Home » buku » Perjalananku dengan Buku

Perjalananku dengan Buku

Masa kecil saya banyak dihabiskan dengan aktivitas di luar ruangan. Sebagai anak yang besar di era 80an walaupun hidup di wilayah Jakarta (pinggiran), masih banyak lahan tersedia untuk arena bermain. Dari halaman rumah, kebun tetangga, lapangan, dan empang menjadi taman bermain bagi kami.

Semasa SD, tidak banyak buku yang saya baca kecuali buku pelajaran sekolah. Tetapi sesekali saya membaca dan membeli buku Tatang S (jangan ditiru), karena hanya itu buku yang mampu saya beli dengan uang jajan. Terkadang saya dapat pinjaman buku dari sepupu, bagus-bagus bukunya. Yang paling saya ingat adalah buku Tini yang sekarang sudah ada cetak ulangnya.

Saat SMP, saya mulai berkenalan dengan manga Mari-Chan dan Candy Candy. Itu pun saya harus rela mengantri untuk mendapat giliran meminjam dan membaca. Dan saya pun mulai berkenalan dengan buku Wiro Sableng. Seorang teman meminjamkan kepada saya, yang menurut pengakuannya itu adalah bacaan Bapaknya.

Dan ketika SMA, saya berteman dengan seseorang yang koleksi bukunya banyak dan setiap minggu mempunyai agenda ke toko buku bersama Papanya. Malory Towers, Lima Sekawan, dan Trio Detektif menjadi bacaan rutin selama SMA. Dan karena kawan saya itu juga berlangganan majalah Kawanku, saya pun setia menanti pinjaman darinya. Ada lagi buku yang berkesan buat saya yang saya pinjam dari seorang teman yang lain, “Sybil, gadis dengan 16 kepribadian”, yang saya selesaikan dalam waktu semalam saja karena banyak teman lain yang mengantri mau meminjam buku tersebut.

Semasa kuliah saya lebih sering membaca buku karangan Sidney Seldon, John Grisham, dan Agatha Cristie. Dan tentunya buku tersebut saya pinjam dari teman-teman saya. Sempat membaca serial Harlequin pinjaman dari seorang teman, tetapi saya kurang bisa menikmatinya. Di akhir masa kuliah, Harry Potter muncul dan menjadi bacaan favorit saat itu. Saya menunggu teman saya selesai membaca, hingga tiba giliran saya untuk membacanya. Tetapi saya hanya membaca sampai buku nomer 4. Setelah itu saya sudah tidak mengikuti serial Harry Potter lagi, karena sudah tidak ada pinjaman. Supernova pun sempat saya beli dengan harga 19rb, harga mahasiswa dengan tulisan kecil dan spasi rapat. Saya juga membaca majalah Annida dan Tarbawi. Terkadang saya membeli buku cerita kecil tulisan Helvy Tiana Rosa, Pipit Senja, Asma Nadia, Maimon Herawati, dll. Harganya sekitar 10ribu saat itu.

Masa menanti kelulusan kuliah, saya mengorek koleksi bacaan Bapak yang kebanyakan buku sastra. Ronggeng Dukuh Paruk oleh Ahmad Tohari, Burung-burung Manyar oleh Y.B. Mangunwijaya, Pengakuan Pariyem oleh Linus Suryadi AG, Para Priyayi dan Jalan Menikung oleh Umar Kayam, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu oleh Pramoedya Ananta Toer, Malu (Aku) jadi Orang Indonesia oleh Taufiq Ismail. Ternyata buku-buku tersebut lebih menarik buat saya, lebih membumi dan lebih Indonesia.

Setelah memiliki penghasilan sendiri, petualangan saya dengan buku lebih “liar”. Saya bebas menentukan buku yang ingin saya baca dan membelinya. Walaupun terkadang isi bukunya tidak cocok untuk saya. Saya tetap semangat untuk mengumpulkan berbagai macam genre buku. Setiap acara book fair digelar, saya selalu semangat datang dan memborong beberapa buku. Karena kemampuan membeli buku sudah lebih cepat daripada membaca buku, alhasil banyak buku-buku saya yang masih bersampul plastik dan belum terbuka. Berharap suatu saat saya bisa melahap semua buku koleksi saya. Semakin lama semakin luntur semangat saya membeli buku, terlebih setelah mempunyai anak karena semakin menyadari sangat terbatasnya waktu untuk membaca buku. Saya lebih memilih buku-buku ringan seputar perkembangan anak.

Dan sekarang, saya sedang semangat mencarikan dan membelikan buku buat anak. Banyak buku menarik untuk anak-anak yang ingin saya borong. Tetapi saya juga harus tahan diri, supaya buku-buku tersebut jangan hanya menumpuk tanpa pernah terjamah sekaligus mengajarkan anak supaya lebih bias mengatur keinginan.

Ada kerinduan untuk membaca buku-buku koleksi saya yang belum sempat terjamah. Dan sepertinya saya harus mengupayakan tersedianya waktu. Mulai sekarang saya harus semangat menyisihkan waktu membaca buku walaupun hanya selembar sehari. Letakkan gadget dan mulai membolak-balik halaman kertas.

AD, 23 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s