Mengawali Tahun 2017 : Taman Budaya Sentul dan Restoran Ah Poong

1 Januari 2017

Menurut saya adalah hal yang tepat untuk memilih Sentul menjadi tujuan jalan-jalan di awal tahun karena lokasinya cukup dekat dengan Jakarta dan akses mudah. Taman Budaya Sentul menjadi pilihan kami.

6.00 kami berangkat dari rumah (Jagakarsa), jalanan pagi itu cukup lengang. Kami lewat Margonda-Jl. Juanda lalu masuk tol Cijago. Jam 7.15, kami sudah sampai di lokasi. Belum ada petugas bagian parkir, jadi urusan parkir kami akan dihitung manual kemudian.

Masuk ke Taman Budaya langsung disuguhi dengan lapangan hijau luas. Toko-toko masih tutup dan tempat permainan pun belum ada petugas.

Tole dan T langsung lari-larian di lapangan dan bermain-main di playground.

Setelah jam 8, petugas permainan pun datang. Dan langsung kami serbu.

Main

 

Kami juga mencoba permainan outbond, Tole & T main tembak zombie sedangkan Simbok & Bul2 mencoba memanah.

Main Outbond

 

Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Kuda dituntun ke lapangan hijau. Tole dan T harus mengantri untuk bisa menunggang kuda.

Kuda

 

Saya suka dengan suasana Taman Budaya Sentul. Anak-anak bisa puas bermain, yang dewasa pun bisa bermain atau hanya leyeh-leyeh di saung-saung. Ada beberapa tempat makan yang tersedia di sana. Namun saat kami datang, banyak yang belum buka.

Puas dengan Taman Budaya Sentul, kami bergerak ke restoran Ah Poong. Tadinya saya pikir masih sepi di Ah Poong karena belum waktunya makan siang. Ternyata saya salah!

Kesan saya makan di Ah Poong biasa saja. Tapi saya suka dengan sekitarnya. Ada Ecoart park, ada area rumput untuk duduk-duduk santai, dan ada permainan anak seperti ATV.

Saat saya datang sedang ada lomba mewarnai, Tole dan T ikut serta. Hanya sebagai peserta penggembira.

Ah Poong

 

Jam 1 siang kami beranjak meninggalkan Sentul. Jalanan lancar menuju Jakarta. Dari kejauhan saya melihat mobil-mobil berbaris ke arah Puncak.

Makanan Halal di UAE

Peredaran minuman beralkohol dan daging babi sangat jelas diatur di UAE. Namun bukan berarti kita lengah dan menganggap semua makanan di UAE halal. Saya sendiri masih merasakan kesulitan untuk memastikan kehalalan makanan.

Untuk makanan kemasan, saya harus mengernyitkan dahi untuk membaca ingredientnya terutama yang tidak ada label halal. Untuk makanan yang diproduksi di Negara Islam seperti UAE, Saudi, Oman, saya berpikiran positif, insya Allah makanan tersebut halal. Untuk makanan yang impor, terutama dari Eropa atau Amerika saya harus ekstra hati-hati dalam membaca ingredientnya. Di sini bukan berarti kalau saya selalu benar, tetapi sekedar berusaha untuk berhati-hati. Kalaupun saya luput, wallahu alam…

Lain lagi ketika kami makan di restoran atau food court. Makanan franchise semacam KFC atau BK, insya Allah aman karena mencantumkan tulisan halal di outletnya. Dan ketika kami hendak makanan di restoran, kami hanya mengandalkan insting saja.

Syukurlah produk-produk halal akan mudah diidentifikasikan. Terima kasih Emirates Standardisation and Metrology Authority (ESMA).

Abu Dhabi Week Vol. 07 Issue 44 I 30 October - 5 November 2014

Abu Dhabi Week
Vol. 07 Issue 44 I 30 October – 5 November 2014

H-1

Sehari sebelum hari terakhir saya ngantor di jegeseh, saya mendapatkan kejutan dari teman-teman “Piping Ladies”. Kami berkumpul dan makan bersama di Malay Village Citos (tempat makan favorit saya di Citos, walaupun saya juga jarang makan kalau ke Citos). Dan saya sebagai bintang tamu, tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk acara kejutan ini. Terima kasih ya teman-teman…. I love you. I am missing you already…

@Malay Village

@Malay Village

Thanks to mbak Jau (10 th kita di jegeseh ya mbak), Mira, Novi, Yanti, Dian R, Dian J, Muning, Imah, Icha, dan Sheila.

@Citos

@Citos

Terima kasih buat pertemanan dan kebaikan teman-teman semua.

~note: foto-foto diambil dari hp Muning (thanks ya Mun)

Membuat Pilus Keju

Setelah ubek-ubek notes FB nya Wini (teman dari SMA), saya tidak dapat menemukan resep pilus keju yang pernah di-posting Wini yang seingat saya itu merupakan resep yang sederhana buat camilan anak. Saya pun inbox Wini demi mendapatkan resepnya. Berikut adalah resepnya :

Resep Pilus Keju

By Wini Afiati

Bahan:

200gr sagu tani

1 butir telur (kocok lepas)

25ml air

75gr keju cheddar parut

1/4 sdt garam

 500ml minyak goreng

Cara:

1. Campur sagu,garam dan keju parut. Aduk2 hingga tercampur rata. Masukan telur, uleni hingga rata dan halus. Tambahkan air, uleni agak kalis. Bentuk adonan kecil dan memanjang. Rendam dlm minyak goreng dingin. Nyalakan api dan goreng hingga kuning kecoklatan. Angkat dan tiriskan.

2. Jadi deh pilusnya.

Seperti mudah kan cara membuatnya…?? Dan bahan-bahan yang diperlukan pun tidak banyak.

Kehebohan mulai terjadi saat saya mau membeli sagu tani. Pertama saya langsung cek toko sebelah kantor alias allfresh, ternyata tidak ada. Yang ada tepung tapioka. Sempat berselancar di dunia maya sekilas, ada yang bilang kalau tepung tapioka bisa juga sebagai pengganti sagu tani.

Tanya-tanya Yanti si pemilik toko kue Athaya, dibilang beda antara tepung tapioka dan sagu tani. Sagu tani banyak tersedia di toko-toko alfa terdekat dan tulisannya pun jelas “SAGU TANI” dengan gambar warna hijau, katanya.

“oke, berarti sagu tani PASTI ada di Standard minimart”, pikir saya. Standard minimart ini lokasinya tidak jauh dari rumah kami dan merupakan toko serba ada, dari bahan makanan, peralatan dapur, sampai perlengkapan rumah tangga.

Tiba di Standard minimart, “mas, sagu tani ada di mana?”. Mas-nya langsung menunjukkan lokasinya dan bertanya, “mau yang 1 kg atau ½ kg?”. Setelah dipikir-pikir, saya ambil yang 1/2kg aja deh.

Sampai di rumah, lho kok judulnya Liaw Liong Pit Tapioca Flour cap Pak Tani…

Orang Tani

Tambah bingung saya. Tambah penasaran juga. Saya berselancar di dunia maya lagi, sampai menemukan informasi sbb.

http://www.justtryandtaste.com/2011/11/snack-keju-renyah-dari-tepung-sagu.html

Endang IndrianiThursday, July 25, 2013 11:59:00 AM

Hai Mba Dina, wah kok bisa keras ya, kue ini renyah banget karena dari sagu ya. saya pakai tepung tapioka merk sagu tani, banyak di supermarket.  

Dan saya pun masih tanya-tanya Yanti juga, berikut penjelasannya plus ada tambahan penjelasannya juga :

maizena –> jagung

tapioka –> singkong

sagu –> pohon sagu

makanya klo di resep b.inggris starch aja brarti sagu, corn starch itu maizena kan ya?

kayanya sagu tani itu merk deh mba,.

soalnya yg terkenal emang itu jd udah trademark, kaya odol atau tipe-x n emang hasil juga pengaruh,

dulu gw pernah coba bikin “bubble tea” pearl nya pake tapioka gak berhasil, pake sagu tani baru bisa,.

begitu juga waktu bikin mie,. tapi ini kbalikannya tapioka yg bisa djadiin mie… bgitchu,..

tp gada salahnya juga klo lo mo coba pake tapioka mba, mungkin justru berhasil hehehehe

soalnya yg ada di olpres yg tapioka itu kan?

klo dari tekstur akhir gak jauh beda sih logikanya bisa ya hehehehe….

Bikin tambah galau aja…. Hahahaha…

Tapi ya sudah lah, berarti memang Sagu Tani itu adalah nama merk tepung tapioka yang konon katanya kualitasnya paling bagus. Entahlah… yang jelas perburuan Sagu Tani belum berakhir.

Waktu istirahat Jumat dengan waktu lebih panjang daripada istirahat hari biasa, saya gunakan untuk berburu Sagu Tani di Foodmart, Citos. Dan… Tidak ada satu pun bungkus di area tepung-tepungan itu yang bertuliskan Sagu Tani.

Sagu Tani oh Sagu Tani….

Ya sudah, saya coba dengan tepung yang sudah dibeli. Hasilnya lumayan lah, menurut saya.

Percobaan Pertama

Walaupun banyak komen, keras karena kurang telor sampai kurang margarin (padahal resepnya tidak menggunakan margarin) tapi pilusnya habis ludes lebih cepat daripada membuatnya. Padahal menurut saya keras dan agak alot karena bentuk adonannya kurang kecil.

Keesokannya saya coba buat lagi tetapi adonannya dibuat lebih kecil.

Percobaan Kedua

Dan komen kali ini adalah…. “kurang banyak bikinnya…” wkwkwkwk….