Hikmah Kompor Listrik

Kami memutuskan menggunakan kompor listrik dengan alasan kepraktisan. Kepraktisan di sini bukan dari segi waktu dan cara mengoperasikan kompor. Tetapi lebih karena untuk mengurangi hal yang harus diurus Ayah saat-saat awal kedatangannya di Abu Dhabi. Penggunaan gas di Abu Dhabi harus dengan pemasangan instalasi dan berlangganan. Berbeda dengan di Jakarta, beli gas tabung lalu langsung pasang ke kompor dan kompor siap digunakan.

Saya sudah tahu bagaimana rasanya bergulat dengan kompor listrik. Saya pernah menggunakannya selama sekitar 2 tahun waktu di Yokohama. Waktu itu saya masih bujang dan masak bukanlah sesuatu hal yang harus dikerjakan setiap hari.

Saat di Abu Dhabi, masak adalah wajib dikerjakan setiap hari terutama untuk makanan Tole. Awalnya saya merasa memasak adalah pekerjaan yang sangat menyita waktu. Butuh waktu lebih lama agar kompor panas dan saya merasa kesulitan mengatur panas kompor.

Sekarang saya merasa bersyukur menggunakan kompor listrik. Pertama : permukaan elemen panas kompor rata, maka saya merasa lebih aman kalau Tole ikut membantu memasak di dapur. Kedua : karena untuk menjadi panas cukup lama, maka pekerjaan memasak adalah pekerjaan yang bisa disambi. Sambil memasak sambil nyetrika baju. Sambil memasak bisa sambil menjemur. Sambil memasak bisa sambil memandikan Tole.

Saya lebih memilih pekerjaan “kering” untuk disambi dengan memasak. Andai saya menggunakan kompor gas, saya harus fokus pada pekerjaan memasak saja baru bisa beralih ke pekerjaan lain.

Kompor listrik mengajarkan saya untuk lebih bersabar dan mencari solusi di setiap problemanya.

Advertisements

Melihat Keramaian Sekaten Solo

Sekaten adalah acara yang didedikasikan untuk memperingati Maulid Nabi SAW. Dan sekarang acara Sekaten berkembang, dan identik dengan Pasar Malam atau Pasar Kaget yang tidak hanya buka di waktu malam. Inilah hiburan rakyat yang benar-benar bisa dinikmati oleh rakyat kebanyakan.

Keramaian Sekaten yang berlangsung dari tanggal 5 Desember 2014 sampai 4 Januari 2015 ini berpusat di Alun-alun utara Keraton Solo.

Kami tiba di lokasi Sekaten sekitar jam 12 siang dan langsung mencari lokasi pentas lumba-lumba. Ternyata pentas baru akan dimulai jam 3 sore. Kalau bukan karena sudah berjanji ke Tole, kami sudah langsung pulang.

Sambil menunggu pentas lumba-lumba mulai, kami keliling Pasar Kaget dan berhenti di tempat-tempat Tole mau mainan. Biaya sekali main rata-rata sekitar 7rb sampai 8rb. Sebenarnya tidak murah juga dibandingkan tempat bermain di Mal. Tapi bagi sebagian orang, Mal adalah tempat mahal dan untuk ke sananya pun butuh biaya lebih dibandingkan dengan datang ke Pasar Kaget.

Sekaten

Dengan datang ke Pasar Kaget, 2-3 pulau dapat terlampaui. Ada tempat permainan anak-anak, ada penjual pakaian, ada penjual pernak-pernik dari mainan sampai hiasan, ada penjual makanan juga.

Sekitar 1 jam sebelum pentas lumba-lumba dimulai, kami membeli tiket masuknya. Kami memilih tiket VIP seharga 35rb. Tiket klas 1 adalah 25rb dan tiket klas 2 adalah 20rb. Tempat duduk VIP adalah yang paling dekat dengan kolam pentas lumba-lumba.

Menjelang pentas mulai, kami memasuki area pentas lumba-lumba. Area pentas ini tidak steril dari pedagang yang menggoda anak-anak untuk merengek ke orang tuanya minta dibelikan mainan. Pistol gelembung menjadi favorit anak-anak.

Pentas dimulai dari pentas satwa-satwa seperti burung, anjing laut, dan anjing. Pentas yang terakhir dan yang paling lama adalah pentas lumba-lumba sebagai pentas utama. Walaupun atraksi si lumba-lumba hampir sama di pentas di mana pun, namun pentas lumba-lumba ini cukup menarik dijadikan alternatif liburan keluarga.

Lumba-lumba