Ruang 2.5m x 2.5m

Di ruang inilah kami saling melempar senyum. Terkadang dilanjutkan dengan perbincangan singkat, terkadang hanya senyum. Pertanyaan biasa kali terlontar saat pertama kali bertemu adalah “Where are you from?” dan setelah mendapat jawaban, biasanya saya akan melontarkan pertanyaan yang sama. Dan biasanya kami menjawab dengan nama negara asal kami.

“Where are you from?”

“I am from Algeria, but I grow up in France. Two different culture.”

“I am from Egypt”

“I am from Oman”

“I am from Palestine”

“I am from India”

“I am from Tunisia”

“I am Emirati”

Ya, di ruang itu kami saling mengenali. Kami berbeda warna, kami dipertemukan di ruang itu. Kami berbeda dalam cara berpakaian, kami dipertemukan di ruang itu. Kami berbeda budaya, kami dipertemukan di ruang itu. Karena 6 bulan menjadi karyawan di salah satu perusahaan di pinggiran Abu Dhabi, kami dipertemukan di ruang 2.5m x 2.5m.

Tentu saja karyawan di perusahaan ini tidak hanya berasal dari negara-negara yang sudah saya sebutkan di atas.

Female Prayer Room

Jalan-jalan ke Al Ain dari Abu Dhabi

Bagi kami yang tinggal di Abu Dhabi tetapi tidak memiliki kendaraan pribadi, maka ada dua cara yang paling masuk akal untuk menuju Al Ain. Cara pertama adalah dengan menggunakan bus antar kota (Abu Dhabi – Al Ain) dari Abu Dhabi Central Bus Station yang dekat dengan Al Wahda Mall. Cara kedua adalah menyewa kendaraan beserta supirnya.

Kami memilih cara kedua karena kami berangkat dengan rombongan 8 orang dewasa dan 1 anak balita. Itinerary sudah disiapkan, tetapi karena kami berangkat di hari Jumat maka ada penyesuaian itinerary. Beberapa tempat, seperti museum, mulai buka jam 3 sore di hari Jumat.

Berikut adalah itinerary aktual di lapangan.

  1. Al Ain Oasis
  2. Green Mubazzarah
  3. Sholat Jumat di Mesjid Green Mubazzarah
  4. Makan siang
  5. Hili Archeological Garden
  6. Al Ain Palace Museum
  7. Jebel Hafeet

Al Ain Oasis

Masuk ke Oasis, berjalan dengan lindungan pohon kurma di kanan kirinya.

Al Ain Oasis_R

Green Mubazzarah

Terletak di kaki Jebel Hafeet, Green Mubazzarah adalah tempat yang nyaman untuk menikmati alam. Tempat ini juga cocok untuk camping keluarga. Walaupun tempat ini “terpencil” tetapi ada Mesjid yang juga menyelenggarakan sholat Jumat.

Green Mubazzarah_R

Hili Archeological Garden

Sekilas tempat ini seperti Kebun Raya Bogor, hanya saja jauh lebih luas Kebun Raya Bogor. Terdapat beberapa peninggalan sejarah yang diletakkan di taman. Tempat ini sepi pengunjung. Saya melihat seorang Bapak duduk di bangku taman sambil membaca buku. Indahnya dunia.

Hili Archeological Garden_R

Al Ain Palace Museum

Dari namanya pasti sudah ketebak, tempat apakah ini. Al Ain Palace museum, dulu merupakan istana Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Bangunannya begitu bersahaja. Berkunjung ke sini mengingatkan saya akan Taman Sari Yogyakarta.

Al Ain Palace Museum_R

Jebel Hafeet

Merupakan gunung batu dan bukan gunung tertinggi di UAE. Untuk menuju puncaknya disediakan jalan lebar dan mulus. Sepanjang mata memandang, bongkahan-bongkahan batu dan jurang yang terlihat. Sampai di puncak, kita bisa melihat kerlap-kerlip lampu kota.

Jebel Hafeet_R

Urutan itinerary di atas tidak efisien secara lokasi dan waktu. tetapi karena Al Ain adalah kota kecil, jadi untuk untuk sekedar putar-putar dan bolak-balik tidak terlalu memakan banyak waktu. Dan untunglah supirnya berbaik hati mengikuti keinginan kami untuk menikmati sunset di Jebel Hafeet, walaupun sebenarnya kami agak terlambat sampai di puncak Jebel Hafeet.

Dan saya masih ingin berkunjung lagi ke Al Ain, dan saya masih ingin berkunjung ke Green Mubazzarah dan Jebel Hafeet lagi.

Perjalananku dengan Buku

Masa kecil saya banyak dihabiskan dengan aktivitas di luar ruangan. Sebagai anak yang besar di era 80an walaupun hidup di wilayah Jakarta (pinggiran), masih banyak lahan tersedia untuk arena bermain. Dari halaman rumah, kebun tetangga, lapangan, dan empang menjadi taman bermain bagi kami.

Semasa SD, tidak banyak buku yang saya baca kecuali buku pelajaran sekolah. Tetapi sesekali saya membaca dan membeli buku Tatang S (jangan ditiru), karena hanya itu buku yang mampu saya beli dengan uang jajan. Terkadang saya dapat pinjaman buku dari sepupu, bagus-bagus bukunya. Yang paling saya ingat adalah buku Tini yang sekarang sudah ada cetak ulangnya.

Saat SMP, saya mulai berkenalan dengan manga Mari-Chan dan Candy Candy. Itu pun saya harus rela mengantri untuk mendapat giliran meminjam dan membaca. Dan saya pun mulai berkenalan dengan buku Wiro Sableng. Seorang teman meminjamkan kepada saya, yang menurut pengakuannya itu adalah bacaan Bapaknya.

Dan ketika SMA, saya berteman dengan seseorang yang koleksi bukunya banyak dan setiap minggu mempunyai agenda ke toko buku bersama Papanya. Malory Towers, Lima Sekawan, dan Trio Detektif menjadi bacaan rutin selama SMA. Dan karena kawan saya itu juga berlangganan majalah Kawanku, saya pun setia menanti pinjaman darinya. Ada lagi buku yang berkesan buat saya yang saya pinjam dari seorang teman yang lain, “Sybil, gadis dengan 16 kepribadian”, yang saya selesaikan dalam waktu semalam saja karena banyak teman lain yang mengantri mau meminjam buku tersebut.

Semasa kuliah saya lebih sering membaca buku karangan Sidney Seldon, John Grisham, dan Agatha Cristie. Dan tentunya buku tersebut saya pinjam dari teman-teman saya. Sempat membaca serial Harlequin pinjaman dari seorang teman, tetapi saya kurang bisa menikmatinya. Di akhir masa kuliah, Harry Potter muncul dan menjadi bacaan favorit saat itu. Saya menunggu teman saya selesai membaca, hingga tiba giliran saya untuk membacanya. Tetapi saya hanya membaca sampai buku nomer 4. Setelah itu saya sudah tidak mengikuti serial Harry Potter lagi, karena sudah tidak ada pinjaman. Supernova pun sempat saya beli dengan harga 19rb, harga mahasiswa dengan tulisan kecil dan spasi rapat. Saya juga membaca majalah Annida dan Tarbawi. Terkadang saya membeli buku cerita kecil tulisan Helvy Tiana Rosa, Pipit Senja, Asma Nadia, Maimon Herawati, dll. Harganya sekitar 10ribu saat itu.

Masa menanti kelulusan kuliah, saya mengorek koleksi bacaan Bapak yang kebanyakan buku sastra. Ronggeng Dukuh Paruk oleh Ahmad Tohari, Burung-burung Manyar oleh Y.B. Mangunwijaya, Pengakuan Pariyem oleh Linus Suryadi AG, Para Priyayi dan Jalan Menikung oleh Umar Kayam, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu oleh Pramoedya Ananta Toer, Malu (Aku) jadi Orang Indonesia oleh Taufiq Ismail. Ternyata buku-buku tersebut lebih menarik buat saya, lebih membumi dan lebih Indonesia.

Setelah memiliki penghasilan sendiri, petualangan saya dengan buku lebih “liar”. Saya bebas menentukan buku yang ingin saya baca dan membelinya. Walaupun terkadang isi bukunya tidak cocok untuk saya. Saya tetap semangat untuk mengumpulkan berbagai macam genre buku. Setiap acara book fair digelar, saya selalu semangat datang dan memborong beberapa buku. Karena kemampuan membeli buku sudah lebih cepat daripada membaca buku, alhasil banyak buku-buku saya yang masih bersampul plastik dan belum terbuka. Berharap suatu saat saya bisa melahap semua buku koleksi saya. Semakin lama semakin luntur semangat saya membeli buku, terlebih setelah mempunyai anak karena semakin menyadari sangat terbatasnya waktu untuk membaca buku. Saya lebih memilih buku-buku ringan seputar perkembangan anak.

Dan sekarang, saya sedang semangat mencarikan dan membelikan buku buat anak. Banyak buku menarik untuk anak-anak yang ingin saya borong. Tetapi saya juga harus tahan diri, supaya buku-buku tersebut jangan hanya menumpuk tanpa pernah terjamah sekaligus mengajarkan anak supaya lebih bias mengatur keinginan.

Ada kerinduan untuk membaca buku-buku koleksi saya yang belum sempat terjamah. Dan sepertinya saya harus mengupayakan tersedianya waktu. Mulai sekarang saya harus semangat menyisihkan waktu membaca buku walaupun hanya selembar sehari. Letakkan gadget dan mulai membolak-balik halaman kertas.

AD, 23 Oktober 2014