Jalan-jalan Malang-Batu Bagian 2

Sambungan…

1 Januari 2015

Setelah sarapan, kami keluar hotel dan menanti angkot atau taksi untuk mengantarkan kami ke Alun-alun kota Batu. Adalah taksi Citra yang menjadi rejeki kami pagi itu.

Dan sampailah kami di Alun-alun Kota Batu. Tole tertidur di gendongan dan kami pun hanya duduk-duduk menikmati keramaian di Alun-alun. Ayah tidak rela saya tinggal ke Plaza Batu untuk membeli pakaian ganti. Pakaian ganti kami sudah menipis, terutama untuk Tole. Pakaian yang saya cuci pun masih basah. Beginilah resiko bepergian di musim hujan.

Alun-alun Batu

Setelah Tole bangun, kami pergi ke Plaza Batu. Tole dan Ayah ke tempat bermain, saya membeli pakaian.

Hari semakin siang, kami meninggalkan Alun-alun Batu dan menuju Museum Angkut.

Kami tidak kesulitan mendapatkan taksi, karena banyak taksi Citra yang ngetem di sekitar Alun-alun.

Setelah sekitar 15 menit di taksi, kami tiba di Museum Angkut. Kendaraan padat di sekitar Museum Angkut. Antrian tiket masuk dan masuk ke dalam Museum panjang. Di dalam Museum, sangat padat manusia. Tidak nyaman mengunjungi Museum dengan suasana sangat bising. Kebanyakan pengunjung hanya senang mengambil foto dan bernarsis ria. Memang Museum Angkut ini sangat bagus untuk foto-foto.

Museum Angkut

Dan… Museum Angkut ini terlalu luas untuk dikunjungi dalam waktu kurang dari 3 jam.

Keluar dari Museum Angkut, kami menuju Pasar Apung. Banyak penjual makanan dengan berbagai macam masakan dan makanan khas nusantara.

Pasar Apung

Dan karena Tole minta naik perahu, kami harus rela mengantri sampai hampir 20 nomer. Jalan-jalan selain orang tuanya senang, anaknya pun harus senang.

Dari naik perahu kami masuk ke Museum Topeng. Museum kecil penuh dengan koleksi topeng dan beberapa benda bersejarah lainnya. Sayang sekali, tidak ada cerita yang menyertai berbagai topeng dan benda bersejarah lainnya.

Museum Topeng

Sebelum pulang ke hotel, kami mampir di tempat makan kapal Cheng Ho yang masih berada di dalam Pasar Apung.

Hari sudah gelap ketika kami keluar dari kawasan Museum Angkut. Ketika kami sedang mengamati situasi, seorang tukang ojek menawarkan jasanya. Karena harganya cocok, maka kami langsung mengiyakan tawaran si tukang ojek. Kami membayar 15rb untuk satu ojek.

Sepanjang perjalanan dari Museum Angkut sampai ke hotel, pemandangan kemacetan kendaraan yang terlihat. Dan menurut penuturan tukang ojek, kemacetan tersebut sampai kota Malang.

Kami terselamatkan oleh tukang ojek.

2 Januari 2015

Kami bersiap sepagi mungkin yang kami bisa karena saya masih ingin mampir ke kota Malang untuk mengunjungi Museum Tempoe Doeloe.

Kami siap berangkat sekitar jam 9 pagi. Beruntung kami tidak terlalu lama menunggu taksi Citra lewat.

Dari hasil pembicaraan kami dan supir taksi, kami memutuskan untuk langsung ke Bandara Abdurrahman Saleh dan membeli oleh-oleh di tempat terdekat yang direkomendasikan oleh Pak Supir.

Menjelang sholat Jumat, kami sudah tiba di Bandara. Jadwal penerbangan kami jam 14.50, cukup lama kami menunggu hingga waktu terbang.

Kondisi Bandara Malang yang mengenaskan hari itu. Semua toilet tidak ada airnya…!!

Setelah penantian yang terasa lama, tiba juga giliran kami terbang. Alhamdulillah kami tiba di Jakarta dengan lancar walaupun diiringi cuaca buruk selama perjalanan.

Selesai,

Advertisements

Jalan-jalan Malang-Batu Bagian 1

31 Desember 2014

Kami memulai perjalanan ke Malang dari stasiun Solo Balapan dengan kereta Malioboro Ekspres. Kereta bergerak meninggalkan stasiun Solo Balapan jam 9 malam dan kami tiba di stasiun Malang jam 4 pagi. Kami pun menunggu subuh di stasiun.

31 Desember 2014

Stasiun Malang

Setelah matahari mulai bersinar, kami melangkahkan kaki keluar stasiun menuju Alun-alun Tugu yang berlokasi di dekat Balai Kota Malang. Kami berjalan santai sambil meluruskan badan setelah 7 jam di dalam kereta.

Kami memutari Alun-alun sambil menggerak-gerakkan anggota tubuh. Segar sekali udara pagi itu. Walaupun kami merasa sudah cukup lama di Alun-alun, nyatanya kami baru menghabiskan 30 menit di Alun-alun.

Alun-alun Tugu

Hari masih terlalu pagi untuk memulai eksplorasi Malang. Saya dan Tole naik angkot dengan nomer sembarang. Sementara Ayah menunggu di Alun-alun sambil menjaga barang bawaan kami.

Kembali ke Alun-alun Tugu, masih jam 7.30. Kami mulai bosan dan kami berjalan kaki ke Museum Malang Tempo Doeloe. Menurut informasi yang baca di dunia maya, museum tersebut buka jam 8. Begitu sampai di lokasi, Museum belum buka. Kami pun bertanya ke tukang becak dan katanya Museum baru buka jam 10. Ya sudah, lupakan Museum Tempo Doeloe untuk hari ini.

Kami naik becak menuju Alun-alun Bunder yang berlokasi dekat Masjid Jamik & Toko Oen dengan tarif 20rb.

Alun-alun Bunder sedang dalam proses renovasi. Alun-alun ini akan lebih menarik kalau rapi dan bersih. Termasuk juga bersih dari pedagang kaki lima. Ada air mancur, ada burung dara dan rumahnya, dan ada taman yang rindang.

Alun-alun Bundar

Kami sarapan soto di depan Masjid Jamik. Setelah sarapan kami berangkat ke Batu dengan taksi Citra.

Kami mampir hotel untuk menitip barang bawaan di resepsionis dan lanjut menuju ke Jatim Park 2. Jatim Park 2 terdiri dari Batu Secret Zoo dan Museum Satwa. Hotel kami berlokasi dekat dengan gapura Selamat Datang di Kota Wisata Batu.

Tiket dibeli seharga 125rb untuk masuk ke Jatim Park 2 dan Eco Green Park. Pertama kami masuk ke Museum Satwa. Awalnya kami begitu terpesona dengan keindahan diorama kehidupan hewan-hewan. Kemudian kami bosan juga, karena cuma diorama.

Museum Satwa

Dari Museum Satwa, kami menuju Eco Green Park dengan menumpang mobil shuttle dengan karakter kereta Thomas.

Konsep Eco Green Park sangat bagus dan edukatif asal kita mengalokasikan banyak waktu di Eco Green Park ini. Ada beberapa demo dan eksperimen edukatif yang bisa diikuti dengan waktu-waktu tertentu. Tapi karena kami masih harus ke Batu Secret Zoo yang katanya merupakan “gong” dari Jatim Park 2, maka kami lebih harus selektif dalam memilih wahana di mana kami harus berlama-lama.

Eco Green Park

Begitu keluar dari Eco Green Park, pas ada mobil shuttle berhenti dan siap mengangkut penumpang. Tetapi karena tiba-tiba Tole minta ke toilet, kami hanya bisa melambaikan tangan ke mobil shuttle kereta Thomas. Terpaksa kami harus berjalan kaki menuju Batu Secret Zoo. Dan ternyata pintu masuk Batu Secret Zoo tidaklah jauh dari pintu keluar Eco Green Park, karena telah disediakan jalan pintas.

Untuk mengeksplorasi Batu Secret Zoo cukup mengikuti lintasan dan tanda arah saja. Kita tidak akan tersesat ataupun kembali lagi ke kandang yang sama.

Kaki kami sudah terasa linu, tetapi kami tetap memaksakan berjalan kaki karena e-bike habis tersewa. Sebentar-sebentar kami duduk-duduk di tempat yang sudah disediakan.

Pengunjung sangat ramai saat itu, sambil duduk-duduk kami mencoba mengamati para pengunjung yang datang. Banyak rombongan keluarga besar dengan kaos seragam. Ada juga yang seperti kami, datang dengan keluarga inti saja.

Koleksi hewan-hewannya sangat beragam dan terawat.

Batu Secret Zoo

Setelah lebih dari 1 jam eksplorasi Batu Secret Zoo, kami melihat pondok tempat penyewaan e-bike. Kami langsung menuju ke sana dan katanya semua e-bike habis tersewa. Kalau mau kami bisa masuk daftar waiting list. Dan demi memenuhi janji dengan Tole, kami pun setia menunggu sampai mendapat giliran menyewa e-bike. Kami mendapatkan nomer antrian 19.

Hujan mulai turun rintik-rintik. Kami membeli jas hujan plastik lengan pendek seharga 10rb, yang harga di pasar 4rb. Sambil menunggu giliran e-bike, kami membeli makanan untuk mengganjal perut.

Setelah lebih dari 30 menit menunggu, akhirnya tiba juga giliran kami.

Untuk mengatur ritme sisa eksplorasi di Batu Secret Zoom, kami bertanya ke petugas, “Kira-kira berapa lama lagi sampai di pintu keluar Batu Secret Zoo?”.

“Ini baru 1/3 perjalanan”, katanya.

Berarti kami harus bergegas agar waktu 3 jam sewa e-bike seharga 100rb cukup untuk mengeksplorasi seluruh atraksi di Batu Secret Zoo, pikir kami saat itu.

Hujan yang tidak deras makin meriah. Setelah melewati beberapa atraksi alias kandang hewan, kami sampai di arena bermain anak. Kami sengaja tidak berlama-lama di tempat bermain anak. Hanya beberapa permainan yang Tole jajal.

Dari area permainan anak, kami bertemu kandang singa dan harimau dari berbagai ras. Kita bisa melihat harimau dan singa tersebut dari depan dan dari atas. Kami memilih melihat dari depan karena itu berarti masuk ke dalam terowongan.

Keluar dari terowongan, kami masih bisa melihat singa dari ras yang lain lagi. Dan di dekat situlah lokasi pintu keluar. Ternyata kami tertipu..!!

Kami baru mengendarai 1 jam e-bike. Karena tidak mau rugi, kami tidak mau langsung keluar. Jadilah kami mainan e-bike berputar-putar di sekitar pintu keluar, sekalian Tole latihan mengendarai e-bike. Tapi namanya anak umur 4thn, masih belum bisa mengontrol gas dan setir.

Bosan dengan e-bike, kami memutuskan untuk keluar Batu Secret Zoo sambil memandang Pohon Inn. Semoga kami bisa kembali lagi dan menginap di sana.

Gerimis masih setia.

Kami belum tahu akan kembali ke hotel dengan moda transportasi apa. Kami berlari kecil menuju jalan yang kami anggap jalan raya di depan kawasan Jatim park 2 di mana berjejer warung makan di sepanjang jalan tersebut. Kami memilih berteduh di salah satu warung bakso Malang, menikmati hangatnya kuah bakso dan mengamati kendaraan yang lalu lalang.

Bakso sudah habis dan hujan pun sudah mereda, kami mencoba peruntungan kami. Apakah kami akan naik taksi atau naik angkot untuk sampai hotel. Opsi naik ojek sudah ditolak sama Ayah, alasannya karena hujan.

Tiba-tiba angkot ungu berhenti di hadapan kami. Kami tidak diberi waktu untuk bertanya. Pak Supir hanya mengatakan, “yang penting naik dulu”. Baiklah kami turuti kata-kata Pak Supir. Dan ternyata Pak Supir bersedia mengantarkan kami sampai ke hotel, 10rb per orang.

Kami menginap di Hotel Kampung Lumbung Boutique. Hotel dengan nuansa kayu-kayu tradisional.

Kampung Lumbung

Akhirnya kami bisa mandi dan merebahkan badan. Dan baru terasa kalau perut kami lapar. Kami mengambil welcome snack (bakso Malang) dan lanjut makan di café hotel. Kami sudah tidak sanggup kalau harus mencari makan di luar hotel.

Kami kembali ke kamar dan tidur. Saya berniat untuk bangun menjelang pergantian tahun karena akan ada atraksi kembang api dan lampion di pekarangan hotel. Yang terjadi adalah saya sudah tidak sanggup bangun dan keluar kamar. Suara kembang api pun hanya terdengar sayup-sayup di telinga saya.

Bersambung…