Liburan Idul Adha Oktober 2015 Bagian 3

25 Oktober 2015

Pada hari Jumat, tempat tujuan wisata di Sharjah mulai buka jam 4 sore. Untungnya bis hop on hop off mulai beroperasi dari jam 10 pagi. Jadi kami bisa menikmati Sharjah dari dalam bis saja.

Kami baru keluar hotel sekalian check out jam 12 siang. Dan langsung menuju halte Central Souq. Ayah langsung menuju mesjid King Faisal untuk shalat Jumat, sementara saya dan Tole masuk ke dalam bis hop on hop off green line. Saya tidak berniat turun di salah satu titik pemberhentian, mall dan tempat wisata belum buka sampai setelah waktu shalat Jumat. Kami akan bertemu lagi di taman dekat Cental Souq.

Saya dan Tole sampai duluan di taman Central Souq. Ayah datang kemudian dengan membawa seporsi nasi biryani yang cukup untuk 2 orang dewasa dan 3 buah pisang yang besar seharga 13 dhs. Katanya tempat beli nasi biryani itu tempat langganan Ayah dulu sewaktu dinas di Sharjah. Tole langsung melahap 3 buah pisang dan tidak mau makan nasi.

01. Blue Souq

Selesai makan, kami naik bis hop on hop off green line (lagi). Saya dan Tole untuk kedua kalinya dan Ayah untuk yang pertama.

Kembali lagi ke halte Central Souq. Dan kami melanjutkan naik bis hop on hop off red line menuju Sharjah Aquarium dan Maritime Museum.

Ramai sekali sore itu. Bahkan ada serombongan bis besar yang hendak masuk ke Aquarium.

02. Sharjah Aquarium

Koleksi di Aquarium kurang greget tapi cukup menarik untuk bocah. Dari Aquarium, kami langsung masuk ke Maritime Museum karena kami membeli tiket terusan. Kapal-kapal replika di Maritime Museum masih kinclong.

03. Sharjah Maritime Museum

Dan selesai sudah penjelajahan kami di Sharjah selama liburan kali ini. Kami langsung menuju Al Jubail bus station dengan taksi. Beruntung kami rombongan keluarga dengan balita, sehingga mendapat prioritas masuk ke bis. Tempat duduk di dalam bis diatur, keluarga atau laki-laki duduk dengan laki-laki dan perempuan duduk dengan perempuan. Ada perempuan yang duduk dengan kursi sebelahnya kosong karena tidak ada calon penumpang perempuan yang terlihat saat itu. Ongkos bis Sharjah ke Abu Dhabi 30 dhs.

Sampai jumpa Sharjah…

Liburan Idul Adha Oktober 2015 Bagian 2

24 Oktober 2015

Jam 5.30 pagi, kami sudah siap berangkat menuju KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) yang berlokasi di Dubai. Kami naik taksi dari depan hotel sampai ke KJRI, Dubai dengan biaya 65 dhs (termasuk biaya 20 dhs karena melintasi batas Emirate)

Jam 6 kami sudah tiba di lapangan KJRI, shalat baru mulai jam 6.30. Tole sukses tidur selama berlangsungnya shalat Id.

01. KJRI Dubai

Setelah shalat Id selesai, kami diundang untuk makan bersama di area KJRI. Dan setelah selesai, kami langsung meninggalkan KJRI dengan tujuan Al Fahidi Historical Neighbourhood atau disebut Bastakiya yang merupakan kota tuanya Dubai.

02. Al Fahidi Neighbourhood

Dari Al Fahidi Historical Neighbourhood, kami berjalan ke Dubai Museum. Tiket masuk Dubai Museum 3 dhs untuk dewasa dan 1 dhs untuk anak-anak. Dan saat itu kami dapat kembalian 1 kotak yang isinya coklat 5 biji dan uang 5 dhs.

Masuk ke Dubai Museum seperti masuk ke Dubai masa silam, Dubai yang sangat berbeda dengan Dubai masa kini. Kita bisa melihat diorama-diorama kehidupan Dubai di masa lampau yang roda perekonomiannya bergerak di sekitar Dubai Creek sampai mulai ditemukannya minyak sekitar tahun 1970.

03. Dubai Museum

Dari Dubai Museum kami naik taksi ke Bur Dubai Station yang menurut supir taksi lokasinya tidak jauh. Dan saat itu kami tidak mau ambil resiko kelamaan jalan kaki dan kepanasan di bawah terik 40oC. Minimum tarif taksi di Dubai adalah 12 dhs.

Dari Bur Dubai Station kami naik abra dengan ongkos 1 dhs per orang, menyebrang Creek dan sampai di Deira Old Souq Station. Dari situ kami langsung naik taksi kembali ke hotel kami di Sharjah.

04. Menyebrang dengan Abra

Leyeh-leyeh dulu di hotel dan Tole tetap aktif.

Jam 2 siang, kami keluar hotel. Ayah mengusulkan ke Blue Souq atau Central Souq tapi saya maunya ke Sharjah Heritage Area karena kalau ke Blue Souq dulu dikhawatirkan akan jalan-jalan dengan membawa barang belanjaan. Akhirnya semua mengikuti keinginan saya.

Sangat kebetulan sekali kami mendapatkan supir taksi yang tidak dapat diajak omong baik-baik. Dan akhirnya kami turun di tempat yang kira-kira menjadi tujuan kami. Tole tertidur dari masih di dalam taksi. Ayah kebagian tugas menggendong Tole.

05. Teriknya Heart of Sharjah

Kami berjalan kaki di bawah terik 40oC sambil mencari pintu masuk. Setiap orang yang ditanya, selalu memberikan jawaban yang berbeda. Setelah berjalan sekitar 1 km, kami menyerah dan pergi dari kawasan tersebut. Kami menuju Blue Souq dengan taksi dan leyeh-leyeh di taman antara Blue Souq dan laguna. Minimum tarif taksi di Sharjah adalah 10 dhs.

Belum lama kami leyeh-leyeh, terlihat bis city sightseeing hop on hop off berhenti di halte dekat taman. Mata kami berbinar-binar, terutama saya karena saya sudah mimpi-mimpi mau naik bis ini.

06. Central Souq

Kami langsung membeli tiket seharga 85 dhs per orang dan anak-anak gratis. Tiket berlaku selama 24 jam. Ada 2 jalur bis hop on hop off, red line dan green line. Red line mempunyai waktu dan jarak tempuh yang lebih lama dan jauh dibandingkan dengan green line.

Kami masuk ke bis red line dan tidak berniat untuk turun di titik pemberhentian mana pun. Menurut perkiraan, kami akan tiba kembali di Blue Souq saat waktu maghrib tiba dan akan langsung menuju mesjid King Faisal yang merupakan mesjid sumbangan dari Raja Saudi.

07. Mesjid King Faisal

Dari halte Blue Souq ke mesjid King Faisal melalui dalam Blue Souq, saya hanya tengok kanan dan kiri. Banyak toko yang tutup dan hilang keinginan saya untuk sekedar melihat-lihat barang di sana.

Dari mesjid King Faisal, kami kembali ke hotel dengan membawa bekal makan malam untuk di kamar. Dan cukup untuk hari ini. Kami gemporr…

Liburan Idul Adha Oktober 2015 Bagian 1

Ternyata pergi ke Sharjah saat liburan Idul Adha adalah kurang tepat.

23 Oktober 2015

Sekitar jam 10 pagi kami bergerak menuju Abu Dhabi Main Terminal. Loket tujuan Sharjah tidak seramai loket tujuan Dubai. Kami membeli tiket untuk 3 kursi, supaya Tole bisa duduk sendiri. Setelah tiket di tangan, kami menuju peron terminal dan antrian tujuan Sharjah pun sudah mengular. Beruntung kami karena rombongan perempuan dan keluarga mengantri di barisan berbeda dengan para pengantri laki-laki. Antrian kami tidak sepanjang antrian sebelah.

Kami sudah pasrah walaupun akan dapat bis jam berapapun. Setelah kami tidak terbawa di bis pertama yang datang saat kami antri dan sekitar 10 menit kemudian ada bis lagi yang datang dan kami pun terangkut. Perjalanan dari Terminal Abu Dhabi sampai di terminal Sharjah (Al Jubail Bus Station) dengan biaya 25 dhs per orang.

Panas terik 40oC menyambut kami di terminal Sharjah. Buru-buru kami mencari pangkalan taksi supaya bisa cepat berteduh di hotel.

Lokasi hotel tempat kami menginap sebenarnya mudah dicari, cukup menyusuri corniche Buhaira atau Majaz 3. Tetapi yang terjadi adalah supir taksi mengajak kami putar-putar di sekitar Buhaira Police Station. Segera Ayah mengeluarkan google map dan memaksa supir taksi untuk mengikuti instruksi Ayah.

Lokasi hotel tempat kami menginap tepat di tepi laguna. Karena kami mengambil kamar standar, lupakan pemandangan laguna akan terlihat dari kamar.

Setelah masuk waktu shalat Ashar, kami segera bersiap memulai menjelajah Sharjah. Tujuan utama tentu saja Sharjah Aquarium yang berdekatan dengan Sharjah Maritime Museum. Sampai di sana, ternyata kedua tempat itu tutup. Kami membaca mengumuman bahwa selama hari Arafah dan Idul Adha hari pertama libur. Yaaaaa….. kami kecele…

Untungnya di kawasan tersebut ada playground di beberapa titik dan air mancur. Jadi Tole masih bisa main-main.

01. Sekitar Sharjah Aquarium

Seorang kawan Ayah memberitahukan bahwa di sekitar situ ada pantai Khan yang sebelumnya tidak masuk radar kami untuk dikunjungi.

Adzan Maghrib sudah berkumandang, segera kami menuju mesjid terdekat. Setelah Ayah menunaikan shalat maghrib, kami berjalan menuju pantai Khan sekedar survey lokasi kalau-kalau kami kembali ke Sharjah lagi. Ternyata semakin malam pantai semakin ramai. Tetapi kami tidak punya nyali untuk bermain-main air dan pasir di hari gelap.

Selanjutnya kami menuju ke Al Qasba. Di sana ada the Eye of the Emirates Wheel dengan tinggi 60 meter. Ada kanal air mengalir yang di kanan kirinya berjejer restoran-restoran. Lebih lengkap tentang Al Qasba ada di http://www.alqasba.ae/

02. Al Qasba

Tiket the Eye of the Emirates Wheel, dewasa 30 dhs dan anak-anak 15 dhs. Kita bisa menikmati 5 kali putaran roda di dalam kabin berpendingin ruangan. Tadinya saya kira akan 7 kali putaran sama seperti tawaf.

Kami makan malam di resto Jepang dengan menu nasi. Harus nasi karena kami sudah kelaparan dan makannya harus yang nampol.

Setelah kenyang, kami bergerak menuju Majaz Waterfront tempat janjian Ayah dengan temannya. Sambil berjalan, saya coba celingak-celinguk mencari hop on hop off bus yang katanya bisa naik dari Al Qasba. Pencarian nihil malam itu, kami terus berjalan sampai di suatu titik Ayah mengajak kami naik taksi ke Majaz Waterfront karena setelah dicek di mbah google map, lokasinya masih jauh.

Bermalam takbiran di Majaz Waterfront

Kami janjian di Tim Hortons yang ternyata memang lokasinya sangat dekat dengan air mancur menari.

Air mancur manari selesai dan Tole pun bosan. Kami bergerak ke arah playground. Dengan membayar 20 dhs, Tole bisa masuk ke area playground. Lebih lengkap tentang Majaz Waterfront ada di http://almajaz.ae/

03. Majaz Waterfront

Hari semakin larut, kami kembali ke peraduannya masing-masing. Besok kami harus bangun pagi-pagi untuk shalat Idul Adha.

Belajar Menjadi Ibu Belajar

Awal Juni 2015, resmi sudah saya melepas status sebagai karyawan salah satu perusahaan di Abu Dhabi setelah bekerja selama 1 tahun 2 bulan. Saya melepas status sebagai ibu bekerja setelah Tole berumur 4.5 tahun. Saya melepas status sebagai karyawan setalah 14 tahun bekerja.

Berhenti bekerja setelah mempunyai anak bukanlah merupakan keputusan yang sulit, namun membutuhkan kesabaran dan perjalanan yang tidak pendek untuk menuju suatu titik tersebut. Justru yang lebih sulit adalah memberikan pengertian ke lingkungan kenapa saya harus berhenti kerja.

Saya hanya ingin mempunyai waktu lebih banyak untuk mendampingi anak tumbuh. Saya hanya ingin mempunyai lebih banyak waktu untuk belajar. Belajar menjadi orang tua, belajar menjadi teman untuk anak. Saya ingin mempunyai waktu untuk sekedar membaca buku apa pun yang ingin saya baca. Saya juga ingin mempunyai lebih banyak waktu untuk memikirkan kemana liburan selanjutnya.

Sementara ini saya juga tidak mau menjadi ibu bekerja dari rumah. Berat buat saya untuk membagi waktu di tengah-tengah manajemen rumah tangga saya yang belum bagus. Biarlah lifestyle kami menyesuaikan pendapatan keluarga bersahaja. Biarlah kami menjadi kami yang terus berusaha belajar.

Yuk belajar