Membuat Pilus Keju

Setelah ubek-ubek notes FB nya Wini (teman dari SMA), saya tidak dapat menemukan resep pilus keju yang pernah di-posting Wini yang seingat saya itu merupakan resep yang sederhana buat camilan anak. Saya pun inbox Wini demi mendapatkan resepnya. Berikut adalah resepnya :

Resep Pilus Keju

By Wini Afiati

Bahan:

200gr sagu tani

1 butir telur (kocok lepas)

25ml air

75gr keju cheddar parut

1/4 sdt garam

 500ml minyak goreng

Cara:

1. Campur sagu,garam dan keju parut. Aduk2 hingga tercampur rata. Masukan telur, uleni hingga rata dan halus. Tambahkan air, uleni agak kalis. Bentuk adonan kecil dan memanjang. Rendam dlm minyak goreng dingin. Nyalakan api dan goreng hingga kuning kecoklatan. Angkat dan tiriskan.

2. Jadi deh pilusnya.

Seperti mudah kan cara membuatnya…?? Dan bahan-bahan yang diperlukan pun tidak banyak.

Kehebohan mulai terjadi saat saya mau membeli sagu tani. Pertama saya langsung cek toko sebelah kantor alias allfresh, ternyata tidak ada. Yang ada tepung tapioka. Sempat berselancar di dunia maya sekilas, ada yang bilang kalau tepung tapioka bisa juga sebagai pengganti sagu tani.

Tanya-tanya Yanti si pemilik toko kue Athaya, dibilang beda antara tepung tapioka dan sagu tani. Sagu tani banyak tersedia di toko-toko alfa terdekat dan tulisannya pun jelas “SAGU TANI” dengan gambar warna hijau, katanya.

“oke, berarti sagu tani PASTI ada di Standard minimart”, pikir saya. Standard minimart ini lokasinya tidak jauh dari rumah kami dan merupakan toko serba ada, dari bahan makanan, peralatan dapur, sampai perlengkapan rumah tangga.

Tiba di Standard minimart, “mas, sagu tani ada di mana?”. Mas-nya langsung menunjukkan lokasinya dan bertanya, “mau yang 1 kg atau ½ kg?”. Setelah dipikir-pikir, saya ambil yang 1/2kg aja deh.

Sampai di rumah, lho kok judulnya Liaw Liong Pit Tapioca Flour cap Pak Tani…

Orang Tani

Tambah bingung saya. Tambah penasaran juga. Saya berselancar di dunia maya lagi, sampai menemukan informasi sbb.

http://www.justtryandtaste.com/2011/11/snack-keju-renyah-dari-tepung-sagu.html

Endang IndrianiThursday, July 25, 2013 11:59:00 AM

Hai Mba Dina, wah kok bisa keras ya, kue ini renyah banget karena dari sagu ya. saya pakai tepung tapioka merk sagu tani, banyak di supermarket.  

Dan saya pun masih tanya-tanya Yanti juga, berikut penjelasannya plus ada tambahan penjelasannya juga :

maizena –> jagung

tapioka –> singkong

sagu –> pohon sagu

makanya klo di resep b.inggris starch aja brarti sagu, corn starch itu maizena kan ya?

kayanya sagu tani itu merk deh mba,.

soalnya yg terkenal emang itu jd udah trademark, kaya odol atau tipe-x n emang hasil juga pengaruh,

dulu gw pernah coba bikin “bubble tea” pearl nya pake tapioka gak berhasil, pake sagu tani baru bisa,.

begitu juga waktu bikin mie,. tapi ini kbalikannya tapioka yg bisa djadiin mie… bgitchu,..

tp gada salahnya juga klo lo mo coba pake tapioka mba, mungkin justru berhasil hehehehe

soalnya yg ada di olpres yg tapioka itu kan?

klo dari tekstur akhir gak jauh beda sih logikanya bisa ya hehehehe….

Bikin tambah galau aja…. Hahahaha…

Tapi ya sudah lah, berarti memang Sagu Tani itu adalah nama merk tepung tapioka yang konon katanya kualitasnya paling bagus. Entahlah… yang jelas perburuan Sagu Tani belum berakhir.

Waktu istirahat Jumat dengan waktu lebih panjang daripada istirahat hari biasa, saya gunakan untuk berburu Sagu Tani di Foodmart, Citos. Dan… Tidak ada satu pun bungkus di area tepung-tepungan itu yang bertuliskan Sagu Tani.

Sagu Tani oh Sagu Tani….

Ya sudah, saya coba dengan tepung yang sudah dibeli. Hasilnya lumayan lah, menurut saya.

Percobaan Pertama

Walaupun banyak komen, keras karena kurang telor sampai kurang margarin (padahal resepnya tidak menggunakan margarin) tapi pilusnya habis ludes lebih cepat daripada membuatnya. Padahal menurut saya keras dan agak alot karena bentuk adonannya kurang kecil.

Keesokannya saya coba buat lagi tetapi adonannya dibuat lebih kecil.

Percobaan Kedua

Dan komen kali ini adalah…. “kurang banyak bikinnya…” wkwkwkwk….

Advertisements

Bermain di Kemang Playground

Lokasi tempat bermain ini cukup bersembunyi di dalam kompleks perumahan di kawasan Kemang tetapi ketenaran tempat ini tersebar luas di jagat maya.

5 November 2013 adalah hari libur yang jatuh di hari Selasa. Om Widi (adik saya) mengusulkan untuk mengajak Faiz dan Tegar (anak Om Widi, sepupu Faiz) untuk bermain di Kemang Playground. Buat Faiz dan Tegar, ini adalah bukan pertama kalinya ke sana. Faiz ke sana sekitar setahun yang lalu sedangkan Tegar baru sekitar 3-4 minggu yang lalu.

Berhubung hanya 2 pendamping dewasa yang bisa masuk gratis untuk satu anak, jadinya Ayah dengan suka rela di rumah aja. Gak mau rugi dengan tambahan 50rb untuk satu orang dewasa yang gak bisa main-main. Faiz didampingi saya dan Bubul, Tegar dengan Ayah Bundanya.

Pagi itu kami tiba menjelang jam 9, masih sepi di dalam playground. Sebenarnya enak juga dengan kondisi sepi, serasa punya playground sendiri. Tetapi efeknya ke anak-anak, yang seperti tidak tertantang untuk menaklukan mainan-mainan tersebut karena belum melihat anak-anak lain bermain.

Faiz dan Tegar langsung bermain pasir. Yaaa… baru main langsung kotor deh. Walaupun gak apa-apa juga kotor.

Bermain pasir

Bermain pasir

Main pasirnya gak berlangsung lama. Ketika anak-anak lain sudah mulai berdatangan dan langsung bermain kegirangan, rupanya Faiz dan Tegar turut merasakan atmosfernya. Segera mereka beranjak dari arena bermain pasir. Mencoba mainan yang lain lebih menantang.

Faiz dan Bubul

Faiz dan Bubul

Tegar berjalan di atas balok

Tegar berjalan di atas balok

Giliran Faiz

Giliran Faiz

Sekitar 10.30, permainan yang ditunggu-tunggu pun datang. Yap… waterplay….!! Everykids like it…!! Anak-anak langsung berlarian ke arena waterplay sesaat setelah dibuka. Tentunya Faiz dan Tegar tak ketinggalan. Semua anak pindah di waterplay area.

My Superman

My Superman

Setahun yang lalu di tempat yang sama

Setahun yang lalu di tempat yang sama

Faiz dan Tegar sudah mulai terlihat kedinginan, kita sudahi saja sesi  bermain di Kemang Playground hari ini. There will be next time, insya Allah.

Mengunjungi Monas 3 November 2013

Tujuan jalan-jalan hari Minggu ini adalah Monas. Yeay…!! Today is a car free day.

Jam 7 lewat kami semua baru siap berangkat dari rumah. Dengan menggunakan 2 motor, kami menuju halte bus Ragunan untuk melanjutkan perjalanan dengan bus kota. Perjalanan menuju lapangan parkir Ragunan sangat macet, kendaraan hampir tidak bisa bergerak. Masih untung kami menggunakan motor untuk mencapai sana, sehingga masih ada celah untuk lewat.

Dari terminal bus Ragunan, kami naik Kopaja AC 602 jurusan Monas. Dan kami pun turun di halte Sarinah. Kami isi bensin perut alias sarapan di Sarinah. Setelah perut terisi, kami melanjutkan jalan kaki menuju Monas. Cuaca mendung sehingga matahari tidak terlalu panas menyengat.

Naik Kopaja 602

Naik Kopaja 602

Sesampai di Monas, kami duduk-duduk sambil membiarkan Faiz loncat-loncatan dan berlari-larian di taman Monas. Jadi teringat dengan Yamashita Park (salah satu taman umum di kota Yokohama). Tapiii… kesyahduan menikmati taman dan sinar matahari jadi terganggu dengan sampah yang bertebaran. Gak jadi deh bandingin Monas dengan Yamashita Park. Hehehe…

Duduk-duduk saja

Duduk-duduk saja

Dan sepertinya Faiz sudah menjadi kebiasaan Faiz untuk meninggalkan jejak di setiap tempat. Kali ini Faiz minta pipis, dan begitu diajak ke bis toilet senangnya bukan kepalang. Apalagi setelah selesai menunaikan hajatnya di bis toilet tersebut, seperti baru mendapatkan pengalaman yang seru…!!

Lalu lalu… kami berjalan dengan tujuan halte bis Monas. Kami memilih untuk berjalan di dalam hutan kota Monas. Wuiih… rimbunnya… terlebih melihat daun-daun kering berguguran serasa sedang musim gugur di negeri 4 musim. Tetapi lagi-lagi sayang sekali karena banyak sampah bertebaran dan buanyaakkk sekali pedagang di tiap sisi kanan dan kiri jalur pejalan kaki.

Rimbunnya Hutan Kota

Rimbunnya Hutan Kota

Mudik Lebaran Haji Oktober 2013 Bagian 4

15 Oktober 2013

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar La ilaha illallah wallahu Akbar

Biasanya menjelang sholat Ied selalu terdengar takbir, bahkan dari malam sebelumnya. Tetapi pagi ini sepertinya saya tidak terlalu mendengar takbir itu (apa saya salah ya).

Ya sudah lah, selepas subuh kami mulai bersiap-siap untuk sholat Idul Adha di lapangan dekat rumah mbah Jo. Jam 6.20 kami keluar rumah, menjelang mendekati lokasi terpaksa kami berlari-lari karena sholat akan segera dimulai.

Setelah selesai sholat, seperti saat sholat Idul Fitri kemarin, Faiz minta dibelikan balon. Kali ini balon yang dipilihnya balon pesawat dengan penumpang angry birds.

Acara berikutnya yang kami nantikan adalah tentunya acara qurban alias mbeleh sapi. Sebenarnya tidak tega saya melihat sapi disembelih tetapi saya penasaran. Faiz pun ikut menyaksikan. Syereemmm… kami cukup menyaksikan 1 sapi saja yang disembelih.

Sedihnya menjelang penyembelihan

Sedihnya menjelang penyembelihan

Selanjutnya kami hanya duduk-duduk saja di rumah mbah Jo. Pening kepala saya yang dari tadi aktivitasnya hanya duduk-duduk saja. Sampai mobil odong-odong alias mobil kelinci lewat di depan rumah mbah Jo. Yang tadinya saya malas untuk ikut tiba-tiba saya bergerak berlari menyusul Faiz, Bubul, Bude Dwi, Aisyah dan Thifa. Lumayan lah, bisa jalan-jalan eh mobil-mobilan keluar masuk kampung.

Ramenya naik mobil odong-odong

Ramenya naik mobil odong-odong

Ashar telah datang, saatnya kami bersiap untuk kembali ke Jakarta melalui stasiun Solo Balapan dengan kereta Argo Dwipangga.

Jam 5 kami keluar dari rumah mbah Jo. Ayah, saya dan Faiz diantar dengan motor sampai ke Songgorunggi tempat kami menyetop bis jurusan Solo. Sementara Bubul diantar Om Arif dengan motor dan tak lupa saya minta tolong untuk dibelikan roti Mandarijn Orion untuk oleh-oleh ke Jakarta. Dan kami bertemu lagi di stasiun Balapan Solo.

Walaupun masih jam 19.30, tetapi kereta Argo Dwipangga sudah stand by di stasiun. Setelah berdadah-dadah dengan Om Arif, kami pun langsung masuk ke dalam kereta dan langsung menyantap bekal yang sudah disiapkan.

Sampai jumpa di Jakarta Om Arif….

Jam 20.00, kereta perlahan meninggalkan stasiun Solo Balapan. Kali ini Faiz maunya dipangku Ayah dan mungkin ini terakhir kalinya Faiz beli tiket kereta jarak jauh tanpa tempat duduk. Untuk perjalanan berikutnya Faiz sudah harus beli tiket kereta dengan tempat duduk.

Menjelang Subuh, kereta tiba di stasiun Gambir.

Selesai.

Mudik Lebaran Haji Oktober 2013 Bagian 3

14 Oktober 2013

Tidak ada agenda khusus hari ini.

Jam 8 pagi, kami pergi ke Dam Colo yaitu Dam yang terletak di Kecamatan Nguter yang sebernarnya adalah sebuah pintu air dari aliran air Waduk Gajah Mungkur Wonogiri untuk keperluan irigasi atau pengairan di wilayah Sukoharjo. (http://sukoharjokab.go.id/khas-sukoharjo)

Dam Colo

Dam Colo

Pintu Air

Pintu Air

Ehem ehem

Ehem ehem

Setelah meninggalkan jejak

Setelah meninggalkan jejak

Aliran Sungai

Aliran Sungai

Sekitar jam 10an, kami iseng pergi ke Hartono Mall. Mall terdekat dari rumah mbah Jo. Perjalanan berangkat ditempuh selama hampir 1 jam dengan bis ¾ dari depan rumah mbah Jo, padahal jikalau menggunakan kendaraan sendiri mungkin gak sampai 30 menit sudah sampai lokasi. Perjalanan pulangnya memakan waktu hampir 2 jam dengan 3 kali ganti angkutan…!!  Dan yang paling berkesan dengan kunjungan saya ke Hartono Mall adalah tidak ada tempat sholat di dalam Mall tersebut. Hemm… ini masih di Indonesia kan? Masih di pulau Jawa kan?

Teriknya matahari Solo menguras energi kami yang sedang berpuasa. Sampai di rumah mbah Jo, kami hanya bisa tergeletak lemas karena dehidrasi sambil menantikan adzan maghrib.

Bersambung…

Mudik Lebaran Haji Oktober 2013 Bagian 2

13 Oktober 2013

Pagi-pagi Om Arif udah bersiap untuk latihan karate di Gelanggang UGM (udah bukan mahasiswa masih pengen latihan :-p). Eh Faiz maunya ikutan Om Arif, jadinya Bubul juga ikutan untuk nemenin Faiz. Sementara Ayah dan saya, urus check out penginapan, titip tas-tas di deposit stasiun Tugu (berat plus rempong kalau masih mondar-mandir bawa tas segambreng), trus kembaliin motor sewaan.

Selanjutnya Ayah dan saya menyusul Faiz and the gank dengan naik bis kota. Dan pagi itu kami menikmati Sunday Morning Market di kampus UGM.

Naik becak di kampus UGM

Naik becak di kampus UGM

Hari menjelang siang, dengan satu motor, kami (Ayah, saya, Faiz dan Bubul) harus menuju stasiun Tugu untuk melanjutkan perjalanan ke rumah mbah Jo. Om Arif masih kumpul-kumpul sama teman-temannya.

Tugas Ayah adalah mengantarkan kami. Pertama tentunya Faiz dan Bubul, karena saya masih harus menemani Ayah cari bakpia titipan temannya. Sebenarnya bakpia Djogja juga enak, tapi untuk rasa kacang hijau hanya tahan 3 hari saja sedangkan kami masih mau ke Sukoharjo dulu. Bisa-bisa sampai Jakarta, para bakpia itu udah pada basi. Jadilah kami cari bakpia Kurnia Sari. Dan kami memilih untuk membelinya di ruko Pogung Utara, di ring road utara.

Padahal masih jam 11 siang, tetapi bakpia kacang hijau sudah habis bis. Dan kami pun hanya membeli rasa keju dan coklat dan tidak untuk dibawa ke Jakarta. Katanya bakpia kacang hijau ini sudah habis dari tadi pagi. Ya sudah lah, titip Om Arif sajadan dipaketkan ke Jakarta.

Tujuan berikutnya tentu stasiun Tugu. Sampai di stasiun tugu jam 11.40, sebenarnya kami masih sempat untuk naik kereta jam 12. Saya terlanjur beli tiket kereta Sriwedari jurusan Solo Balapan yang jam 13.00 dan setelah saya tanya ternyata kereta yang jam 12 itu tidak AC, ya sudah tidak jadi tukar tiket.

Mungkin sudah hampir jam 14.30, kami tiba di Stasiun Purwosari. Tiba-tiba Ayah memutuskan turun di stasiun Purwosari dengan pertimbangan, bisa naik bis ¾ yang tentunya bisa lebih santai.

Setelah berganti bis 2 kali, sampailah kami di rumah mbah Jo.

“dada bis, thank you bis….”, kata Faiz.

Bersambung….

Mudik Lebaran Haji Oktober 2013 Bagian 1

12 Oktober 2013

Dengan penerbangan jam 5.50 dari Soetta, kami tiba di bandara Adi Sucipto sebelum jam 7. Setelah urusan “belakang” selesai, kami langsung menuju halte bus TransJogja. Saya lupa, kami naik nomer 1A atau 1B ya. Tapi rute kami juga melewati Jl. Malioboro dan berhenti di halte Taman Pintar untuk janjian dengan Om Arif (adik Ayah-urutan nomer 2). Om Arif berangkat dari rumah mbah Jo, subuh-subuh dengan mengendarai motor.

Berhubung baru ada 1 motor, jadilah satu per satu Om Arif mengantar kami ke penginapan. Pertama saya diantar om Arif ke penginapan di Jl. Kemetiran Kidul untuk early check-in. Sementara Faiz dan Bubul main-main di depan Taman Pintar dan Ayah bertugas jaga tas-tas kami yang belum terangkut. Selanjutnya Faiz dan Bubul yang diantar. Terakhir baru Ayah, sekalian cari-cari sewaan motor. Yess… Ayah bisa sewa motor tanpa deposit.

Depan Taman PinTar

Setelah leyeh-leyeh sebentar di kamar, kami pun keluar untuk keliling-keliling Jogja. Tujuan pertama adalah mencari tempat makan untuk brunch (breakfast & lunch). Ayah mengajak kami ke tempat dulu Ayah biasa makan gado-gado, di daerah Lempuyangan. Tetapi ternyata warungnya gak buka. Trus kami coba mengikuti kemauan Bubul makan steak di WS, setelah sampai lokasi warung juga belum buka. Akhirnya kami makan sate di Samirono. Sate Samironi ini ternyata enak, lho… dagingnya empuk dan daging kambingnya gak bau prengus.

Selesai makan sate, kok udah panas ya di luar. Menurut Ayah, masih terlalu panas kalau kami memaksakan diri pergi ke Kebun Binatang Gembiraloka sekarang. Dan kami pun begerak ke Jl. Kaliurang. Pertama kami masuk ke Rei Adventure shop dan kemudian ke Eiger Adventure shop (kayak di Jakarta gak ada aja ya). Sayangnya barang yang saya cari tidak ada.

Petualangan dilanjutkan dengan mampir di Kalimilk TKP 3 (kalau tidak salah), Jl. Kaliurang. Pengunjung Kalimilk ini disebut neneners, tapi minumnya tetap dari gelas dan pakai sedotan kok. Susunya enak, tapi tidak berasa susu. Sangat lite sekali rasa susunya.

Bubul-Om Arif-Ayah @Kalimilk

Bubul-Om Arif-Ayah @Kalimilk

Setelah dari Kalimilk, kami nekat ke Kebun Binatang Gembiraloka. Karena kalau nunggu agak adem bakalan kesorean sampai di sana. Ternyata Kebun Binatang Gembiraloka ini memang lebih bagus daripada Kebun Binatang Ragunan. Dan jadi highlight buat saya, Kebun Binatang Gembiraloka ini stroller friendly…!! (saya siy gak bawa stroller ya).

Faiz nempel Om Arif @ Gembiraloka

Faiz nempel Om Arif @ Gembiraloka

Penataan Kebun Binatang Gembiraloka pun lebih rapih, bersih , dan lebih jelas alur kandang hewannya. Kami naik Taring (transportasi keliling) dan perahu Kataraman (perahu dengan kapasitas 40 orang). Setelah naik Kataraman, kami makan-makan di Mayang Tirta (restoran di atas danau).

@Mayang Tirta

@Mayang Tirta

Selesai sudah eksplorasi Gembiraloka kali ini. Walaupun belum puas tetap harus disudahi karena hari sudah sore. Kami pun kembali ke penginapan.

Setelah bersih-bersih dan istirahat di kamar, kami pun keluar kamar jam 7 malam. Tujuannya hanya mie Kadin yang terkenal itu.

Luar biasa lalu lintas Jogja malam itu, ramai, padat, sumpek terutama di sekitar Malioboro. Akhirnya kami tiba di mie Kadin di Jl. Bintaran Kulon. Luar biasa penuh, dan pesanan kami baru tiba setelah lebih dari 40 menit kami menunggu. Huft… perjuangan mau makan…. Tidak sampai 15 menit kemudian, mie pesanan kami ludes pindah ke perut. Memang istimewa sekali rasa mie-nya. Kami memesan mie goreng dan mie godok.

Selepas dari dari mie Kadin, bubul masih penasaran dengan ronde di alun-alun kidul. Wow…. Puadettt muacettt… tumpah ruah manusia dan kendaraan di alun-alun kidul itu.

Di alun-alun kidul, cari tukang ronde, beli bungkus dan kami langsung kembali ke penginapan. Faiz sudah tertidur di motor.

Selesai ubek-ubek Jogja hari ini.

Bersambung…