Belajar Menjadi Ibu Belajar

Awal Juni 2015, resmi sudah saya melepas status sebagai karyawan salah satu perusahaan di Abu Dhabi setelah bekerja selama 1 tahun 2 bulan. Saya melepas status sebagai ibu bekerja setelah Tole berumur 4.5 tahun. Saya melepas status sebagai karyawan setalah 14 tahun bekerja.

Berhenti bekerja setelah mempunyai anak bukanlah merupakan keputusan yang sulit, namun membutuhkan kesabaran dan perjalanan yang tidak pendek untuk menuju suatu titik tersebut. Justru yang lebih sulit adalah memberikan pengertian ke lingkungan kenapa saya harus berhenti kerja.

Saya hanya ingin mempunyai waktu lebih banyak untuk mendampingi anak tumbuh. Saya hanya ingin mempunyai lebih banyak waktu untuk belajar. Belajar menjadi orang tua, belajar menjadi teman untuk anak. Saya ingin mempunyai waktu untuk sekedar membaca buku apa pun yang ingin saya baca. Saya juga ingin mempunyai lebih banyak waktu untuk memikirkan kemana liburan selanjutnya.

Sementara ini saya juga tidak mau menjadi ibu bekerja dari rumah. Berat buat saya untuk membagi waktu di tengah-tengah manajemen rumah tangga saya yang belum bagus. Biarlah lifestyle kami menyesuaikan pendapatan keluarga bersahaja. Biarlah kami menjadi kami yang terus berusaha belajar.

Yuk belajar

Hikmah Kompor Listrik

Kami memutuskan menggunakan kompor listrik dengan alasan kepraktisan. Kepraktisan di sini bukan dari segi waktu dan cara mengoperasikan kompor. Tetapi lebih karena untuk mengurangi hal yang harus diurus Ayah saat-saat awal kedatangannya di Abu Dhabi. Penggunaan gas di Abu Dhabi harus dengan pemasangan instalasi dan berlangganan. Berbeda dengan di Jakarta, beli gas tabung lalu langsung pasang ke kompor dan kompor siap digunakan.

Saya sudah tahu bagaimana rasanya bergulat dengan kompor listrik. Saya pernah menggunakannya selama sekitar 2 tahun waktu di Yokohama. Waktu itu saya masih bujang dan masak bukanlah sesuatu hal yang harus dikerjakan setiap hari.

Saat di Abu Dhabi, masak adalah wajib dikerjakan setiap hari terutama untuk makanan Tole. Awalnya saya merasa memasak adalah pekerjaan yang sangat menyita waktu. Butuh waktu lebih lama agar kompor panas dan saya merasa kesulitan mengatur panas kompor.

Sekarang saya merasa bersyukur menggunakan kompor listrik. Pertama : permukaan elemen panas kompor rata, maka saya merasa lebih aman kalau Tole ikut membantu memasak di dapur. Kedua : karena untuk menjadi panas cukup lama, maka pekerjaan memasak adalah pekerjaan yang bisa disambi. Sambil memasak sambil nyetrika baju. Sambil memasak bisa sambil menjemur. Sambil memasak bisa sambil memandikan Tole.

Saya lebih memilih pekerjaan “kering” untuk disambi dengan memasak. Andai saya menggunakan kompor gas, saya harus fokus pada pekerjaan memasak saja baru bisa beralih ke pekerjaan lain.

Kompor listrik mengajarkan saya untuk lebih bersabar dan mencari solusi di setiap problemanya.

Toko Buku di Abu Dhabi

Awal-awal saya datang ke Abu Dhabi, saya merasa keberadaan toko buku tidak sementereng toko buku di Jakarta, termasuk di dalam Mall. Lama-lama saya merasa lumayan juga toko buku di Abu Dhabi ini, walaupun tidak terlalu besar.

Berikut adalah toko buku yang pernah saya kunjungi selama di Abu Dhabi :

  1. Bookstore Mushriff Mall. Koleksi buku bacaan anak-anak dan dewasa tidak terlalu banyak, hanya satu deret rak sepanjang sekitar 3m untuk bacaan anak-anak, satu deret rak sepanjang sekitar 3m untuk bacaan novel remaja/dewasa, dan satu deret rak sepanjang sekitar 3m untuk bacaan umum. Alat tulis, tas sekolah, dan mainan menempati lebih dari setengah area toko buku yang luasnya sekitar 6m x 5m.
  2. Book Corner Marina Mall. Koleksinya jauh lebih lengkap dibandingkan dengan Bookstore Mushriff Mall. Tapi jangan dibandingkan dengan Gramedia, Gunung Agung, dan TM Bookstore yang ada di Jakarta. Buku-buku di Book Corner ini tersusun rapi, tetapi sayang tidak disediakan computer untuk mengecek status buku dan lokasinya bagi para pengunjung. Cara paling gampang adalah langsung bertanya kepada petugas yang siap membantu, dengan catatan kita sudah tahu buku apa yang kita cari. Untuk saya yang suka lihat-lihat, lebih baik langsung menghampiri rak demi rak, terutama rak-rak buku anak-anak. Ada beberapa buku Eric Carle yang menjadi incaran saya jikalau ke Book Corner. Novel dan buku cerita bergambar baru sempat saya lirik saja. Koleksi buku travel untuk Negara-negara GCC cukup lengkap juga di sini.
  3. Al Haramain Book Shop. Sebenarnya lebih tepat disebut toko alat tulis. Toko ini berlokasi di antara deretan ruko-ruko sepanjang Muroor street antara 23 street dan 25 street. Saya hanya melihat Al Quran, Kamus, dan buku-buku mewarnai di toko ini. Selebihnya adalah alat-alat tulis dan teman-temannya.
  4. WH Smith Wahda Mall. Koleksinya lumayan menarik, terutama untuk buku bacaan anak-anak Walaupun koleksi buku anak-anak tidak sebanyak di Book Corner, tetapi ada beberapa buku anak-anak yang ada di WH Smith Wahda Mall tetapi tidak ada di Book Corner Marina Mall. Untuk novel remaja/dewasa, sepertinya standar saja alias tidak jauh beda dengan yang di Book Corner Marina Mall.
  5. Bookshop, di Airport Road dekat dengan Wahda mall. Toko buku ini berada di ruko dan menempati 3 lantai. Satu lantai untuk mainan anak-anak, satu lantai untuk stationary dan pernak pernik, dan satu lantai untuk buku-buku & alat peraga pendidikan. Dan sebenarnya koleksi buku bacaannya tidak terlalu banyak.
  6. Lulu Mushriff Mall. Buku menempati satu rak putar seperti yang biasa dipakai untuk meletakkan kartu pos dan rak panjang 1 meter dengan tinggi sekitar 1.5m dan rak dengan lebar sekiat 1.5m dan tinggi juga 1.5m yang kebanyakan adalah buku mewarnai dan aktivitas anak. Jikalau sedang beruntung, akan mendapatkan buku yang cocok. The Three Billy Goat Gruff saya ambil dari rak tersebut yang kemudian menjadi salah satu bacaan favorit Tole.
  7. Lulu Wahda Mall. Koleksi buku di Lulu Wahda Mall lebih banyak jika dibandingkan Lulu Mushriff Mall. Secara penataan, berantakan menurut saya. Di sini ada buku ”Bermain Bersama Tini” (Marcel Marlier & Gilbert Delahaye) versi bahasa Inggris yang dicetak di India, di mana Tini menjadi Marthine.
  8. Carrefour Airport Road. Buku menempati satu sisi lorong yang berhadapan dengan majalah. Walaupun dengan koleksi buku yang tidak banyak, tetapi lumayan untuk buku cerita agama Islam anak-anak.
  9. Carrefour Marina Mall. Penataannya mirip dengan Carrefour Airport Road.
  10. Borders Abu Dhabi Mall. Saya rasa ini toko buku terbesar dan terlengkap di Abu Dhabi yang pernah saya kunjungi. Ada koleksi buku-buku yang dibundel edisi koleksi. Kolekasi buku-buku anak-anak, buku remaja, dewasa, dan umum lebih beragam. Betah rasanya berlama-lama di sini.

Borders akan segera buka di Wahda mall, yeay….!!

Tetapi toko buku yang saya sebutkan di atas masih belum bisa dibandingkan dengan toko buku Book World Kinokuniya di Dubai mall.

Update tanggal 1 Juli 2015 (akhirnya…)

11. Borders Wahda Mall sudah dibuka beberapa bulan yang lalu. Koleksinya tidak sebanyak Borders Abu Dhabi Mall.

12. Magrudy’s Wahda Mall lokasinya kurang strategis. Walau demikian koleksi bukunya lumayan dan ada juga ruang khusus anak-anak yang didekorasi dengan meriah khas anak-anak. Koleksi buku di Magrudy’s ini lebih beragam dibandingkan dengan koleksi di Borders Wahda Mall.

Pengalaman dengan Etisalat Mobile

Saya biasa daftar paket 1G untuk 1 bulan seharga 99 dirham dan setiap daftar selalu memilih menu one time subscription. Suatu kali saya mencoba daftar paket Social Data (untuk facebook dan whatsapp) seharga 49 dirham dan paket 100MB seharga 29 dirham untuk pemakaian 1 bulan di hari yang sama dengan selang waktu tidak sampai 5 menit. Dan saya memilih menu one time subscription juga.

Sekitar seminggu sebelum 1 bulan, paket 100MB saya habis. Otomatis saya tidak bisa internetan di smartphone. Buka facebook, gambar-gambarnya hanya abu-abu. Ada gambar masuk via whatsapp, tidak bisa diunduh.

Karena gatal, saya beli pulsa 100 dirham dan daftar paket 1GB seharga 99 dirham dengan menu one time subscription. Beberapa hari kemudian setelah lebih 1 bulan dari saya mendaftar paket Social Data, saya membeli pulsa 50 dirham untuk keperluan menelpon. Tidak sampai 1 menit pulsa saya langsung terpotong 49 dirham untuk perpanjangan paket Social Data. Baiklah mungkin untuk ke depannya memang lebih hemat daftar paket Social Data dan paket 100MB daripada per bulannya daftar 1GB.

Sebulan kemudian saya isi pulsa 100 dirham tujuannya untuk daftar paket Social Data dan paket 100MB. Tiba-tiba pulsa saya terpotong 99 dirham untuk paket 1G, padahal seingat saya bulan lalu saya memilih menu one time subscription. Akhirnya saya coba batalkan paket 1G. Saya dapat sms, pembatalan berhasil. Saya tunggu-tunggu ternyata walaupun pembatalan berhasil tapi pulsa saya tidak kembali. Saya coba menelpon Customer Care, tetapi saya tidak cukup sabar mendengarkan iklan-iklan promo sampai tersambung ke operator.

Merasa diperas Etisalat, saya tidak mau mengisi pulsa lebih dari 50 dirham lagi.

3 hari kemudian, saya datang ke konter Etisalat di Mushriff Mall. Saya mendapatkan nomer antrian 185, sedangkan nomer yang sedang dilayani adalah 153. Sudah jam 8 malam, saya menyerah. Saya pulang.

Saya cek *170*1# untuk mengecek paket apa yang terdaftar di nomer saya, jawabannya saya tidak terdaftar dalam paket apapun. Tetapi kenyataannya setiap hari pulsa saya dipotong 2 dirham untuk paket Social Data harian. Pulsa saya habis dan saya belum berniat isi pulsa lagi.

Seminggu kemudian kami jalan-jalan ke pusat perbelanjaan Madinat Zayed. Ketika hendak pulang Ayah mengingatkan saya jikalau mau mampir ke konter Etisalat yang kebetulan kami lewati itu.

Saya ambil nomer antrian dan dapat nomer 173. Nomer yang sedang dilayani saat itu adalah nomer 160. Dan kali ini saya harus sabar menunggu antrian.

Tiba giliran saya, pertama yang saya tanyakan ke Customer Service Officer (CSO) adalah pulsa saya yang 99 dirham. Saya mau pulsa saya kembali. Tetapi jawabnya, “tidak bisa”.

Baiklah, yang kedua adalah paket apa saya yang terdaftar di nomer saya. “Paket Social Data”, jawabnya. Saya mau dibersihkan dari segala paket yang terdaftar di nomer saya. Dan semua paket dibersihkan dari nomer saya. Di situ CSO mengirim SMS ke 1010 dengan isi pesan “HC”.

“Apa itu?”, tanya saya.

“Cara kalau mau cancel semua paket.”, kata CSO.

Lain kali harus diingat-ingat ini. Ketik “HC”, kirim SMS ke 1010.

“Terima kasih, Pak.”, saya mengakhiri sesi di konter Etisalat sore itu.

Untuk membuktikan kalau paket saya sudah bersih, saya mengisi pulsa 100 dirham. Dag dig dug… Alhamdulillah… pulsa tidak langsung terpotong untuk paket apapun. Hampir saya terlena mau langsung daftar paket 1G seharga 99 dirham, untung Ayah mengingatkan. Akhirnya saya hanya daftar paket 100MB seharga 29 dirham saja dan harus digunakan secara bijak.

Book Fair @Nursery

Selama 3 hari, 23-25 November 2014, diselenggarakan Book Fair di Nursery Tole. Banyak buku anak-anak yang menarik tersedia di sana. Orang tua dan anak diminta partisipasinya.

23 November 2014

Ketika saya datang menjemput, mata saya langsung tertuju ke buku-buku yang tertata rapi di atas meja di salah satu sudut halaman depan Nursery. Saya langsung mengajak Tole untuk memilih buku yang Tole mau. Aunty yang ada di situ langsung menawarkan buku kepada kami.

“F, this book is good for you.”

“F, you must like this book.”

“F, this one is about number. You must have this.”

“F, this is animal book. You must like it.”

Heboh suasana sore itu. Tole telah memegang satu buku Alphabet & Colours dan sedang menimbang-nimbang untuk mengambil buku kedua. Karena kelamaan, saya langsung mengambil satu buku lagi berjudul Transport & Occupation dan segera membayar di resepsionis. Kami tidak bisa berlama-lama karena taksi sudah menunggu di luar.

Hasil dari Book Fair

Hasil dari Book Fair

25 November 2014

Sebelum berangkat, kami memasukkan sejumlah uang ke dalam amplop yang telah disediakan oleh pihak Nursery. Uang di dalam amplop tersebut akan diberikan kepada Teacher atau Aunty, kemudian anak memilih buku dengan harga sama atau di bawah nilai uang di dalam amplop tersebut. Dengan uang yang kami bekali, Tole pulang ke rumah dengan membawa 2 buku baru. Carla the Cow dan Shapes on The Farm.

Di perjalanan pulang…

“Tadi uangnya abis gak?”, tanya saya.

“Enggak”, kata Tole

“Duit di amplop masih ada?”, saya tanya lagi.

“Enggak, aku kasih Sef.”, jawab Tole.

“Enak banget Sef dikasih duit sama F.”, kata saya.

“Aku baik ya, Bu.”, Tole memohon persetujuan.

Dan saya pun tak sanggup berkata-kata lagi, hanya bisa tertawa terbahak di dalam hati.

BookFair

Bubu Ebu Ibu… Mama….

“Mamaaaa…”, sambut Tole ketika melihat saya datang di nursery sore itu.

Mama adalah kata yang sering terdengar untuk panggilan Ibu di nursery.

“F, Mama’s coming….”, Aunty di nursery selalu memberitahu Tole ketika saya datang untuk menjemput.

Sampai di rumah, panggilan pun kembali seperti semula. “Bubu… Bubuu…”

Awal-awal kelahiran Tole, saya membahasakan diri sebagai “Bubu”. Dan panggilan itu masih dianggap aneh oleh lingkungan.

“Ada-ada aja…”, kata mereka.

Alasan saya membahasakan “Bubu” supaya Tole bisa lebih dulu memanggil saya walaupun pada kenyataannya Tole lebih dulu bisa memanggil Ayah, “Yah… Yayah…”.

Sedikit kecewa deh. 🙂

Karena saat itu lingkungan masih merasa aneh dengan panggilan “Bubu”, jadilah panggilan “Ibu” yang sering terdengar untuk mengajarkan Tole memanggil saya. Sering juga menjadi “Ebu… Ebooo” bila diucapkan Tole.

.

.

.

“Manggilnya Bubu aja ya Le….”, 🙂

Explorer : Semua tentang Abu Dhabi dan UAE

Pemborosan…!! Ya, saya telah melakukan pemborosan dengan membeli buku-buku ini. Berapa ratus dirham saya habiskan untuk buku-buku ini. Padahal telah banyak informasi bertebaran di dunia maya, bahkan beberapa lebih akurat dan lebih terkini.

Explorer

Ya, saya senang dengan buku-buku. Saya senang melihat-lihat dunia walau hanya lewat tulisan. Saya senang melihat-lihat dunia walau hanya lewat gambar. Saya senang mengunjungi tempat-tempat yang sebelumnya saya lihat lewat tulisan dan gambar. Saya senang bermimpi suatu saat mengunjungi tempat-tempat yang pernah saya lihat lewat tulisan dan gambar.

Dan misi terpenting saya membeli buku-buku ini adalah sebagai salah satu cara untuk mengurangi penggunaan gadget di rumah, terutama untuk si Tole. Kami membuka buku-buku tersebut, melihat-lihat gambar dan bagian terseru adalah membuka peta bersama.

Dengan buku-buku tersebut, kami mendiskusikan tempat tujuan yang dimaksud. Ada apa di sana, jam buka, jarak tujuan dari rumah kami, dan harga tiket masuk. Harga tiket yang tertera di buku-buku ini kurang akurat.

Akhir pekan kemarin, saat jalan-jalan si Tole membuka peta dan minta ditunjukkan posisi kami dalam peta tersebut.

Alhamdulillah Kamis lagi. Bersiap menyambut datangnya akhir pekan… 🙂