Book Fair @Nursery

Selama 3 hari, 23-25 November 2014, diselenggarakan Book Fair di Nursery Tole. Banyak buku anak-anak yang menarik tersedia di sana. Orang tua dan anak diminta partisipasinya.

23 November 2014

Ketika saya datang menjemput, mata saya langsung tertuju ke buku-buku yang tertata rapi di atas meja di salah satu sudut halaman depan Nursery. Saya langsung mengajak Tole untuk memilih buku yang Tole mau. Aunty yang ada di situ langsung menawarkan buku kepada kami.

“F, this book is good for you.”

“F, you must like this book.”

“F, this one is about number. You must have this.”

“F, this is animal book. You must like it.”

Heboh suasana sore itu. Tole telah memegang satu buku Alphabet & Colours dan sedang menimbang-nimbang untuk mengambil buku kedua. Karena kelamaan, saya langsung mengambil satu buku lagi berjudul Transport & Occupation dan segera membayar di resepsionis. Kami tidak bisa berlama-lama karena taksi sudah menunggu di luar.

Hasil dari Book Fair

Hasil dari Book Fair

25 November 2014

Sebelum berangkat, kami memasukkan sejumlah uang ke dalam amplop yang telah disediakan oleh pihak Nursery. Uang di dalam amplop tersebut akan diberikan kepada Teacher atau Aunty, kemudian anak memilih buku dengan harga sama atau di bawah nilai uang di dalam amplop tersebut. Dengan uang yang kami bekali, Tole pulang ke rumah dengan membawa 2 buku baru. Carla the Cow dan Shapes on The Farm.

Di perjalanan pulang…

“Tadi uangnya abis gak?”, tanya saya.

“Enggak”, kata Tole

“Duit di amplop masih ada?”, saya tanya lagi.

“Enggak, aku kasih Sef.”, jawab Tole.

“Enak banget Sef dikasih duit sama F.”, kata saya.

“Aku baik ya, Bu.”, Tole memohon persetujuan.

Dan saya pun tak sanggup berkata-kata lagi, hanya bisa tertawa terbahak di dalam hati.

BookFair

Advertisements

Bubu Ebu Ibu… Mama….

“Mamaaaa…”, sambut Tole ketika melihat saya datang di nursery sore itu.

Mama adalah kata yang sering terdengar untuk panggilan Ibu di nursery.

“F, Mama’s coming….”, Aunty di nursery selalu memberitahu Tole ketika saya datang untuk menjemput.

Sampai di rumah, panggilan pun kembali seperti semula. “Bubu… Bubuu…”

Awal-awal kelahiran Tole, saya membahasakan diri sebagai “Bubu”. Dan panggilan itu masih dianggap aneh oleh lingkungan.

“Ada-ada aja…”, kata mereka.

Alasan saya membahasakan “Bubu” supaya Tole bisa lebih dulu memanggil saya walaupun pada kenyataannya Tole lebih dulu bisa memanggil Ayah, “Yah… Yayah…”.

Sedikit kecewa deh. 🙂

Karena saat itu lingkungan masih merasa aneh dengan panggilan “Bubu”, jadilah panggilan “Ibu” yang sering terdengar untuk mengajarkan Tole memanggil saya. Sering juga menjadi “Ebu… Ebooo” bila diucapkan Tole.

.

.

.

“Manggilnya Bubu aja ya Le….”, 🙂

Pertama kali ke Dubai

Setelah 11 hari saya mendarat di Abu Dhabi, saya diajak jalan-jalan ke Dubai. Ada apa di Dubai, saya belum punya bayangan dan saya pun belum ada waktu untuk mencari tahu. Semuanya saya percayakan kepada Bapak-bapak yang lebih dulu mempunyai bayangan mengenai Dubai. Kami pergi dengan 6 orang dewasa, 1 anak-anak, dan 3 balita dengan menyewa mobil van.

Tujuan pertama adalah Palm Jumeirah yang merupakan sebuah pulau dengan bentuk pohon palem. Sampai di Palm Jumeirah, kami pun terlihat “keder” alias bingung. Kami masuk ke sebuah bangunan yang di dalamnya ada toko dan ada beberapa beberapa tempat penjualan tiket untuk masuk ke tempat atraksi tersebut. Salah satunya adalah Atlantis Water Park, kalau saya tidak salah. Antrian pembelian tiket mengular dan kami pun meninggalkan bangunan tersebut.

Kami berjalan menuju stasiun Palm monorail, membeli tiket, menunggu kereta datang dan naik kereta monorail. Kami membeli tiket return atau pulang pergi. Harga tiket return ini adalah 25 dirham. Dari stasiun keberangkatan awal kembali ke stasiun keberangkatan awal lagi. Dari kereta kami dapat melihat pulau yang berbentuk palem dan Burj Al Arab, bangunan seperti layar perahu yang sangat terkenal .

Selanjutnya kami berangkat ke Dubai Mall. Maksud hati mencari tempat sholat Jumat di sana, tetapi ternyata di sana tidak diadakan sholat Jumat. Tidak jelas aktivitas kami di sana. Putar-putar mencari tempat sholat, duduk-duduk sambil melihat hilir mudik orang, lihat-lihat akuarium dari luar, dan mencari makan siang.

Setelah kenyang, kami keluar Mall sambil berfoto-foto di tempat yang cukup menarik buat kami. Salah satu spot menarik di luar gedung Dubai Mall adalah pemandangan dengan latar Burj Al Khalifa, bangunan tertinggi di dunia. Setelah puas berfoto-foto, kami berangkat ke Miracle Garden.

Miracle Garden adalah kebun bunga yang ditata sedemikian rupa sehingga nampak sangat cantik dan menarik. Ingin rasanya berlama-lama di sana. Harga tiket masuk 30 dirham per orang.

Tetapi sayang, foto-foto perjalanan hari itu (11 April 2014) lenyap ditelan laptop yang error. Dan sepertinya kami harus kembali ke sana. 🙂

Sekilas terkesan kehidupan di Dubai lebih “hidup”, tetapi saya lebih suka tinggal di Abu Dhabi.

Explorer : Semua tentang Abu Dhabi dan UAE

Pemborosan…!! Ya, saya telah melakukan pemborosan dengan membeli buku-buku ini. Berapa ratus dirham saya habiskan untuk buku-buku ini. Padahal telah banyak informasi bertebaran di dunia maya, bahkan beberapa lebih akurat dan lebih terkini.

Explorer

Ya, saya senang dengan buku-buku. Saya senang melihat-lihat dunia walau hanya lewat tulisan. Saya senang melihat-lihat dunia walau hanya lewat gambar. Saya senang mengunjungi tempat-tempat yang sebelumnya saya lihat lewat tulisan dan gambar. Saya senang bermimpi suatu saat mengunjungi tempat-tempat yang pernah saya lihat lewat tulisan dan gambar.

Dan misi terpenting saya membeli buku-buku ini adalah sebagai salah satu cara untuk mengurangi penggunaan gadget di rumah, terutama untuk si Tole. Kami membuka buku-buku tersebut, melihat-lihat gambar dan bagian terseru adalah membuka peta bersama.

Dengan buku-buku tersebut, kami mendiskusikan tempat tujuan yang dimaksud. Ada apa di sana, jam buka, jarak tujuan dari rumah kami, dan harga tiket masuk. Harga tiket yang tertera di buku-buku ini kurang akurat.

Akhir pekan kemarin, saat jalan-jalan si Tole membuka peta dan minta ditunjukkan posisi kami dalam peta tersebut.

Alhamdulillah Kamis lagi. Bersiap menyambut datangnya akhir pekan… 🙂

Makanan Halal di UAE

Peredaran minuman beralkohol dan daging babi sangat jelas diatur di UAE. Namun bukan berarti kita lengah dan menganggap semua makanan di UAE halal. Saya sendiri masih merasakan kesulitan untuk memastikan kehalalan makanan.

Untuk makanan kemasan, saya harus mengernyitkan dahi untuk membaca ingredientnya terutama yang tidak ada label halal. Untuk makanan yang diproduksi di Negara Islam seperti UAE, Saudi, Oman, saya berpikiran positif, insya Allah makanan tersebut halal. Untuk makanan yang impor, terutama dari Eropa atau Amerika saya harus ekstra hati-hati dalam membaca ingredientnya. Di sini bukan berarti kalau saya selalu benar, tetapi sekedar berusaha untuk berhati-hati. Kalaupun saya luput, wallahu alam…

Lain lagi ketika kami makan di restoran atau food court. Makanan franchise semacam KFC atau BK, insya Allah aman karena mencantumkan tulisan halal di outletnya. Dan ketika kami hendak makanan di restoran, kami hanya mengandalkan insting saja.

Syukurlah produk-produk halal akan mudah diidentifikasikan. Terima kasih Emirates Standardisation and Metrology Authority (ESMA).

Abu Dhabi Week Vol. 07 Issue 44 I 30 October - 5 November 2014

Abu Dhabi Week
Vol. 07 Issue 44 I 30 October – 5 November 2014

Piknik ke Bandara Abu Dhabi

Kalau biasanya kami ke bandara malam hari, kali ini kami ke bandara siang hari. Di Sabtu siang yang sejuk, kami berangkat menuju Bandara. Dari rumah kami, cukup jalan ke halte bus di Airport Road dan menanti bus bandara itu datang.Atau jikalau malas berjalan kaki, bisa juga naik bus dari halte terdekat rumah sampai di halte belakang Carrefour Airport Road untuk selanjutnya menanti bus bandara. Bus Bandara ini akan datang setiap 1 jam sekali. Bus bandara ini beroperasi selama 24 jam.

Bus bandara nomer A1 menuju bandara Abu Dhabi ini memulai rutenya dari Al Zahiyah City Air Terminal yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Abu Dhabi Mall. Cukup dengan 4 dirham saja, kita bisa sampai kebandara.

Lokasi tempat kami menanti bus bandara sekitar setengah jalan dari Al Zahiyah City Air Terminal. Sebagai perbandingan, jika kami naik taksi biasa dari halte dekat rumah untuk mencapai bandara, ongkos yang dikeluarkan sekitar 50 dirham.Tetapi untuk arah sebaliknya, 70 dirham karena taksi yang kami tumpangi adalah taksi bandara. Taksi biasa adalah mobil Toyota Camry dan taksi bandara adalah 6-seater black Mercedes Vitos.

Sampai di Bandara, kami keliling di terminal kedatangan dan keberangkatan, lihat-lihat toko buku, duduk-duduk sambil membaca, makan kue dan minum.

Judulnya piknik ke bandara tetapi kami tidak melihat pesawat, hanya melihat orang hilir mudik yang siang itu terlihat tidak terlalu ramai.

Setelah merasa cukup piknik di bandara, kami pun pulang dengan membawa oleh-oleh yang berupa satu bundle kartu pos, peta wisata Abu Dhabi dan Dubai, dan brosur agen travel. Semuanya gratis…

Oleh-oleh dari Bandara

Oleh-oleh dari Bandara

UAE Heritage Village

Jumat sore yang panas di pertengahan bulan Agustus, kami berkunjung UAE Heritage Village. Untuk mengejar agar cepat sampai lokasi, kami menggunakan jasa taksi. Lokasi UAE Heritage Village tidak terlalu jauh dari Marina Mall. Dari kejauhan terlihat bendera besar berkibar sebagai tanda bahwa disitulah Heritage Village berada.

Kami pun disambut oleh gapura sebagai pintu gerbang. Heritage Village ini menggambarkan kehidupan di Abu Dhabi sekitar 40 tahun yang lalu, ketika minyak belum dieksplorasi. Begitu kontras dengan kehidupan sekarang. Dari sisi Heritage Village, kita dapat memandang gedung-gedung modern berlomba menampakkan kegagahannya. Tidak ada biaya yang dipungut ketika memasuki area ini.

UAE Heritage Village

UAE Heritage Village

Saat matahari tenggelam adalah saatnya kembali ke rumah. Karena tidak ada bus yang lewat atau pun taksi yang ngetem, maka kami harus berjalan ke halte yang terdekat. Kami memilih untuk berjalan ke halte Café Marina. Target kami adalah menyetop taksi agar segera sampai rumah. Namun taksi yang lewat selalu isi, sepertinya hendak mengantar penumpang ke Marina Mall. Seharusnya kami ikut bus sampai ke Marina Mall untuk kemudian naik bus lagi atau naik taksi. Tetapi kami terus berjalan ke halte berikutnya ke arah Corniche Public Beach sampai mendapatkan taksi. Sebagai pelajaran untuk lain kali jikalau pulang dari Heritage Village, sebaiknya jalannya ke arah Marina Mall yang kemungkinan keberadaan transportasi umumnya lebih banyak. Tetapi jika ingin memanggil taksi, ya tinggal menunggu taksi di tempat yang telah disepakati.