Melrimba Garden, Puncak 21 Agustus 2016

6.30 kami dijemput sama T & keluarga menuju ke Puncak ke tempat andalannya Om (Ayah T). Sebelum sampai di lokasi, kami diajak mampir sarapan bubur ayam langganannya Om kalau lagi ke Puncak karena posisinya di kiri jalan menuju atas dan ada tempat parkir yang cukup untuk 3-4 mobil.

Sampai di Melrimba, kami harus membeli tiket masuk dan membeli umpan ikan untuk memancing.

Begitu masuk ke Melrimba Garden, kami disuguhi taman bunga warna warni. Masuk lagi ada taman bermain, ada empang tempat memancing, ada area outbond, ada danau buatan untuk permainan air.

Saya suka dengan suasana Melrimba! Sejuk dan asri.

Jalan ke belakang lagi ada pintu menuju kebun teh. Segar dan sejuk. Sejauh mata memandang ada hamparan kebun teh.

Kembali ke pintu masuk Melrimba dan permainan anak seperti trampoline, ATV, kuda, sepeda air. Tole dan T langsung menyerbu tempat-tempat itu.

Melrimba Garden

Tak jauh dari permainan anak, ada bangunan yang menjual aneka tanaman.

Jam 12 kami berencana turun untuk menghindari ditutupnya jalan turun. Tetapi ternyata aki mobil tekor karena lampu mobil lupa dimatikan.

Sambil menunggu aki dicas, jadilah kami makan siang di restoran Melrimba Garden. Suasananya enak, makanan enak, harga standar resto.

Setelah 1.5jam, aki selesai dicas. Kami siap turun. Dan kami menjadi korban penutupan jalan. Dinikmati saja.

Dan sampai Jakarta menjelang maghrib.

Bermain di Kemang Playground

Lokasi tempat bermain ini cukup bersembunyi di dalam kompleks perumahan di kawasan Kemang tetapi ketenaran tempat ini tersebar luas di jagat maya.

5 November 2013 adalah hari libur yang jatuh di hari Selasa. Om Widi (adik saya) mengusulkan untuk mengajak Faiz dan Tegar (anak Om Widi, sepupu Faiz) untuk bermain di Kemang Playground. Buat Faiz dan Tegar, ini adalah bukan pertama kalinya ke sana. Faiz ke sana sekitar setahun yang lalu sedangkan Tegar baru sekitar 3-4 minggu yang lalu.

Berhubung hanya 2 pendamping dewasa yang bisa masuk gratis untuk satu anak, jadinya Ayah dengan suka rela di rumah aja. Gak mau rugi dengan tambahan 50rb untuk satu orang dewasa yang gak bisa main-main. Faiz didampingi saya dan Bubul, Tegar dengan Ayah Bundanya.

Pagi itu kami tiba menjelang jam 9, masih sepi di dalam playground. Sebenarnya enak juga dengan kondisi sepi, serasa punya playground sendiri. Tetapi efeknya ke anak-anak, yang seperti tidak tertantang untuk menaklukan mainan-mainan tersebut karena belum melihat anak-anak lain bermain.

Faiz dan Tegar langsung bermain pasir. Yaaa… baru main langsung kotor deh. Walaupun gak apa-apa juga kotor.

Bermain pasir

Bermain pasir

Main pasirnya gak berlangsung lama. Ketika anak-anak lain sudah mulai berdatangan dan langsung bermain kegirangan, rupanya Faiz dan Tegar turut merasakan atmosfernya. Segera mereka beranjak dari arena bermain pasir. Mencoba mainan yang lain lebih menantang.

Faiz dan Bubul

Faiz dan Bubul

Tegar berjalan di atas balok

Tegar berjalan di atas balok

Giliran Faiz

Giliran Faiz

Sekitar 10.30, permainan yang ditunggu-tunggu pun datang. Yap… waterplay….!! Everykids like it…!! Anak-anak langsung berlarian ke arena waterplay sesaat setelah dibuka. Tentunya Faiz dan Tegar tak ketinggalan. Semua anak pindah di waterplay area.

My Superman

My Superman

Setahun yang lalu di tempat yang sama

Setahun yang lalu di tempat yang sama

Faiz dan Tegar sudah mulai terlihat kedinginan, kita sudahi saja sesi  bermain di Kemang Playground hari ini. There will be next time, insya Allah.

Berburu Pensil Warna

Faiz (2th 5bln) senang pada aktivitas mewarnai alias coret-coret. Dan kebetulan di rumah ada crayon sisa praktikum buleknya Faiz (bulek = tante). Sayang crayon yang ada mudah membuat tangan kotor. Sebenarnya saya bukan mempermasalahkan kotornya, tapi masalah keamanan si crayon tersebut. Namanya anak-anak terkadang tidak sengaja memasukkan tangan ke mulut atau setelah mewarnai tidak segera mencuci tangan dan langsung ambil makanan dan lain-lain belum lagi bau crayon yang cukup menyengat.

Crayon

Crayon tanpa baju

Saya punya bayangan sendiri mengenai pensil warna untuk balita, yaitu ujungnya tidak lancip sehingga tidak membahayakan anak. Perburuan di mulai dengan mendatangi toko buku Gramedia di Pejaten Village. Setelah mengelilingi bagian alat tulis dan pensil warna, saya tetap tidak menemukan pensil warna seperti bayangan saya. Ada satu merk terkenal yang mengeluarkan berbagai produk dengan cap “non-toxic”. Tapi pensil warnanya ujungnya sangat tajam dan butuh rautan, ada crayon setelah saya keluarkan dari bungkusnya ternyata baunya sangat menyengat.

Bergeser sedikit ke arah peralatan gambar teknik, mata saya langsung tertuju pada pensil dermatograh. Pensil ini biasanya digunakan untuk “mark-up” dokumen di kantor kami. Definisi dermatograph bisa diliat di sini.

Karena harga lumayan premium untuk kantong kami, jadilah kami hanya beli 5 warna. Lumayan cukup mewakili, pikir kami. Faiz senang, ibunya pun tenang.

Dematograph

Pensil Dermatograph

Ternyata kegembiraan itu hanya sesaat. Faiz terus mencari warna orange. “Haduh gimana ini…” Saya pun mulai gusar. “Iya ya, warnanya itu-itu aja. Kurang bervariasi.”

Berbekal info dari teman, ternyata ada crayon yang terbungkus seperti pensil mekanik. Tidak perlu rautan dan untuk mengeluarkan crayonnya, cukup di putar. Penasaran dengan crayon model seperti itu, ketika ada kesempatan kami langsung meluncur ke toko Gunung Agung yang berlokasi di Margo City. Ternyata ada crayon yang dimaksud teman saya itu. Tetapi saya lebih tertarik dengan yang di sebelahnya, crayon yang terbungkus dengan kertas dan tidak perlu rautan cukup ditarik saja kertasnya seperti pensil dermatograph. “Yeay… akhirnya kami menemukan pensil crayon idaman dengan harga lebih murah… !!” Dibandingkan dengan pensil dermatograph, tentunya.

Pensil Crayon

Pensil Crayon

Jakarta, 13 Mei 2013

Membuat “Play Doh” di Rumah

Sebelumnya saya sudah wara wiri googling cari cara membuat “play doh” yang katanya mudah itu. Tapi saya masih enggan mencoba, karena masih terasa ribet menurut saya. Nah pada tanggal 27 April 2013, ada acara Family Day @Ciao Bimbi Day Care dan saya sempat main-main “play doh” di sana. Saya cium “play doh” tersebut, ternyata bau tepung…!! Saya tanya ke Ms. Dyah (salah satu teacher di Ciao Bimbi, red), “ini Ms. Dyah yang bikin ya?”. “Iya”, kata Ms. Dyah. Langsung semangat saya tanya “how to” nya. “Gampang”, katanya. “Setengah kilo terigu ditambah 1 sendok makan garam dan 2 sendok makan minyak goreng. Dan untuk pewarnanya bisa pake pewarna makanan. Terigu dan garam dicampur dulu trus ditambah minyak trus diuleni sampe kalis deh”.

Waahhh… ternyata mudah yaa…

Sampai di rumah, kami langsung beli tepung terigu dan pewarna makanan. Berhubung di warung dekat rumah hanya ada warna hijau dan merah, jadilah kami bereksperimen dengan kedua warna tersebut. Faiz pun bisa ikut bergabung membuat “play doh”, bahan-bahannya aman semua.

Dan inilah hasil “play doh” karya kami. Ada sedikit catatan, berhubung dengan 2 sendok makan minyak goreng belum bisa kalis jadi minyak goreng kami tambahkan lagi antara 1-2 sendok lagi. Dan jangan lupa untuk selalu menyimpan “play doh” nya di dalam tempat kedap udara agar tidak kaku dan keras.

Kapan-kapan mau coba lagi dengan warna lain…!!

Play Doh

“play doh” hasil karya kami