Pengalaman dengan Yahoo BB

Assignment ke Yokohama periode Mei 2005 – Oktober 2006.

Saat itu belum menjadi standar kalau setiap apato (baca : kamar kos) harus ada sambungan internet, jadi tergantung keberuntungan saja untuk mendapat apato dengan fasilitas sambungan internet karena kami (assignee) tidak bisa minta tinggal di mana. Awalnya tidak ada masalah buat saya di kamar tidak ada sambungan internet, kamar berasa tenang. Toh di kantor internetnya kenceng, walaupun untuk situs-situs tertentu tidak bisa dibuka. Kalau saya perlu untuk membuka situs-situs yang tidak bisa dibuka di kantor, saya tinggal numpang di apato teman. Sederhana kan?

Satu demi satu teman-teman kembali ke tanah air, sementara saya masih tetap di Yokohama menjalani masa assignment. Makin lama makin sepi terasa hidup tanpa internet di kamar. Akhirnya saya coba mencari tahu provider yang ada di Yokohama saat itu.

Saya melirik ada dua pilihan provider.  Pilihan pertama tentu yang lebih murah, sekitar 4600 JPY per bulan. Setelah cari-cari info, ternyata jaringannya tidak sampai di tempat tinggal saya saat itu (Grace Homes, dekat dengan stasiun subway Mitsuzawa Kamicho). Terpaksa saya harus memilih yang lebih mahal, sekitar 5500 JPY per bulan. Provider itu adalah Yahoo BB. Untung hanya 3 bulan saya langganan Yahoo BB karena setelahnya ada regulasi baru kalau setiap kamar apato untuk assignee sudah lengkap dengan koneksi internet.

Saat akhir pekan tiba, saya mendatangi konter Yahoo BB di Yokohama. Saat tanya-tanya, tiba-tiba petugasnya bilang, “usia minimal untuk apply Yahoo BB adalah 21 tahun”. Jeng jengg…. Alhamdulillah punya muka awet muda. Untuk meyakinkan bahwa usia saya sudah lebih dari 21 tahun, langsung saya keluarkan alien card (KTP Jepang untuk warga asing). Yak, urusan aplikasi dapat dilanjutkan. Setelah urusan administrasi selesai, kami janjian untuk memasang instalasinya.

Menjelang hari yang ditentukan, saya sudah melakukan tindakan antisipasi. Saya meminta untuk teman kantor saya, Takahashi san, untuk bersedia dihubungi ketika pemasangan instalasi sedang berlangsung.

Hari H datang dan saya ijin datang ke kantor lebih siang karena ada janji dengan petugas Yahoo BB. Petugas datang dan bertanya dalam bahasa Jepang, otomatis saya tidak bisa menangkap apa yang dia bicarakan saat itu. Saya tidak dapat berbahasa Jepang! Saya langsung minta tolong petugas tersebut untuk menelpon teman saya, Takahashi san. Saya tidak punya handphone juga saat itu, parah! Untungnya petugas itu berbaik hati untuk menelpon teman saya.

Yang kemudian terjadi adalah petugas Yahoo BB berbicara kepada Takahashi san, Takahashi san menterjemahkan ke pada saya, saya menjawab terjemahan Takahashi san, Takahashi san menterjemahkan apa yang saya katakan ke petugas Yahoo BB, demikian seterusnya sampai pemasangan instalasi internet selesai!

Nyusahin orang ya? Mau gimana lagi?

Saya assignment ke Jepang tanpa persiapan bahasa. Setelah di kantor Jepang, kami berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Mau belanja, tinggal lihat harga, ambil barang dan bayar di kasir sesuai yang tertera di mesin teller atau di kalkulator jika belanja di pasar tradisional. Mau jalan-jalan, tinggal cari informasi dari internet dan tinggal baca petunjuk dalam bahasa Inggris selama perjalanan. Semua petunjuk jelas.

Usaha belajar bahasa Jepang ada, tetapi hanya seminggu sekali. Hasilnya? Cuma bisa baca katakana dan hiragana. Diajak ngomong bahasa Jepang? Zen zen wakarimasen!

Advertisements

Perjalanan Pagi Ini

Menuju genangan 20 cm

Menuju genangan 20 cm

Hujan masih terus rajin mengguyur Jakarta tanpa kenal waktu. Seperti pagi ini, hujan tidak ada tanda-tanda hendak reda. Kami harus tetap berangkat ke tempat aktivitas. Ayah berangkat ke kantor, Faiz ke sekolah plus daycare, dan saya mengantar Faiz lanjut ngantor. Beruntunglah Bubul libur, jadi bisa turut serta kami (saya dan Faiz) sehingga Faiz bisa sambil sarapan di mobil.

Dari rumah sudah menyiapkan hati akan sampai kantor terlambat dan ada kemungkinan untuk putar balik akibat jalan banjir atau macet parah tidak bergerak.

Pertama, “mau lewat belakang seperti biasa atau lewat depan”. Saya memutuskan untuk tetap lewat belakang, kalau banjir ya putar balik. Alhamdulillah, lewat belakang tidak ada genangan air. Aman…!!

Kedua, “masuk jalan Sungai atau tetap di jalan Kahfi 1”. Kalau lewat jalan Sungai dan ternyata macet parah, saya sudah siap jika harus putar balik. Saya sudah siap-siap menyalakan lampu sign ke kiri tanda mau masuk jalan Sungai. Pak Ogah di mulut jalan Sungai langsung memberikan info jikalau jalan Sungai macet parah tidak bergerak. Baiklah saya lanjutkan perjalanan ini dengan melaju jalan Kahfi 1.

Semenit kemudian Faiz bilang, “mau eek”. Saya langsung celingak celinguk mencari toilet umum. Saya tahu ada pom bensin terdekat, tetapi untuk mencapai sana butuh beberapa waktu terlebih dengan situasi jalanan padat merayap. “tahan Faiz, di depan ada pom bensin”, ujar saya. Akhirnya sampailah kami di pom bensin terdekat. Urusan di pom bensin selesai, perjalanan berlanjut. Hujan semakin deras, jarak pandang terbatas. Santai saja lah.

Ketiga, “setelah lewat jalan Bango menuju jalan Swadaya, banjir gak ya”. Saya coba telpon salah satu teman kantor yang saya perkirakaan sudah sampai di kantor tetapi telpon tidak dijawab. Walaupun tak lama kemudian, dia sms. Baiklah… Jikalau ternyata jalan itu banjir, saya sudah bersiap untuk putar balik menuju Cilandak KKO. Sampai di lokasi, saya melihat genangan air kira-kira 20 cm. Insya Allah, kami bisa melaluinya.

Horeee…. Titik yang diperkirakan banjir sudah kami lalui. Ternyata kami tidak ada adegan putar balik. Alhamdulillah lancarr… lancar dalam arti kata tidak terlalu macet, maksudnya.

Alhamdulillah kami sampai tujuan dengan selamat.

 

Genangan Air

Semua media di Indonesia sedang ramai-ramainya memberitakan banjir. Ya, Jakarta sedang dilanda banjir. Bukan hanya Jakarta, bahkan Menado pun juga diserang banjir yang sangat dahsyat.

Mungkin ini semua merupakan peringatan bagi kita sebagai manusia. Pembangunan yang mengabaikan aspek aliran air sampai buang sampah sembarangan adalah salah satu atau salah dua dari penyebab banjir itu.

Semoga cepat teratasi masalah banjir di negri ini dan yang mendapatkan musibah diberikan ketabahan.

Alhamdulillah banjir di rumah kami hanya sampai depan rumah dan semoga jangan sampai masuk ke dalam rumah. Dulu lingkungan rumah kami tidak banjir, namun sejak banyaknya pembangunan yang menyebabkan air tidak mengalir bila hujan terus-menerus jadilah rumah kami yang letaknya di lembah juga kebagian genangan air.

Banjir Jakarta

Genangan Air di depan Rumah

Catatan : Hotel yang pernah disinggahi di Jogja

Sejak kecil, apabila saya diajak mudik oleh orang tua pasti singgah di kota Jogja walaupun tidak pernah menginap. Tidak ada saudara yang saya kenal tinggal di Jogja, tetapi makam kakek dari Bapak ada di Jogja dan wajib dikunjungi jika mudik bersama Bapak.

Yang saya ingat dari Jogja masa lalu adalah kumpulan sepeda onthel yang berbaris menunggu lampu hijau menyala. Jumlah kendaraan bermotor roda dua dan roda tiga masih sangat jarang.

Setelah dewasa (baca : tua), selalu ada kerinduan untuk mengunjungi Jogja. Setelah menikah, kami selalu bermalam di Jogja apabila mudik. Berikut adalah penginapan yang pernah kami singgahi.

  1. Hotel Madukoro, Jl. Taman Siswa – Desember 2007 (180rb/hari, triple bed)
  2. Hotel Sinar, Jl. Ketandan Kulon (dekat Malioboro) – Desember 2007 (150rb/hari, twin bed)
  3. Hotel Anugerah Wisma Wisata, Jl. Kaliurang – September 2009 (150rb/hari, queen bed)
  4. Hotel Puspita, Jl. Mayjen Sutoyo – Agustus 2010 (250rb/hari, family room, triple bed plus queen bed)
  5. Hotel Ishiro, Jl. Kaliurang – 11 Agustus 2013 (325rb/hari, king bed)
  6. Hotel Gowongan Inn, Jl. Gowongan Kidul – 12 Agustus 2013 (538rb/hari, queen bed)
  7. Roemah Eyang, Jl. Kemetiran Kidul – 12 Oktober 2013 (425rb/hari, vinsa room, double queen bed)
  8. Hotel Pyrenees, Jl. Sosrowijayan No. 1 – 24 Desember 2014 (855rb/hari, king bed)
  9. Hotel Cakra Kusuma, Jl. Kaliurang KM 5.2 No. 25 – 4 Agustus 2015 (350rb/hari, king bed)

List di atas masih akan bertambah apabila kami bertandang lagi ke Jogja, insya Allah…