Emirates Palace Abu Dhabi

12 Februari 2016

Emirates Palace adalah hotel mewah yang menjadi salah satu tujuan wisata di Abu Dhabi. Jumat siang menjelang sore kami menjemput Lesty-Adhi dan kemudian berkunjung ke Emirates Palace. Bukan untuk menginap, tapi sekedar melihat megahnya bangunan Emirates Palace dan mampir ke restaurant yang menyajikan cappuccino dengan taburan emas 24K.

Saya dan suami tidak sampai hati meminum serpihan emas. Jadilah kami memesan camelccino buat Ayah, expresso buat saya, dan hot chocolatte buat Tole.

Minuman

Adalah Tante Lesty yang memesan cappuccino dengan taburan emas, tetapi Om Adhi hanya memesan minuman soda. Oh…

Kopi emas

Jadi jangan tanya saya bagaimana rasanya meminum emas. Saya cukup puas dengan memandang langsung minuman tersebut.

Sebelum datang ke Emirates Palace saya berpikir kalau saya adalah salah sedikit orang norak yang berkunjung ke hotel hanya untuk lihat-ilhat. Ternyata saya banyak temannya. Bahkan ada beberapa rombongan bis yang berisi wisatawan yang datang ada untuk melihat-lihat dan foto-foto, tentunya.

InteEkste

Dengan langit yang biru cerah menambah indahnya sore di Emirates Palace sore itu. Interior dalamnya pun mewah luar biasa.

Lunas sudah rasa penasaran akan Emirates Palace, akan cappuccino dengan taburan emas 24K yang terkenal itu.

Advertisements

Liburan Idul Adha Oktober 2015 Bagian 3

25 Oktober 2015

Pada hari Jumat, tempat tujuan wisata di Sharjah mulai buka jam 4 sore. Untungnya bis hop on hop off mulai beroperasi dari jam 10 pagi. Jadi kami bisa menikmati Sharjah dari dalam bis saja.

Kami baru keluar hotel sekalian check out jam 12 siang. Dan langsung menuju halte Central Souq. Ayah langsung menuju mesjid King Faisal untuk shalat Jumat, sementara saya dan Tole masuk ke dalam bis hop on hop off green line. Saya tidak berniat turun di salah satu titik pemberhentian, mall dan tempat wisata belum buka sampai setelah waktu shalat Jumat. Kami akan bertemu lagi di taman dekat Cental Souq.

Saya dan Tole sampai duluan di taman Central Souq. Ayah datang kemudian dengan membawa seporsi nasi biryani yang cukup untuk 2 orang dewasa dan 3 buah pisang yang besar seharga 13 dhs. Katanya tempat beli nasi biryani itu tempat langganan Ayah dulu sewaktu dinas di Sharjah. Tole langsung melahap 3 buah pisang dan tidak mau makan nasi.

01. Blue Souq

Selesai makan, kami naik bis hop on hop off green line (lagi). Saya dan Tole untuk kedua kalinya dan Ayah untuk yang pertama.

Kembali lagi ke halte Central Souq. Dan kami melanjutkan naik bis hop on hop off red line menuju Sharjah Aquarium dan Maritime Museum.

Ramai sekali sore itu. Bahkan ada serombongan bis besar yang hendak masuk ke Aquarium.

02. Sharjah Aquarium

Koleksi di Aquarium kurang greget tapi cukup menarik untuk bocah. Dari Aquarium, kami langsung masuk ke Maritime Museum karena kami membeli tiket terusan. Kapal-kapal replika di Maritime Museum masih kinclong.

03. Sharjah Maritime Museum

Dan selesai sudah penjelajahan kami di Sharjah selama liburan kali ini. Kami langsung menuju Al Jubail bus station dengan taksi. Beruntung kami rombongan keluarga dengan balita, sehingga mendapat prioritas masuk ke bis. Tempat duduk di dalam bis diatur, keluarga atau laki-laki duduk dengan laki-laki dan perempuan duduk dengan perempuan. Ada perempuan yang duduk dengan kursi sebelahnya kosong karena tidak ada calon penumpang perempuan yang terlihat saat itu. Ongkos bis Sharjah ke Abu Dhabi 30 dhs.

Sampai jumpa Sharjah…

Liburan Idul Adha Oktober 2015 Bagian 2

24 Oktober 2015

Jam 5.30 pagi, kami sudah siap berangkat menuju KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) yang berlokasi di Dubai. Kami naik taksi dari depan hotel sampai ke KJRI, Dubai dengan biaya 65 dhs (termasuk biaya 20 dhs karena melintasi batas Emirate)

Jam 6 kami sudah tiba di lapangan KJRI, shalat baru mulai jam 6.30. Tole sukses tidur selama berlangsungnya shalat Id.

01. KJRI Dubai

Setelah shalat Id selesai, kami diundang untuk makan bersama di area KJRI. Dan setelah selesai, kami langsung meninggalkan KJRI dengan tujuan Al Fahidi Historical Neighbourhood atau disebut Bastakiya yang merupakan kota tuanya Dubai.

02. Al Fahidi Neighbourhood

Dari Al Fahidi Historical Neighbourhood, kami berjalan ke Dubai Museum. Tiket masuk Dubai Museum 3 dhs untuk dewasa dan 1 dhs untuk anak-anak. Dan saat itu kami dapat kembalian 1 kotak yang isinya coklat 5 biji dan uang 5 dhs.

Masuk ke Dubai Museum seperti masuk ke Dubai masa silam, Dubai yang sangat berbeda dengan Dubai masa kini. Kita bisa melihat diorama-diorama kehidupan Dubai di masa lampau yang roda perekonomiannya bergerak di sekitar Dubai Creek sampai mulai ditemukannya minyak sekitar tahun 1970.

03. Dubai Museum

Dari Dubai Museum kami naik taksi ke Bur Dubai Station yang menurut supir taksi lokasinya tidak jauh. Dan saat itu kami tidak mau ambil resiko kelamaan jalan kaki dan kepanasan di bawah terik 40oC. Minimum tarif taksi di Dubai adalah 12 dhs.

Dari Bur Dubai Station kami naik abra dengan ongkos 1 dhs per orang, menyebrang Creek dan sampai di Deira Old Souq Station. Dari situ kami langsung naik taksi kembali ke hotel kami di Sharjah.

04. Menyebrang dengan Abra

Leyeh-leyeh dulu di hotel dan Tole tetap aktif.

Jam 2 siang, kami keluar hotel. Ayah mengusulkan ke Blue Souq atau Central Souq tapi saya maunya ke Sharjah Heritage Area karena kalau ke Blue Souq dulu dikhawatirkan akan jalan-jalan dengan membawa barang belanjaan. Akhirnya semua mengikuti keinginan saya.

Sangat kebetulan sekali kami mendapatkan supir taksi yang tidak dapat diajak omong baik-baik. Dan akhirnya kami turun di tempat yang kira-kira menjadi tujuan kami. Tole tertidur dari masih di dalam taksi. Ayah kebagian tugas menggendong Tole.

05. Teriknya Heart of Sharjah

Kami berjalan kaki di bawah terik 40oC sambil mencari pintu masuk. Setiap orang yang ditanya, selalu memberikan jawaban yang berbeda. Setelah berjalan sekitar 1 km, kami menyerah dan pergi dari kawasan tersebut. Kami menuju Blue Souq dengan taksi dan leyeh-leyeh di taman antara Blue Souq dan laguna. Minimum tarif taksi di Sharjah adalah 10 dhs.

Belum lama kami leyeh-leyeh, terlihat bis city sightseeing hop on hop off berhenti di halte dekat taman. Mata kami berbinar-binar, terutama saya karena saya sudah mimpi-mimpi mau naik bis ini.

06. Central Souq

Kami langsung membeli tiket seharga 85 dhs per orang dan anak-anak gratis. Tiket berlaku selama 24 jam. Ada 2 jalur bis hop on hop off, red line dan green line. Red line mempunyai waktu dan jarak tempuh yang lebih lama dan jauh dibandingkan dengan green line.

Kami masuk ke bis red line dan tidak berniat untuk turun di titik pemberhentian mana pun. Menurut perkiraan, kami akan tiba kembali di Blue Souq saat waktu maghrib tiba dan akan langsung menuju mesjid King Faisal yang merupakan mesjid sumbangan dari Raja Saudi.

07. Mesjid King Faisal

Dari halte Blue Souq ke mesjid King Faisal melalui dalam Blue Souq, saya hanya tengok kanan dan kiri. Banyak toko yang tutup dan hilang keinginan saya untuk sekedar melihat-lihat barang di sana.

Dari mesjid King Faisal, kami kembali ke hotel dengan membawa bekal makan malam untuk di kamar. Dan cukup untuk hari ini. Kami gemporr…

Liburan Idul Adha Oktober 2015 Bagian 1

Ternyata pergi ke Sharjah saat liburan Idul Adha adalah kurang tepat.

23 Oktober 2015

Sekitar jam 10 pagi kami bergerak menuju Abu Dhabi Main Terminal. Loket tujuan Sharjah tidak seramai loket tujuan Dubai. Kami membeli tiket untuk 3 kursi, supaya Tole bisa duduk sendiri. Setelah tiket di tangan, kami menuju peron terminal dan antrian tujuan Sharjah pun sudah mengular. Beruntung kami karena rombongan perempuan dan keluarga mengantri di barisan berbeda dengan para pengantri laki-laki. Antrian kami tidak sepanjang antrian sebelah.

Kami sudah pasrah walaupun akan dapat bis jam berapapun. Setelah kami tidak terbawa di bis pertama yang datang saat kami antri dan sekitar 10 menit kemudian ada bis lagi yang datang dan kami pun terangkut. Perjalanan dari Terminal Abu Dhabi sampai di terminal Sharjah (Al Jubail Bus Station) dengan biaya 25 dhs per orang.

Panas terik 40oC menyambut kami di terminal Sharjah. Buru-buru kami mencari pangkalan taksi supaya bisa cepat berteduh di hotel.

Lokasi hotel tempat kami menginap sebenarnya mudah dicari, cukup menyusuri corniche Buhaira atau Majaz 3. Tetapi yang terjadi adalah supir taksi mengajak kami putar-putar di sekitar Buhaira Police Station. Segera Ayah mengeluarkan google map dan memaksa supir taksi untuk mengikuti instruksi Ayah.

Lokasi hotel tempat kami menginap tepat di tepi laguna. Karena kami mengambil kamar standar, lupakan pemandangan laguna akan terlihat dari kamar.

Setelah masuk waktu shalat Ashar, kami segera bersiap memulai menjelajah Sharjah. Tujuan utama tentu saja Sharjah Aquarium yang berdekatan dengan Sharjah Maritime Museum. Sampai di sana, ternyata kedua tempat itu tutup. Kami membaca mengumuman bahwa selama hari Arafah dan Idul Adha hari pertama libur. Yaaaaa….. kami kecele…

Untungnya di kawasan tersebut ada playground di beberapa titik dan air mancur. Jadi Tole masih bisa main-main.

01. Sekitar Sharjah Aquarium

Seorang kawan Ayah memberitahukan bahwa di sekitar situ ada pantai Khan yang sebelumnya tidak masuk radar kami untuk dikunjungi.

Adzan Maghrib sudah berkumandang, segera kami menuju mesjid terdekat. Setelah Ayah menunaikan shalat maghrib, kami berjalan menuju pantai Khan sekedar survey lokasi kalau-kalau kami kembali ke Sharjah lagi. Ternyata semakin malam pantai semakin ramai. Tetapi kami tidak punya nyali untuk bermain-main air dan pasir di hari gelap.

Selanjutnya kami menuju ke Al Qasba. Di sana ada the Eye of the Emirates Wheel dengan tinggi 60 meter. Ada kanal air mengalir yang di kanan kirinya berjejer restoran-restoran. Lebih lengkap tentang Al Qasba ada di http://www.alqasba.ae/

02. Al Qasba

Tiket the Eye of the Emirates Wheel, dewasa 30 dhs dan anak-anak 15 dhs. Kita bisa menikmati 5 kali putaran roda di dalam kabin berpendingin ruangan. Tadinya saya kira akan 7 kali putaran sama seperti tawaf.

Kami makan malam di resto Jepang dengan menu nasi. Harus nasi karena kami sudah kelaparan dan makannya harus yang nampol.

Setelah kenyang, kami bergerak menuju Majaz Waterfront tempat janjian Ayah dengan temannya. Sambil berjalan, saya coba celingak-celinguk mencari hop on hop off bus yang katanya bisa naik dari Al Qasba. Pencarian nihil malam itu, kami terus berjalan sampai di suatu titik Ayah mengajak kami naik taksi ke Majaz Waterfront karena setelah dicek di mbah google map, lokasinya masih jauh.

Bermalam takbiran di Majaz Waterfront

Kami janjian di Tim Hortons yang ternyata memang lokasinya sangat dekat dengan air mancur menari.

Air mancur manari selesai dan Tole pun bosan. Kami bergerak ke arah playground. Dengan membayar 20 dhs, Tole bisa masuk ke area playground. Lebih lengkap tentang Majaz Waterfront ada di http://almajaz.ae/

03. Majaz Waterfront

Hari semakin larut, kami kembali ke peraduannya masing-masing. Besok kami harus bangun pagi-pagi untuk shalat Idul Adha.

Tempat Belajar Bahasa Arab di Abu Dhabi

Tinggal di Abu Dhabi membuat saya ingin belajar bahasa Arab terutama untuk percakapan sehari-hari walaupun hampir semua orang di Abu Dhabi bisa berbahasa Inggris. Target jangka panjang adalah ingin bisa mengerti bahasa Al Quran.

Sebelum memutuskan di mana saya belajar, saya mencoba mencari informasi tempat belajar bahasa Arab di Abu Dhabi. Dan yang menjadi pertimbangan pemilihan adalah lokasi, jam belajar, dan biaya.

Berikut adalah informasi tempat belajar bahasa Arab yang ada di Abu Dhabi :

  1. Zayed House for Islamic Culture.

Lokasinya tak jauh dari seberang Carrefour Airport Road. Belajar bahasa Arab di sini gratis dan ada bis jemputan. Durasi belajar satu level adalah 32 jam yang diselesaikan dalam 2 bulan.

No telp: +971 2 6995666

Website : www.zhic.ae

  1. The New Muslim Centre.

Lokasinya di sebuah mesjid di belakang Madinat Zayed Shopping Center. Belajar bahasa Arab di sini juga gratis. Kelas hanya ada di hari Jumat dan dimulai setelah Ashar. Untuk kelas yang lebih tinggi levelnya, kelas berlangsung antara Maghib dan Isya.

  1. Mother Tongue Arabic Language Center.

Menurut review yang saya baca, inilah tempat belajar bahasa Arab di Abu Dhabi. Lokasinya di Bin Fardan Tower, Zayed the 1st Street, Khalidiyah.

Semua informasi di websitenya cukup jelas, dari biaya, placement test, jam belajar dan kurikulumnya. Durasi belajar satu level adalah 30 jam yang diselesaikan dalam 5 minggu untuk level dasar. Biaya mulai dari 1900 dhs untuk 30 jam pertemuan.

No telp: +971 2 6393838

Website : http://www.mothertongue.ae/

  1. Iqraa Arabic Learning Institute.

Lokasinya berada di pojokan pertemuan antara Airport Road dan Dalma Street, dekat dengan Mushriff Park. Durasi belajar satu level adalah 24 jam yang diselesaikan dalam 6 minggu. Biaya mulai dari 700 dhs untuk 24 jam pertemuan.

No telp : +971 2 4467220

Email : iqraacnt@eim.net.ae

  1. Eton Institute.

Lokasinya dekat dengan Khalifa Park, Level 2, Park Rotana Building. Lokasinya cukup jauh dari kota Abu Dhabi. Durasi belajar satu level adalah 30 jam, sekali pertemuan 2 jam dan seminggu bisa 2 atau 3 kali pertemuan. Biaya mulai dari 1500 dhs untuk 30 jam pertemuan.

No telp. : +971 2 4499649

Website : https://www.etoninstitute.com/ae

Ada beberapa informasi tempat belajar bahasa Arab lainnya, tetapi karena informasinya tidak cukup jelas buat saya maka tidak saya ikutkan dalam catatan saya ini. Catatan di atas akan bertambah apabila saya mendapatkan informasi baru.

Semoga informasi ini berguna dan bisa menjadi catatan buat saya.

Referensi :

  1. Brosur Zayed House for Islamic Culture.
  2. Brosur Iqraa Arabic Learning Institute.
  3. http://www.abudhabihalalactivities.com/p/arabic-classes.html
  4. http://www.timeoutabudhabi.com/community/features/49387-where-to-learn-a-language-in-abu-dhabi
  5. Website masing-masing lembaga.

 

Keliling Dunia di Global Village, Dubai

6 Februari 2015

Global Village adalah pasar malam di Dubai. Global Village terdiri dari paviliun-paviliun berbagai negara di dunia dengan dekorasi yang menawan. Sayangnya negara Indonesia tidak turut meramaikan pasar malam ini.

Global Village tidak dibuka sepanjang tahun. Untuk periode kali ini Global Village dibuka dari tanggal 6 November 2014 sampai dengan 11 April 2015.

Kami berangkat sekitar jam 2 siang dari Abu Dhabi terminal menuju terminal Al Ghubaiba dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Tiba di terminal Al Ghubaiba, kami langsung mencari shuttle bus yang menurut infomasi disediakan oleh pihak Global Village dan gratis. Kami melihat bis tanpa nomer dengan gambar dan tulisan besar “Welcome to Global Village”. Bis tersebut terparkir dengan pintu depan terbuka, mesin mati, tanpa supir dan tanpa penumpang. Kami celingak celinguk mencari supirnya. Dan tidak ada orang yang mengaku sebagai supir bis tersebut.

Kami berjalan menuju informasi. Kami melihat pengumuman, bis dengan tujuan Global Village adalah bis dengan nomer 104.

Kami menuju halte bis. Sudah banyak orang menanti bis 104. Tak sampai 10 menit, bis 104 datang. Penumpang mengantri dengan tertib untuk masuk ke dalam bis. Kursi penumpang telah penuh, tetapi antrian masih panjang. Beberapa tetap masuk ke dalam bis, dan beberapa yang lain lebih memilih menunggu bis berikutnya agar dapat tempat duduk.

30 menit kemudian, kami tiba di tempat pemberhentian bis Global Village. Dengan berjalan kaki sebentar, kami sudah berada di pintu masuk yang di sebelahnya adalah tempat beli tiket.

Begitu masuk ke Global Village, sebelah kiri ada tempat sholat dan toilet umum dan sebelah kanan ada heritage village yang menggambarkan kehidupan orang Arab di masa lampau dan saat itu sedang ada pertunjukan bapak-bapak menari, bernyanyi, dan memainkan alat musik.

Keliling dunia kami dimulai dari Negara Qatar yang isinya adalah stand-stand penjual abaya, pakaian, dan makanan-makanan. Selanjutnya kami melewati paviliun Irak dan Bahrain.

01

Suara patung gorila yang menggelegar membuat Tole ingin mendekat ke arah gorila itu. Dan di situlah letak pintu masuk Animal Land. Animal Land ini ceritanya kebun binatang yang di dalamnya ada patung binatang dengan efek suara, goyang kepala atau membelalakan matanya.

02

Keluar dari Animal Land, kami masuk ke paviliun Iran. Paviliun Kuwait kami lewati saja. Kami harus memilih pavilun mana saja yang kira-kira menarik untuk dikunjungi karena tidak mungkin kami masuk ke dalam semua paviliun.

Hari mulai gelap, kami tiba di sebuah kolam besar. Kami duduk-duduk di pinggirnya sambil memakan perbekalan yang kami bawa. Tak sampai 5 menit, air mancur mulai menari-nari yang diikuti dengan tarian bebas Tole. Sampai salah seorang pengunjungnya lebih memilih menonton Tole menari di keremangan malam daripada menonton air mancur. Air mancur selesai menari, Tole pun menyudahi tariannya dengan disambut tepuk tangan penonton satu-satunya Tole. Langsung Tole memeluk saya karena malu.

03

Kami belum beranjak dari pinggir kolam dan terlihat oleh kami paviliun-pavilun Pakistan dan Yaman. Kami melihat peta dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun Abra dengan melewati paviliun Mesir dan Lebanon.

Setelah membeli tiket Abra, kami masih harus menunggu giliran. Dan karena kemakan omongan seorang kawan, jadilah kami masuk ke pavilun Yaman untuk berburu madu Yaman. Kami singgah di salah satu stand madu, penjaganya terlalu agresif menjajakan madunya yang membuat kami merasa kurang nyaman. Walaupun akhirnya kami tetap membeli madu di situ dengan alasan supaya kami bisa segera kembali ke stasiun Abra. Kami membeli 3 macam madu, masing-masing dalam satu wadah terkecil dengan ukuran ¼ kg. Penjaga stand tersebut masih merayu kami untuk membeli lebih banyak lagi, kami tetap tidak mau. Dan penjaga stand tersebut bilang, “kamu cuma beli segitu karena tidak punya uang ya?”

04

Kami segera keluar dari paviliun Yaman menuju stasiun Abra. Kami tidak perlu menunggu lama untuk mendapat giliran naik abra. Keliling dunia dengan abra segera dimulai. Dari abra kami dapat memandang paviliun Pakistan, Yaman, UAE, KSA, India, Mesir, Lebanon, Syiria, Maroko, Tunisia.

05

Keliling dunia dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kami melewati paviliun Thailand, Kamboja, Filipina dan mampir ke paviliun Eropa yang menjual berbagai suvenir nuansa Eropa dengan dominasi suvenir dari Inggris. Saya coba masuk ke dalam paviliun Itali, ternyata yang dijual adalah miniatur menara Eiffel. Kami berjalan lagi melewati paviliun Spanyol dan Jordan, berhenti dan masuk di paviliun Malaysia & Singapura. Masuk ke paviliun Malaysia & Singapura serasa masuk ke ITC.

06

Setelah melewati paviliun China dan Afrika, kami tiba di pintu keluar Global Village dan jam sudah menunjukkan pukul 8.30 malam.

Ada beberapa paviliun yang luput dari pandangan seperti paviliun Turki dan Afganistan. Tapi kami harus segera pulang ke Abu Dhabi

Kami berjalan menuju halte bis. Hanya bis dengan nomer 103 jurusan Union, Dubai yang ada di halte. Karena tidak tahu sampai kapan bis 104 datang, maka kami memutus kan naik taksi menuju terminal Ibn Batuta, Dubai.

Ternyata terminal Ibn Batuta jauh dari Global Village…!!

Kami sampai di terminal Ibn Batuta sekitar jam 9.30 malam. Antrian bis menuju Abu Dhabi sangat panjang. Sampai bis penuh, antrian masih tetap penuh. Dan bis berangkat ke Abu Dhabi jam 10 malam, sesuai jadwal.

Kami harus menunggu bis yang jam 11 malam atau bis yang terakhir. Bisa saja kami naik taksi sharing, tetapi Ayah lebih memilih naik bis. Saya dan Tole ikut saja.

Alhamdulillah kami masih bisa naik bis yang jam 11 malam dan sampai di Abu Dhabi sudah lewat tengah malam. Tentu saja Tole sudah lelap di alam mimpi.

Hikmah Kompor Listrik

Kami memutuskan menggunakan kompor listrik dengan alasan kepraktisan. Kepraktisan di sini bukan dari segi waktu dan cara mengoperasikan kompor. Tetapi lebih karena untuk mengurangi hal yang harus diurus Ayah saat-saat awal kedatangannya di Abu Dhabi. Penggunaan gas di Abu Dhabi harus dengan pemasangan instalasi dan berlangganan. Berbeda dengan di Jakarta, beli gas tabung lalu langsung pasang ke kompor dan kompor siap digunakan.

Saya sudah tahu bagaimana rasanya bergulat dengan kompor listrik. Saya pernah menggunakannya selama sekitar 2 tahun waktu di Yokohama. Waktu itu saya masih bujang dan masak bukanlah sesuatu hal yang harus dikerjakan setiap hari.

Saat di Abu Dhabi, masak adalah wajib dikerjakan setiap hari terutama untuk makanan Tole. Awalnya saya merasa memasak adalah pekerjaan yang sangat menyita waktu. Butuh waktu lebih lama agar kompor panas dan saya merasa kesulitan mengatur panas kompor.

Sekarang saya merasa bersyukur menggunakan kompor listrik. Pertama : permukaan elemen panas kompor rata, maka saya merasa lebih aman kalau Tole ikut membantu memasak di dapur. Kedua : karena untuk menjadi panas cukup lama, maka pekerjaan memasak adalah pekerjaan yang bisa disambi. Sambil memasak sambil nyetrika baju. Sambil memasak bisa sambil menjemur. Sambil memasak bisa sambil memandikan Tole.

Saya lebih memilih pekerjaan “kering” untuk disambi dengan memasak. Andai saya menggunakan kompor gas, saya harus fokus pada pekerjaan memasak saja baru bisa beralih ke pekerjaan lain.

Kompor listrik mengajarkan saya untuk lebih bersabar dan mencari solusi di setiap problemanya.