarapan, kami menuju terminal Tirtonadi untuk mengejar bis ke Jogja. Jam 8 kami naik bis dari Tirtonadi dan sekitar jam 10.30, kami baru sampai Jl. Janti Jogja tempat janjian dengan Bapak rental mobil.  

Mobil rental sudah di tangan, segera kami isi bensin dan mobil pun diarahkan ke Kaliurang di mana tujuan target pertama berada, Ullen Sentalu. Ullen Sentalu adalah museum yang menampilkan budaya dan kehidupan putri / wanita Keraton Yogyakarta beserta koleksi bermacam-macam batik (baik gaya Yogyakarta maupun Solo). Museum ini juga menampilkan tokoh raja-raja (Sultan) di keraton Yogyakarta beserta permaisurinya dengan berbagai macam pakaian yang dikenakan sehari-harinya (from Wikipedia).

Ullen Sentalu

Ullen Sentalu

Setelah membeli tiket, kami menunggu sampai sekitar 10 orang terkumpul (quota rombongan). Di dalam kami dipandu dengan mbak tour guide yang menjelaskan tentang segala sesuatu yang ada di dalam museum tersebut. Saya sangat menikmati tour di dalam Ullen Sentalu sampai Faiz berbisik kepada saya “Bu, eek”. Haduh gimana ini, masak saya harus kehilangan ½ perjalanan tour ini untuk keluar dan mencari toilet. “Sebentar ya Faiz, ke toiletnya nanti dulu”, saya mencoba mengulur waktu demi bisa ikut tour full. Tapi semakin lama rupanya Faiz semakin tidak nyaman. Dan akhirnya saya memutuskan untuk langsung meninggalkan rombongan tour dan segera menuju toilet yang lokasinya di luar museum. Ayah pun ikut menemani kami. Hanya Bubul atau Bulek yang mengikuti tour sampai selesai.

Belum sampai di toilet, saya sudah merasakan sensasi hangat di perut saya. Dan ternyata Faiz pipis dalam gendongan. Dan setelah dicek ternyata diaper Faiz penuh sehingga sudah tidak cukup menampung pipisnya dan ternyata lagi, Faiz enggak pup. Oo oowww… tantangannya jalan-jalan bawa balita.

Sambil nunggu Bubul selesai dengan tournya, kami makan bakso dan minum sekoteng di bawah pohon rindang. Sebenarnya hawa di sana juga sejuk dengan udara yang bersih. Ada yang berbeda dengan tukang makanan keliling yang ada di Jakarta yang selalu siap dengan kompor dan tabung gas 3kg, kalau di sini tukang makanannya membawa arang untuk menjaga makanan tetap hangat.

Selesai dengan Ullen Sentalu, kami bergerak menuju Ketep Pass di kabupaten Magelang. Perjalanan kami diwarnai dengan kemacetan sampai menuju jalan utama Jogja-Magelang.

Walaupun sudah berkali-kali saya berkunjung ke Ketep Pass ini, tetapi saya selalu semangat untuk kembali dan kembali. Lokasi Ketep Pass berada di puncak Bukit Sawangan (pertengahan antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu). (from Wikipedia).

Ketep Pass

Ketep Pass

Jangan ditanya lagi bagaimana hawa di sana. Dingin dengan angin yang agak merasuk kulit, terlebih kami tiba di sana menjelang jam 5 sore. Sayangnya mood Faiz sudah mulai rusak di sini, mulai rewel.

Setelah sejenak menghirup udara segar nan dingin, kami pun turun menuju rumah bulek saya yang lokasinya juga di kecamatan Sawangan. Mampir juga ke rumah bude saya, yang sayangnya sedang tidak ada di rumah. Setelah dari Sawangan kami menuju Blabak, mampir lagi ke rumah Eyang (bude dari Ibu saya). Kami tidak bisa berkeliaran di kabupaten Magelang lebih lama lagi, karena kami harus segera kembali ke Jogja untuk menginap di sana.

Perjalanan Blabak –  Jogja yang biasanya dapat kami tempuh selama 30-40 menit, kali ini harus kami tempuh selama hampir 3 jam. Macet di mana-mana, ditambah dengan adanya pembuatan jembatan yang menghubungkan Jombor dengan ring road Jogja (cmiiw).

Jam 10 malam, kami tiba di hotel tempat menginap di Jl. Kaliurang. Faiz sudah sukses tidur sejak di mobil.

Bersambung…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s